Rabu, 11 Mei 2016

Suara Sepi dan Bintang Malam

Dua bulan yang lalu….

Hari ini saya bangun pagi. Matahari terbit dari belakang pohon-pohon kelapa yang  masih berupa bayangan hitam. Langit di balik pohon-pohon itu warnanya oranye menyala, begitu juga awan biru kelabu di atasnya dihiasi dengan warna oranye di sana-sini. Saya buka jendela untuk melihat lebih jelas. Udara yang dingin membuat saya benar-benar bangun sekarang. Terus turun ke lantai bawah untuk duduk selonjoran di teras. Hari masih gelap.  Lama-lama semakin terang namun tetap sepi, tidak seperti biasanya. Ada gonggongan satu kali di depan pintu pagar. Jack minta dibukakan pintu. Terdengar bunyi napasnya yang keras dan kalung di lehernya mendentingkan suara logam. Karena hari ini hari Nyepi saya tidak membuka pintu untuk Jack. Setelah menunggu beberapa menit Jack  pergi lagi dan suara kukunya di jalan setapak semakin jauh. Dia juga tidak terlalu ngotot minta masuk, tidak seperti biasa.

Wind chimes bambu saya bergoyang ditiup angin. Bambunya saling bersentuhan menghasilkan bunyi yang halus sekali. Sekaligus juga terdengar desir angin di telinga, juga sangat halus. Lalu, “brrr…..” seekor burung terbang dari arah kanan, melintas di depan saya terus hinggap di atas daun palem. “Brrr…” dia terbang lagi untuk pindah berdiri di kabel listrik. Tonggeret, serangga berbunyi nyaring yang tidak pernah kelihatan wujudnya tapi sering terdengar waktu hari sedang panas-panasnya, sudah berbunyi padahal ini masih pagi. Banyak sekali yang saya baru tahu. Wind chimes  ternyata sering berbunyi, cuma biasanya bunyinya terlalu halus untuk didengar. Angin tidak perlu bertiup keras dulu untuk terdengar. Kibasan sayap burung yang terbang selalu ada bunyinya. Dan ternyata tonggeret berbunyi juga di pagi hari. Suara-suara yang baru bisa terdengar kalau sepi sekali seperti hari ini.

Ada tawon terbang dekat sekali ke saya. Badan saya sampai mengerut takut disengat. Dia sering datang sebelumnya ke dalam rumah. Atau mungkin salah satu dari teman-temannya yang datang, karena tampang mereka semuanya sama. Sekarang dia terbang menjauh dan berputar-putar di sekitar pohon kembang sepatu yang berbunga banyak. Dari tempat saya berbaring kelihatan kakinya bergerak-gerak dan dada serta kepalanya agak menyeramkan seperti alien. Burung kuning pengisap madu ada di kembang sebelahnya, melayang di tempat dengan sayap bergerak terus. Dia berakrobat dengan kepala di bawah supaya bisa mengambil madu bunga yang tumbuhnya juga terbalik ke bawah. Ayam jago dan anjing suaranya sayup di kejauhan. Hari ini memang harinya alam, harinya tumbuhan dan hewan. Manusia dilarang keluar, dikurung dan diam-diam saja di sarangnya, tidak boleh mengumandangkan suara bisingnya ke mana-mana.

Seekor bebek di sawah senang sekali dengan suasana seperti itu. Dia berkwekkwek dengan bawel, semakin lama semakin keras. Anehnya bebek itu sendirian berbunyi, lama-lama capek sendiri dan akhirnya diam. Waktu saya masuk ke kamar mandi dan cuci tangan di wastafel kedengaran suara burung-burung mencicit pas di atas kepala di atas genteng. Pasti mereka punya sarang di sana. Terdengar suara paruhnya mematuk-matuk dan kaki-kaki berjalan menghentak. Cicit-cicit semakin keras begitu juga suara sayap-sayap yang dikebaskan. Angry birds. Saya sudah lama tahu bahwa sebenarnya banyak burung bukan pecinta damai. Mereka berisik dan suka ribut-ribut. Pasti kartun angry birds dibuat berdasarkan karakter yang benar-benar nyata. Burung-burung di atas atap itu ribut terus dengan paruh mematuk-matuk, kaki menjejak-jejak dan sayap dikibas-kibaskan untuk mengancam yang lain. Saya tinggalkan mereka untuk terus ribut dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Yang saya heran adalah suara kentongan yang suaranya sayup-sayup terdengar di kejauhan. Suara itu sepertinya salah waktu. Sampai akhirnya saya ingat, pagi ini juga ada gerhana matahari meskipun bukan gerhana total. Mestinya sekarang masih berlangsung. Saya naik ke lantai atas supaya bisa melihat dengan jelas. Dengan mengenakan kacamata hitam dan membuat lubang kecil dengan jari-jari tangan supaya bisa melihat melaluinya, cahaya matahari yang menyilaukan bisa tersaring. Matahari kelihatan tidak bulat utuh melainkan tertutup oleh bayangan hitam sebagian. Di luar keadaan jadi redup. Kentongan pun diam tak lama kemudian.

Bingung juga mau mengerjakan apa hari ini. Menyalakan api dan lampu adalah salah satu larangan di hari ini, juga larangan mendengar hiburan, bekerja dan bepergian. Karena saya bukan orang Bali saya rasa saya bebas dari pantangan memasak di hari Nyepi. Rencananya saya mau  masak yang sederhana saja. Kalau rumah sudah saya bersihkan sehari sebelumnya. Saya hidupkan musik tapi pelan supaya tidak terdengar dari luar. Setelah baca-baca sedikit, masak dan makan, saya pergi ke lorong yang tembus dari halaman saya menuju pagar yang membatasi rumah Mawar. Saya lihat dia sedang duduk di tangga makan salad. Kami terus bicara mengenai pompa air yang rusak dan baru bisa diperbaiki besok karena semua kegiatan berhenti hari ini. Mawar menyorongkan mangkuk saladnya melalui jeruji pagar supaya bisa saya cicipi. Setelah itu saya kembali lagi ke rumah.

Sekitar jam lima saya mendengar orang-orang ribut mengobrol di saung yang ada di sawah di belakang rumah. Suaranya terdengar terus lama sekali. Saya pasang musik lagi sambil tiduran di lantai. Sejuknya lantai menembus baju dan terasa dingin di punggung. Lalu saya keluar rumah untuk jalan-jalan sedikit, mumpung matahari masih bersinar. Orang-orang yang berkumpul itu pergi menjauh. Suaranya yang berlogat ibukota nyaring terdengar sampai mereka masuk ke sebuah rumah. Mereka tamu di rumah itu. Pasti buat mereka suasana hari Nyepi ini merupakan sensasi tersendiri, tapi saya akan lebih suka kalau mereka juga menghormatinya dengan bicara pelan-pelan kalau sedang berada di luar rumah. Seorang Bali yang tadi menyertai rombongan dari Jakarta itu menyapa saya dan mengingatkan supaya saya kembali masuk ke rumah sebelum gelap. Sebenarnya saya mau menyindirnya karena sudah membiarkan orang-orang tadi merusak suasana Nyepi tapi sekarang dia malah menyuruh saya cepat-cepat pulang. Tapi saya diam saja dan cuma mengangguk.

Malam sudah datang. Saya keluar untuk berbaring di teras. Di langit saya bisa melihat bintang-bintang yang terlihat lebih cemerlang dari biasanya.  Tapi daun dari pohon-pohon menghalangi pandangan, jadi saya masuk lagi ke dalam rumah dan naik ke lantai atas. Saya buka jendela. Luar biasa. Tidak pernah saya melihat bintang bertebaran sebanyak dan secemerlang itu. Jadi benar apa kata orang. Cahaya lampu di daratan sudah terlalu banyak. Mulai dari lampu rumah yang seringnya dinyalakan secara berlebihan, lampu jalanan dan lampu dari gedung-gedung lainnya. Semua cahaya ini dipantulkan ke langit dan menghalangi orang untuk bisa melihat benda-benda langit dengan jelas dan seperti apa adanya. Dengan suasana gelap seperti sekarang, bintang tak pernah terlihat sebanyak itu, secemerlang itu, dan anehnya, sedekat itu. Saya terus memandang ke langit atau ke sawah. Lalu saya matikan lampu kamar tidur, lampu terakhir yang menyala di rumah saya. Lampu di  rumah besar di seberang sawah juga menyusul dimatikan. Tidak ada hiburan malam ini, jadi orang cepat tidur. Gelap sekali. Sekarang rumah itu hanya berupa bayang-bayang hitam di kejauhan. Saya pindah ke jendela lain supaya bisa melihat dari arah lain. Di sini bangunannya lebih banyak, tapi suasana juga gelap. Beberapa rumah di sekeliling sawah hanya menyalakan lampu seperlunya, di ruangan di mana orang-orang berkumpul. Satu lagi lampu di sebuah rumah dimatikan. Siluetnya sekarang lebih hitam dari sekitarnya yang sudah hitam.


Waktunya tidur. Cuma bintang-bintang yang terus bersinar tanpa peduli, entah ada yang mengagumi atau tidak. Jangkrik dan kodok terus bernyanyi sepanjang malam. Besoknya pagi-pagi sekali, begitu bangun sudah ada pesan yang masuk di grup WA. Katanya, “lega banget, akhirnya bebaaasss. Seharian terkurung cuma bisa skype-an sama ngoprek komputer.” Sedangkan pesan lain lagi yang masuk bilang, “aku lihat bintang tadi malam. Bagus banget. Banyak lagi”.  Ya, memang bagus. Untung tadi malam langit tidak berawan jadi bintang bisa terlihat dengan jelas. Kesimpulannya, ada yang suka Hari Nyepi, ada yang menganggap beban. Kalau saya sih suka.

Kamis, 07 April 2016

Angin, Panas, dan Hujan

Di musim panas yang tidak selesai-selesai setiap hujan terasa seperti berkah. Setelah satu minggu tugas di luar kota, saya sampai di rumah lagi sekitar jam tujuh malam dan cepat-cepat mandi, makan, dan… tidur. Enak sekali rasanya bisa kembali ke tempat tidur di kamar sendiri. Seminggu lamanya saya hampir selalu ada di ruang kalengan. Kamar hotel, taksi, ruang kantor, semuanya ruang tertutup yang berAC. Kalau sekali-sekali keluar dari kantor udaranya panas sekali dan mata jadi silau kalau memandang keluar. Malamnya pasti terbangun dan susah untuk tidur lagi. Sekarang, bisa tidur di ranjang dan kamar sendiri rasanya seperti di surga. Malam-malam saya terbangun. Membuka mata setengah, dan kemudian merem lagi karena masih ngantuk. Angin yang berhembus terasa dingin. Selimut yang tadi malam ditendang keras-keras sekarang ditarik rapat-rapat. Terus berpikir, “Hujan, hmmm…” dan kembali tidur. Suara hujan jadi latar belakang. Saya beneran bangun dalam keadaan sudah segar. Dan untuk kesekian kali masih juga berpikir, “Enak sekali bisa tidur di sini.” Waktu lewat dekat jendela kaca yang gordennya sudah terbuka sejak semalam dan melihat deretan pohon kelapa dan sawah rasanya ingin mengumumkan lagi dengan keras, “senangnya di sini lagi!”

Sayangnya hujan cuma turun sebentar-sebentar dan jarang-jarang. Udara malah sehari-harinya jadi makin panas. Malam hari, kalau sedang siap-siap dandan untuk acara keluar, begitu muka dikeringkan dengan tisu untuk menyerap keringat begitu pula langsung keringatan lagi. Terpaksa krem muka tetap dioles dan diratakan meskipun teksturnya terasa aneh di muka karena basah sekali campur keringat. Kasih bedak saja dan ditepuk-tepuk dengan tisu. Lalu masukkan tisu yang banyak ke dalam tas untuk bekal. Apalagi kalau habis jalan agak lama. Saya jadi suka jalan akhir-akhir ini. Biasanya saya pilih waktu sore hari sekitar jam enam waktu udara tidak panas untuk pergi ke ATM, supermarket atau beli jajanan yang agak jauh. Pulangnya sudah jam tujuh dan agak gelap. Tapi kadang-kadang saya jalan kaki lebih siang waktu udara sedang panas dan harus buru-buru karena jam kursus nari di studio hampir mulai. Akibatnya keringat sebesar biji jagung muncul berderet-deret di dahi, hidung, dan bawah hidung. Sampai di studio saya dikira sakit. Ada yang minta ijin menempelkan tangan di dahi untuk mengecek apa saya demam.

Masih hari yang panas. Saya sibuk kipas-kipas dari tadi dan keringat mengalir di leher meskipun sudah pakai baju tipis. Saya keluar supaya muka dan badan sedikit adem. Percuma. Duduk di teras, jangankan bisa merasakan angin berhembus, di dalam badan serasa ada ovennya dan saya yakin kulit saya juga mengeluarkan uap kalau saja bisa terlihat. Tiba-tiba tanpa peringatan apapun angin mengamuk dan mengeluarkan suara keras whhuuuuuuuushhhhh. Jack terbirit-birit mendobrak pintu yang tertutup tapi tidak dikunci dan langsung meringkuk di pojok. Saya tidak tega mengusirnya keluar. Saya berdiri sambil diam mendengarkan. Seram suaranya. Hujan turun. Saya menyusul Jack ke dalam dan berdiri di bawah tangga. Percikan air menyiram muka. Ternyata jendela di lantai atas terbuka, hujan turun dan dihembus angin masuk ke rumah sampai menciprati saya. Saya lari ke atas. Gorden berkibar-kibar liar dihantam angin. Bersusah payah saya menutup jendela sambil berusaha tidak menjadi terlalu basah. Dari balik jendela kaca saya melihat serombongan burung bangau yang sedang terbang ke arah utara dibalikkan arah terbangnya ke barat oleh angin yang berputar-putar. Mereka mengembangkan dan menegakkan sayap ke arah datangnya angin supaya tidak terhempas dan bersusah payah untuk tetap mengudara. Seekor yang masih berusaha terbang ke utara mengibaskan sayapnya kuat-kuat, maju mundur, naik turun dipermainkan angin. Saya memandang dan mengagumi badai di luar. Langit berwarna abu-abu gelap dan deretan pohon kelapa di kejauhan tidak jelas terlihat dihalangi air hujan yang tiba-tiba menjadi sangat lebat turunnya. Warna-warna cerah dan segar serta cahaya matahari panas tiba-tiba lenyap digantikan energi yang campur aduk, mau tidak mau membuat orang kagum sekaligus takut. Kilat menyambar dan guruh menggelegar. Tidak lama, semua itu berhenti. Hujan dan angin berhenti. Matahari bersinar dan besoknya udara panas lagi berhari-hari.

Sedihnya, hujan yang sangat diharapkan tapi jarang turun itu membuat sawah di depan rumah tidak ditanami. Alang-alang memenuhi sawah sampai tinggi sekali. Padahal petak sawah di sebelah sana sedikit semuanya ditanami dan padinya sekarang sudah siap untuk dipanen. Setiap kali ditanya kenapa tidak tanam padi, jawabannya selalu karena tidak ada air. Padahal air bergemericik mengalir terus di saluran irigasi. Saya tidak pernah kekurangan air untuk mandi dan cuci. Juga untuk menyiram tanaman dengan selang air, walaupun kebiasaan saya adalah berhemat dan berusaha tidak banyak buang-buang air. Tapi rupanya itu masih kurang. Air cukup untuk mengairi sebagian sawah saja, yang lain harus menunggu giliran di musim berikutnya. Kalau untuk perhitungan seperti ini mereka tidak mungkin salah. Subak di Bali sudah terkenal dan bisa dipercaya.

Musim kemarau bagusnya cuma satu. Pohon bugenvil saya bunganya keluar banyak sekali dan warnanya cemerlang, asal saja tidak lupa disirami. Kalau sedang tertimpa sinar matahari yang sangat terik warnanya malah semakin keluar. Kalau musim hujan biasanya yang rimbun daunnya saja. Namun akhirnya perubahan terjadi juga. Sementara orang mulai panen padi di sawah yang duluan ditanami, sawah di depan rumah saya mulai diolah. Rumputnya yang keterlaluan tingginya dipotong dengan mesin yang sudah seminggu baru selesai. Lalu dibajak, dengan mesin juga. Sempat berhenti karena mereka ragu apakah akan diteruskan karena jumlah air belum seperti yang diharapkan. Untung kemudian dilanjutkan lagi. Seseorang ditugaskan untuk mengawasi aliran air. Di sudut sawah bibit padi ditumbuhkan dulu, dan beberapa hari kemudian dipindahkan di seluruh petak sawah dengan jarak tertentu. Nah. Akhirnya ditanami juga. Selain itu udara sudah terasa lebih dingin sekarang, dan dingin sekali menjelang subuh. Angin kencang datang lagi.

Saya tidak terlalu memperhatikan tapi saya yakin sudah beberapa bulan angin kencang ini tidak terdengar. Untuk orang yang baru pertama kali mendengar akan banyak yang mengira itu adalah suara truk di kejauhan. Tapi itu bukan truk. Itu angin. Kalau sedang bertiup, suaranya bisa menyeramkan atau menyedihkan seperti orang melolong, tergantung orang yang mengartikan. Saya sudah terbiasa sekarang, tidak seperti dulu yang agak takut juga mendengarnya. Malah tanpa sadar saya berharap mendengarnya lagi setelah beberapa bulan tidak ada. Jack jadi aneh tingkahnya sebelum angin ini datang. Dia gelisah dan mencium-cium udara. Waktu angin ini benar-benar bertiup dan melolong dia lupa semua aturan dan menghantamkan badannya ke pintu supaya bisa masuk.



Jack sedang suka bersikap aneh. Kemarin waktu pergi ke sawah dia tidak mau ikut ke arah yang saya pilih dan lari waktu dipanggil. Terpaksa saya mengikuti dia ke sawah yang dipilihnya dan dia pergi bersenang-senang semaunya. Saya tidak begitu suka karena di sini rumputnya tumbuh terlalu tinggi, membuat saya berpikir apa yang mungkin ada di baliknya. Saya ingin tahu apa jadinya kalau Jack diikat dengan tali dan saya yang menuntunnya jalan-jalan ke mana saya suka. Sayang saya tidak mungkin tahu, karena pasti tidak diijinkan oleh yang punya. Dia punya prinsip anjing tidak boleh diikat. Saya lihat ke sebelah. Ada bambu setinggi satu meter ditegakkan di antara padi-padi yang kuning. Bambu itu  dikerat runcing ujungnya dan di sana seekor kepiting tertusuk mati. Semeter dari sana daun kelapa diberdirikan. Setiap helai daunnya dipotong pendek meninggalkan hanya lidi, dan di situ ditusukkan juga beberapa kepiting mati. Masih ada beberapa daun kelapa berisi kepiting berdiri agak berjauhan di antara padi. Kepiting memang banyak berkeliaran di saluran irigasi dan pinggir sawah. Apakah ini persembahan untuk dewi padi menjelang panen? Saya merasa seram. Saya panggil Jack tapi suara saya tidak bisa keras. Mana bisa Jack mendengar. Saya panggil lagi dia. Jack tidak mau datang. Dia tetap lari-lari sendiri meskipun sudah melihat saya. Udara terasa berat dan padat dan bisikannya di antara daun seakan menggeram menyuruh saya pergi. Saya putuskan untuk pulang saja, merasa kurang diterima dengan ramah kali ini.

Jumat, 01 April 2016

Jack dan Kucing

Cerita Bergambar

Berkat gojek yang bisa disuruh-suruh bisalah sekali-sekali makan malam macam-macam di rumah





Ada kucing ingin bergabung







Lo mana dia?







Eh udah di sana dia sekarang







Lo ilang lagi?





Guk guk guk! Warf warf! Hffft! Shchsttt! Scruiit! Gubrak & krompyaang!





Mana! Mana kucing tadi?! Udah pergi kan?






Di sana gak ada. Ya, beneran gak ada.






Di sana juga gak ada...yakin!







Sudah... makanlah lagi. Saya jagain di sini siapa tahu kucing brengsek itu dateng lagi.

Saya: Sok tau kamu Jack. Aku kan suka sama kucing tadi <keluh>

Rabu, 09 Maret 2016

Yang Lebay

Dalam perjalanan dari Ubud ke bandara menggunakan travel, sebagian besar penumpang turun di Sanur untuk menyeberang dengan kapal dan melanjutkan perjalanan mereka ke Nusa Penida. Cuma tinggal saya dan seorang perempuan yang tidak turun. Lalu kami ngobrol. Dia masih muda, orang Belanda yang liburan di Bali dua minggu. Di Ubud sendiri cuma sekitar lima hari. Dia minta pada sopir untuk diturunkan nanti di jalan karena tujuannya yang sebenarnya adalah Uluwatu. Dia bisa melanjutkan dengan taksi. Saya menanyakan kesannya tentang Ubud. Dia menimbang-nimbang lalu bilang, orang-orang ekspat yang ditemuinya semuanya berasal dari satu golongan. “Maksudnya?” tanya saya. Dia menjawab semuanya perempuan dan single. Saya mengerutkan kening. Saya bilang banyak yang berkeluarga, banyak yang laki-laki, yang punya anak, bahkan berusia lanjut. Dia kelihatan ragu dengan penjelasan saya. Dia bilang orang-orang itu dikenalnya dari sebuah tempat yang populer dengan kegiatan yoganya. Ah, pantesan. Para perempuan kalau sudah membentuk klik memang lengket dan kerap bersama-sama. Saya sendiri sering bertanya-tanya apa yang sebenarnya dilakukan oleh orang-orang ini, terutama yang muda, di Ubud. Kenapa mereka membuang waktu, meninggalkan negaranya, tidak kuliah atau berkarir di negaranya sendiri?

“Mereka itu too sweet,” kata kenalan baru saya. Mukanya bimbang, mungkin membayangkan orang-orang yang baru dikenalnya. Saya tidak heran. Mereka memang manis sekali. Bicara tentang persaudaraan, cinta kasih universal, mother earth, berpelukan erat setiap ketemu siapa saja baik laki-laki atau perempuan. Makanan vegan bahkan mentah adalah topik bahasan kegemaran mereka. Anti susu, anti daging, anti pemanfaatan hewan untuk pemenuhan selera manusia. Bagaimana tidak sweet coba, semua itu? Seorang teman saya cukup lama bekerja sebagai pengasuh dua anak dari seorang perempuan Rusia yang masih muda dan cantik (perempuan Rusia memang banyak yang cantik). Dia cerita bahwa kedua anak asuhannya sudah vegetarian sejak kecil dan suka cemilan berupa wortel dan brokoli mentah. Sehat sekali. Ayah mereka datang sekali-sekali saja ke Bali. Ibu muda ini sering bertengkar dengan suaminya mengenai gaya hidup yang berbeda. Dia keluar hampir tiap malam dengan kelompoknya. Mereka berpakaian longgar berimpel-rimpel, memakai gelang, kalung, gelang kaki manik-manik, dan suka menari dan menyanyi di sekeliling api unggun kalau purnama tiba. Mereka mengadakan ritual yang dikarang sendiri, upacara menjelang melahirkan. Pesertanya mengenakan rok atau celana panjang bercorak etnik. Atasannya ketat atau minim. Ada bunga-bunga, dupa, gong kecil, tarian dan nyanyian pujaan.

“Pekerjaannya apa?” tanya saya bersemangat ingin tahu. Teman saya bilang, dia model untuk katalog yang tentu ordernya tidak didapat tiap hari. Sepertinya perempuan ini menganggap suaminya kurang spiritualis dan terlalu keduniawian. Suaminya membalas dengan mengurangi jatah bulanan, sehingga ibu dan anak harus pindah ke rumah yang tidak ada kolam renangnya lagi. Bagaimanapun perempuan Rusia ini tidak bisa seenaknya sendiri karena sudah punya anak. Akhirnya mereka pindah ke Rusia, mungkin demi kebaikan anak-anaknya juga. Kalau yang single memang suka sembarangan dan bukan-bukan. Berombongan pergi ke danau di bawah sebuah air terjun, berenang-renang di sana, menyatakan cintanya pada Bali dan tidak ingin meninggalkan pulau ini selamanya, lalu… membuang paspornya ke danau! Untung ada seorang yang waras dalam rombongan itu yang cepat-cepat terjun menyelamatkan paspor itu.

Pernah saya diajak ke sebuah warung vegan. Saya pilih nasi campur yang seharusnya asli Bali tapi rasanya tidak bali. Ada rempah yang tidak biasa ada, baik di masakan padang, jawa, sunda, atau bali. Saya menyebutnya rempah rasa yoga, meskipun mungkin lebih tepat kalau disebut rasa india. Menu bali rasa india ini dipandang cocok untuk restoran yang sering dikunjungi para vegan yang berminat pada yoga, meditasi, dan hidup penuh cinta. Apa hubungannya pikir saja sendiri. Menunggu hidangan datang di tempat ini lama sekali. Saya jadi sempat jelalatan melihati orang-orang. Ada cewek bule yang manis tapi sayangnya kurang merawat diri. Rambut panjangnya seperti sudah sebulan tidak dicuci. Dia nyeker dan mengenakan rok sifon berbunga-bunga yang sobek-sobek dan diikat dengan tali rombeng di pinggangnya karena rok ini kepanjangan, jadi harus ditarik ke atas supaya tidak keserimpet waktu jalan. Temannya yang laki-laki langsung duduk di bantal untuk bermeditasi dan sekali-sekali mengeluarkan suara keras seperti orang sedang ngedan. Rambut rastanya yang panjang digulung di atas kepala. Lalu terdengar sekilas pembicaraan mereka. “Kamu harus dengar tentang vision yang saya dapatkan tadi malam,” kata yang seorang.

Saya malas mendengar kelanjutannya lalu pindah memperhatikan perempuan lain yang duduk sendirian di atas bantal. Dia hampir menghabiskan semangkuk besar salad. Setiap gerakan menyendok sayur dan mengunyah dilakukannya secara meditatif. Pandangannya lurus ke depan. Lalu dia mengeluarkan pil-pil dari botol, ampun, banyak amat, menaruhnya dalam kepalan tangan dan sepertinya meminta semesta untuk memberkati pil-pil itu dengan mata tertutup. Kemudian ditelan dengan bantuan air. Perempuan ini jauh lebih enak dilihat dari yang pertama tadi. Dia bersih dan mengenakan pakaian yoga yang ketat dan mahal. Saya jadi berpikir untuk beli celana ketat seperti itu juga, yang punya bolong-bolong artistik di sisi luarnya. Saya juga berpikir perempuan yang terakhir ini mungkin dari golongan yang berbeda dengan yang pertama. Dia serius, rajin latihan yoga tiap hari, dan disiplin dalam melatih core-nya. Mungkin terlalu serius, melihat gerak-geriknya yang teratur dengan seulas senyum robot. Saya tidak bisa membayangkannya bersikap apa adanya, ketawa ngakak atau berkata konyol sekali-sekali. Jadi saya memutuskan untuk batal beli celana yoga. Alasannya karena melatih core itu berat dan susah. Lagi pula pakaian yoga sering bolong di mana-mana, sudah itu yang bermerek harganya mahal pula.

Sesudah lama tidak ketemu seorang teman kami janjian untuk ketemu lagi. Sebenarnya dia bukan benar-benar teman, cuma kenalan yang biasanya kebetulan ketemu dalam kelompok bersama-sama orang lain. Setahu saya dari pembicaran kami waktu itu dia cukup suka mengumpulkan uang dari beberapa usaha yang dipunyainya. Tapi sekarang, semakin lama ngobrol dengannya saya jadi semakin kehilangan arah. Dia ternyata serius beryoga dan bermeditasi. Kata-kata indah berhamburan dari mulutnya. Dia terharu sekali karena teman-teman non-vegetariannya datang memasakkan makanan di rumahnya dengan menu vegetarian. Dia mengajak saya untuk turut berpartisipasi dalam mengembalikan daya dukung bumi terhadap umat manusia yang jumlahnya semakin membengkak terus. Dia cerita baru saja menasihati anaknya untuk mengikuti kata hatinya, kerja selama dua tahun saja, kemudian berhenti karena pekerjaan itu akan sudah dikuasai dan tidak lagi memperkaya batin. Dia menganjurkan saya untuk mencari kebenaran diri saya sendiri yang letaknya jauh bersemayam dalam diri. Dia bilang bahwa uang bukan yang utama dalam hidup, bahkan bisa sangat merusak.

Tidak ada yang salah dalam semua yang dikatakannya, tapi tetap saja ada sesuatu yang tidak pas dan membuat saya gelisah. Saya cepat-cepat konsentrasi mendengarkannya lagi, karena dia sudah merasa kalau pikiran saya sedang melayang ke mana-mana. Dia bertanya sesuatu, saya menjawab, dan langsung tahu dia tidak tertarik mendengar jawaban saya. Kalimat saya dipotongnya, dia bilang mengerti maksud saya, bahkan memperjelas panjang lebar padahal bukan itu maksud saya. Sudah, ah. Saya malas sekarang. Cuma berpikir bagaimana menyudahi pembicaraan tanpa dianggap kurang sopan. Saya ubah topik pembicaraan tanpa kentara. Diceritakannya apa saja yang dilakukannya untuk mendapatkan uang tanpa susah payah. Otak bisnisnya langsung berputar dan sinar matanya berubah cerdik. Katanya uang tidak penting? Gampang memang bilang begitu, karena dia punya vila luas dan indah dengan kolam renang, anjing ras sebanyak tujuh ekor, mobil mahal, dan Harley Davidson.


“Kamu jadi ke Sumatra?” tanya saya. Dia waktu itu omong banyak, mau menjelajah Sumatra sampai pelosok dengan motornya, sendiri saja dengan semangat berpetualang. “Tidak,” jawabnya pendek. Lalu dia tahu saya yang lebih penakut, lebih manja dan lebih miskin dari dia sudah ke Pulau Derawan dan kepulauan Kei di Maluku sejak terakhir kami ketemu walaupun tanpa petulangan ala Indiana Jones. Pokoknya pergi. Dia kelihatan iri. Akhirnya saya berhasil pamitan. Kami berpisah dan dia pergi ke bar untuk minum-minum di sana, mungkin sampai bar itu tutup. 

Selasa, 23 Februari 2016

Hidup Harmonis dan Hepi Hepi

[Kenangan Pelangi atau sebuah dongeng]
Adalah suatu tempat di mana anak-anak berkumpul di pagi hari. Mereka datang dari mana-mana. Bermacam-macam rupa dan kelakuannya. Ada yang menangis waktu ditinggal pergi ibunya. Hmm, memang masih kecil sih. Ada yang sudah abege.  Ada yang galak sekali. Ada yang manis dan cantik. Ada yang berambut keriting atau lurus. Ada yang rambutnya pirang atau hitam. Ada yang pendiam, dan ada juga yang berisik. Anak-anak ini harus belajar dengan disiplin. Tapi mereka juga senang bermain dan berolah raga. Mereka makan siang bersama-sama di sebuah bangunan joglo. Ributnya mereka makan! Orang-orang dewasa yang adalah guru-guru mereka menjaga agar suasana agak tertib. Setelah makan, mereka berhamburan dan berpencar di taman.

Taman yang luas tentu saja harus ada orang-orang yang mengurusnya. Orang-orang ini punya tugas dan kedudukan yang berbeda-beda. Yang paling penting tentunya yang memiliki kedudukan paling tinggi. Dialah Pak Khar, ketua sekaligus perencana taman itu. Kalau ada orang yang datang enam bulan yang lalu, tidak pernah datang-datang lagi ke sana dan baru hari ini datang lagi, pasti akan berseru kagum, “Bagus sekali! Beda dengan keadaan enam bulan yang lalu.” Satu hal yang menarik di taman itu adalah jalan setapaknya. Begitu banyak jalan setapak di sana. Pak Khar yang memerintah orang untuk membuat semua jalan setapak itu. Jalan setapak itu ada yang datar, ada yang menurun atau sedikit menaik, dan ada yang berundak-undak membentuk tangga. Ada yang lurus, ada yang sedikit melengkung dan ada yang meliuk-liuk. Ada yang sempit dan ada yang lebar. Ada yang pendek dan ada yang panjang. Ada yang belok ke kiri, ada yang belok ke kanan, ada yang menuju ke atas dan menuju ke bawah. Bahkan ada yang tidak menuju ke mana-mana. Pak Khar suka sekali pada jalan setapak. Kalau ada anak nakal seenaknya saja menerobos semak atau menginjak rumput tanpa melalui jalan setapak, minggu berikutnya di tempatnya menerobos itu akan dibangun sebuah jalan setapak baru. Tapi Pak Khar harus berhati-hati untuk tidak terus membuat dan membuat lagi jalan setapak. Kalau tidak, taman itu akan berubah menjadi simpang siur jalan setapak yang saling memotong ruwet sekali.

Setelah Pak Khar ada lagi yang namanya Pak Gepe. Bisa dibilang dia orang paling penting kedua di taman itu. Karena Pak Khar sering sibuk mengenai hal-hal lain di tempat-tempat lain, Pak Gepe bebas bersikap seperti bos yang sesungguhnya. Pak Khar tidak keberatan karena dia percaya penuh pada Pak Gepe. Pak Gepe senang mengumpulkan semua pekerja dan memberi perintah-perintah. Dia berdiri tegak dengan tangan disatukan di belakang punggung. Matanya menyorot tajam dan kata-katanya tegas. “Kalian harus fokus,” katanya. “Kita bagian penting dari semua kebersamaan yang perlu ditanggapi dengan sepenuh hati. Keberhasilan kita menjadi alat penting dan penyangga dari keberlangsungan keindahan taman ini yang berkelanjutan secara abadi.” Di depannya empat orang pekerja bergerak-gerak dengan gelisah. Bertumpu di kaki kanan, lalu di kaki kiri, dan kembali lagi ke kaki kanan. Tidak seorangpun mengerti apa maunya Pak Gepe. “Baik. Sekarang kalian mulai bekerja dengan mengedepankan beragam kepentingan di mana setiap orang harus fokus untuk menjadikan pekerjaan ini suatu hal yang menggembirakan bagi setiap orang yang memandangnya.” Pak Gepe berbalik kanan dengan tegap seperti yang diajarkan pada anak-anak Pramuka. Pertemuan bubar. Keempat pekerja juga berbalik tapi tak menentu. Pilah bertabrakan dengan Pata. Keta berbisik-bisik pada Kudu. “Jadi kita harus mengerjakan apa sekarang?” Karena Kudu tidak bisa menjawab maka Pata yang bicara. “Kita harus fokus,” katanya. Pilah bergumam tidak acuh, “Betul. Fokus itu penting.” “Benar. Fokus,” Kudu setuju. Akhirnya Keta mengerti. “Iya, ya. Kok bisa lupa? Fokus, itu dia!”

Maka mereka semua menjadi fokus. Kudu fokus menggali tanah untuk ditanami pohon kamboja. Pilah fokus menyiram rumput. Pata fokus memperbaiki pagar yang rubuh. Keta fokus mencampur tanah dengan pupuk. Karena, meskipun mereka tidak becus baris-berbaris dan tidak bisa berdiri tegak ketika diberi wejangan, mereka tahu sekali pekerjaan apa yang harus dilakukan. Taman ini buktinya. Semakin hari semakin enak dipandang. Dengan Pak Khar yang punya berbagai ide brilyan, Pak Gepe yang menjaga agar semuanya fokus, dan empat serangkai yang sibuk bergerak ke sana ke mari walaupun sering diam-diam pergi menyelinap untuk minum kopi, apapun bisa diwujudkan di taman itu. Prestasi mereka yang cukup membanggakan adalah ketika berhasil memindahkan pohon yang sudah tumbuh besar. Karena setiap orang maklum, menanam pohon dari kecil dan menunggunya jadi besar itu sangat membosankan. Ada sebatang pohon yang bagus sekali bentuknya tapi sayang sekali tempatnya tumbuh kurang pas. Pohon ini harus dipindahkan. Mereka semua beramai-ramai mengerjakannya. Bahkan Pak Khar meninggalkan tugasnya yang lebih penting untuk ikut mengerahkan tenaga. Mereka senang ketika pohon ini tetap hidup dan tumbuh segar. Mereka jadi lebih percaya diri dan semakin sering memindahkan pohon. Jangan heran kalau mata seseorang silau ketika memandang keluar dari jendela kantor dan mengeluh, “kalau saja pohon itu berdiri dua meter lebih ke kiri, pasti mataku akan terlindungi,” tiba-tiba saja pohon itu sudah berpindah tempat ke posisi yang dia inginkan besok paginya. Daun-daunnya menahan sinar matahari untuk menerobos langsung.

Ah, siapa itu yang baru saja mengeluh matanya silau? Kita maklum, dia harus duduk di tempat yang sama dari pagi sampai sore. Jadi kalau di siang yang sangat terik matanya silau dia tidak bisa seenaknya pindah tempat. Maka pasukan perkasa yang sanggup memindahkan pohon dalam sekejap adalah pahlawan yang sebenar-benarnya pahlawan. Dia bekerja dalam kantor, berbicara di telpon, memberi keterangan macam-macam untuk orang yang memerlukan. Tak lupa memuji tempatnya bekerja supaya semakin banyak anak-anak kecil yang disekolahkan di sana. Dia juga mengerjakan pekerjaan yang melibatkan formulir-formulir dan file-file. Dia keki kalau ada petugas pemerintahan datang ke sana, karena sering mengurusi hal-hal tidak penting seperti baju yang dipakainya. Kelemahannya adalah sering melewatkan waktu makan dan dua jam setelah jam makan lewat matanya jadi berkunang-kunang. “Aku lapaaar!” serunya.

Akuntan yang duduk di pojokan kantor mengangkat muka mendengar seruan itu namun terus menunduk lagi. “Salah sendiri, ah,” gumamnya tak peduli. Dia sedang sibuk dengan angka-angka. Dijumlahkannya deretan angka-angka itu. Kadang dijumlahkan ke bawah, kadang ke samping, kadang meloncat-loncat. Dia puas ketika penjumlahan ke bawah sama hasilnya dengan penjumlahan ke samping dan menghasilkan angka yang menurutnya sangat bagus serta mengesankan. Selesai sudah satu pekerjaan. Meskipun tadi ada anak rewel yang mencari perhatian di kantor dengan mengeluh keras-keras ibunya lupa menaruh makanan kesukaannya di kotak bekal. Dia ingin ibunya ditelpon saat itu juga, tidak peduli orang sedang sibuk. Akuntan memang kurang punya kesabaran untuk hal tetek-bengek. Mungkin itu kelemahannya. Ada yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Pekerjaan yang diserahkannya kepada Administrator beberapa hari yang lalu tidak selesai-selesai atau dijawab lupa kalau ditanya yang lainnya.

 “Semua orang harus harmonis dan didengar. Semua orang harus bahagia” kata Administrator. Dia juga duduk di pojokan tapi pojok yang berbeda.Maka dia berkeliling untuk mendengarkan keinginan orang yang macam-macam dan saling bertentangan. Pekerjaannya besok-besok, yang penting harmonis. Dia senang menyelenggarakan acara-acara, misalnya acara suntik masal. Dia cerah sekali ketika para penyuntik datang jam sembilan pagi. Dibawanya mereka ke ruang khusus. Setelah itu satu orang dijemputnya di kantin, diantar ke ruang suntik dengan menyeberangi taman luas. Selesai dengan satu orang, diseberanginya lagi taman, lalu pergi menjemput orang di lantai dua. Begitu seterusnya. Ketika Akuntan heran kenapa sudah jam dua acara suntik ini belum selesai, dia datang dan melihat enam orang tukang suntik beserta asisten tidak ada kerjaan dan Administrator sedang bercanda ria. Orang yang mau disuntik belum ada. Akuntannya gemes. Hidup Akuntan terlalu keras sih, dulu dia biasa kerja yang pakai deadline tanpa tawar-tawaran. Di sini pekerjaan administrasi yang setengah hari biasa diulur jadi tiga hari bahkan lebih. Yang penting hepiiiii.

Kamis, 14 Januari 2016

Menari Lagi

Musik berhenti dan para pemain band bubar untuk istirahat selama setengah jam. Kami bertepuk tangan dan kembali ke meja kami. Ngobrol dan bercanda sambil menghabiskan minuman. Memang enak kalau habis nari gini, hati ringan dan gampang ketawa. Seorang pramusaji datang lalu meletakkan satu botol anggur merah dan gelas lima buah. Diisinya gelas satu per satu. Lho? Kami kan tidak pesan anggur?
“Dari Bapak,” katanya.
Yang dimaksudnya dengan ‘Bapak’ adalah pemilik dari restoran dan bar itu. Di sini ada live music-nya setiap malam. Biasanya kami ke sana di malam minggu. Kami melambai dari jauh untuk mengucapkan terima kasih untuk anggurnya. Setelah itu masih beberapa kali kami mendapat hadiah yang sama kalau sedang ke sana. Malah pernah dikasih dua botol tapi kami tolak. Kalau nanti ada yang mabuk padahal harus naik motor pulangnya, bagaimana? Biasanya Mawar dan Miren cuma minum satu gelas anggur, sedangkan Rima bir. Saya senangnya jus cranberry, jahe panas, atau teh. Eh? Di bar minta teh panas? Dulu-dulu saya langsung merasakan efek mabuk meskipun cuma minum seperempat gelas anggur. Sekarang mendingan, mabuknya hilang, tapi ngantuknya jadi tidak tertahan. Mending tidak minum minuman beralkohol sekalian saja. Pernah dalam acara makan malam resmi saya terus berdoa dan melirik jam dengan putus asa. Ini acara makan sudah dua jam kok nggak selesai-selesai, sih. Ngantuuuuk. Hoahmmm! Tapi tetap saja anggur putihnya saya habiskan. Untung saya ingat untuk menutup mulut dengan tangan. Padahal saya kalau nguap biasanya baru puas kalau membuka mulut lebar-lebar yang bikin orang takjub. Mana mungkin muka dan kepala sekecil itu, yang kalau pinjam helm orang talinya harus disetel sependek-pendeknya, bisa punya bukaan mulut yang mengalahkan ukuran normal?

Di mana ada live music sedang berlangsung kami bisa membuat suasananya jadi lebih meriah dengan mulai menari pertama. Jenis musiknya bisa apa saja, asal enak dipakai nari. Yang lain-lainnya baru mau setelah melihat contoh benar yang kami lakukan, dan iri melihat kegembiraan yang kami rasakan. Pengunjung senang, pemain band senang dengan banyaknya yang menari. Mereka semakin bersemangat memainkan musik. Kadang musik yang berirama latin lebih dipercepat dan ini bikin penari salsa pemula jadi kalang kabut (udah, lupakan aturan salsa, bergerak semau dan sebebasnya sajaah…). Penyanyi band datang setelah acara musik selesai untuk bersalaman sekalian ngobrol sebentar. Pemilik restoran pasti senang juga, kalau tidak mana ada kasih-kasih wine gratis? Suasana meriah bisa membuat orang ingin datang lagi, jadi yang suka nari biasanya disambut dengan baik meskipun mereka cuma minum di sana, hahaha. Sepertinya dua tempat yang biasa kami datangi karena live musicnya ini punya pengunjung yang berganti-ganti terus. Mungkin mereka turis yang tidak sempat untuk membentuk kelompoknya sendiri. Akibatnya, ya itu tadi. Saling tunggu meskipun kaki sudah gatal bergerak. Kami juga begitu di tempat yang baru.

Acara tahun baru kami kemarin juga dirancang dengan ada acara narinya. Pertama makan dulu di restoran. Setelah itu pulang untuk menyalakan kembang api. Ini terutama untuk menyenangkan Jazz, anaknya Mawar yang berumur 9 tahun. Bunyi kembang api yang keras membuat Jack nyungsep ketakutan di bawah kursi. Seluruh badannya gemetar hebat. Harap dimaklum ya Jack, ini acara satu tahun sekali. Setelah itu baru kami keluar lagi untuk mendengarkan musik tanpa Jazz karena dia harus tidur. Tempat nongkrong yang didatangi ini suasananya sedikit dingin. Harus saya akui, pendapat ini subjektif sekali. Sekarang, kalau dengar musik di restoran atau yang lainnya tanpa ada acaranya narinya, saya anggap suasananya kurang asyik. Padahal ya salah sendiri, mau nari tidak dilarang kok. Tapi entah kenapa kami waktu itu tidak ada yang berminat untuk keluar dari kursi. Akhirnya sekitar jam sebelas  kami pindah tempat, ke tempat yang sudah biasa didatangi saja. Tempatnya penuh! Tapi manajernya santai saja, dia yakin bisa menyelipkan kami di antara para pengunjung. Kami dicarikan tempat supaya bisa bergabung dengan Miren dan Brett yang sudah dari tadi ada di sana dan sedang duduk dengan dua orang lagi. Maka kami berdelapan duduk berdesakan. Letak mejanya ideal sekali, di depan, jadi tidak ada yang merasa keberatan. Lagian ini malam tahun baru, masa mau sepi?

“Aku dari tadi belum dance,” kata Miren.
Kami bertukar pandang mengirim isyarat dan langsung saling mengerti. Saya dengan Miren memang klik kalau urusan nari. Kalau yang satu malas dance, dan yang satu juga malas dance, begitu keduanya digabung hasilnya jadi  semangat dance, hahaha. Kami ngobrol sambil minum sampai si manajer memutuskan suasana harus dibuat lebih hangat. Dia memberi isyarat ke arah meja kami menyuruh kami maju untuk menari. Gak perlu di suruh dua kali, langsung deh kami ngedance. Begitu juga yang lain. Lama-lama yang tadi masih mikir sekarang tidak ragu lagi. Suasana semakin lama semakin meriah. Setelah menghitung mundur untuk sampai ke jam duabelas malam, acara musik masih diteruskan. Kan tahun baru. Biasanya di Ubud musik di kafe dan bar harus berhenti paling lambat jam duabelas atau malah jam sebelas.

Saya bersyukur punya teman-teman yang suka nari meskipun agak disayangkan mereka tidak begitu suka nari salsa. Untunglah Lina sekarang sudah mau disuruh belajar salsa. Saya sedikit berkorban dengan mengulang lagi dari dasar demi menemaninya belajar di kelas. Kursus salsa privat juga masih saya teruskan meskipun tidak rutin lagi. Ternyata cara orang ngajar itu beda-beda. Made, guru privat saya yang pertama lebih mengutamakan sebanyak mungkin menari. Sejam belajar dengan dia bisa menari sampai delapan lagu. Belajar dengan dia fun! Apalagi dia punya kombinasi gerakan macam-macam. Kalau Agung lain lagi. Semua gerakan saya dikoreksi dan kebiasaan yang salah dipaksanya untuk dihilangkan. Muternya salah. Tangannya salah. Kakinya salah. Bahu mesti begini. Kaki mesti jinjit. Ulang lagi! Sampai bisa! Sejam dengan dia keringat menetes-netes. Dia duduk merokok sambil mengawasi sementara saya harus melangkah dengan gerakan dasar banget selama lima menit untuk mendapatkan 'hitungan 1'nya. Dapat apa tidak saya tidak tahu karena dia cuma ngeliatin tanpa komentar hehehe.Jadi ajarannya sebenarnya banyak manfaatnya.

Saya sadar tidak mungkin jadi penari salsa yang sangat baik. Disuruh rajin mendengarkan musik untuk melatih kepekaan saja malas. Latihan muter sendiri  cuma bertahan dua hari. Sekarang pun, kalau sudah berdiri berhadapan mau mulai menari latin, saya masih nanya sama partner narinya, “Ini salsa apa bachata?” karena belum bisa membedakan musiknya dari awal. Untung banget jadi cewek, semua urusan koreografi gak perlu mikir. Tapi ada yang bilang jadi cewek itu susah karena tidak tahu gerakan selanjutnya bakal gimana. Saya suka iri kalau melihat orang yang jago menari salsa. Tapi banyak penari salsa yang hanya mau atau bisa menari latin. Begitu selesai menari di satu tempat kadang-kadang kami pindah ke tempat lain. Di tempat yang kedua ini ketemu lagi dengan mereka. Para penari latin ini banyak yang diam saja karena musiknya bukan latin. Satu dua menari salsa meskipun musiknya rock. Oke deh. Boleh-boleh saja kok nari salsa dengan iringan musik rock.

Satu-satunya yang tidak suka saya menari adalah Jack. Kalau saya nyetel musik lalu goyang-goyang di depannya, pertama dia menonton dengan heran, terus mengalihkan mata, malu melihat kelakuan saya. Lama-lama dia tidak tahan dan terus pergi.
“Heh, ngapain kabur?!? Sini!” perintah saya, merasa dilecehkan.

Jack tidak mau dan terus ngeloyor pergi. Saya tersinggung nih. Tapi waktu dipikir lagi, ini adalah cara praktis mengusir Jack dari dalam rumah. Dia sudah sering nakal sekarang, tidak mau menurut kalau disuruh keluar. Maka saya praktikkan lagi hari berikutnya, goyang-goyang di depannya diiringi musik. Dia keheranan lalu melengos. Berhasil, pikir saya. Terus dia berdiri dan berjalan ke…. bawah sofa! Matanya merem serapat-rapatnya dan pura-pura budeg. Ternyata Jack lebih pintar dari saya. Kalau sudah di bawah sofa semakin susah saya mendorongnya dan semakin cuek dia membantah.

Selasa, 29 Desember 2015

Rumah

Jen jengkel sekali dengan pemilik rumah kontrakannya yang sering masuk tanpa ijin dan tahu-tahu sudah nongol di depannya. Dia ngomel-ngomel.“Kamu untung saya tidak sedang telanjang!”Lah, kok ya Mbak Nurul juga lagi jengkel. Katanya,“Meskipun dia masuk ke halaman untuk memperbaiki pagar, atau membereskan kaleng-kaleng bekas, rumah itu sudah saya kontrak, jadi dia harus minta ijin untuk masuk ke rumah saya.” Suaranya berapi-api.Saya sebenarnya mau menambahi juga dengan cerita pengalaman pribadi, tapi karena tidak bisa mengimbangi kejengkelan mereka, malahan merasa senang dengan situasi yang ada, lebih baik diam saja.

Ceritanya, beberapa benda milik saya berpindah tempat. Karena Mawar baru cerita barang-barang miliknya yang tidak berharga (untuk pencuri) sudah menghilang, saya mengira ada orang yang iseng sama saya. Saya segan untuk bertanya pada induk semang yang tinggal di lantai bawah. Iya kalau benar dia, kalau tidak? Bisa tersinggung nanti. Tapi untunglah waktu ngobrol santai akhirnya dia sendiri yang bilang kalau istrinya masuk ke rumah saya, sebenarnya modelnya lebih mirip apartemen, untuk bersih-bersih. “Gak apa-apa kan?” tanyanya. Heran saya kenapa dia bisa bilang itu tidak apa-apa. Tapi saya juga menimbang-nimbang cepat, wah lumayan, ada yang ngebersihin rumah gratis. Maka saya mengambil keputusan,
“Iya, gak apa-apa, sering-sering aja!” hehehe.
Makanya saya tidak menambahi cerita Jane dan Mbak Nurul walaupun saya sebenarnya pendukung privacy nomor satu, dan membenarkan Jen dan Mbak Nurul sepenuhnya.

Hampir setahun saya menikmati rumah dibersihkan gratis, tanaman disiramkan gratis, sampah dibuangkan gratis. Baru bulan-bulan terakhir saja servis itu berhenti karena istri Mas Karmin sudah kerja. Rumah Mas Karmin yang saya sewa itu adalah tempat tinggal saya yang ketiga di Ubud. Pertama saya kos, kedua bertetangga dengan Intan (kangen sekali dengannya), ketiga di tempatnya Mas Karmin. Saya sekarang sudah pindah lagi ke nomor empat supaya lebih sepi. Di bulan-bulan terakhir tempat Mas Karmin sudah kurang nyaman. Suara orang membangun tidak berhenti dari siang sampai malam. Satu selesai, satu lagi dibangun. Di tempat nomor empat inilah rasa kepemilikan saya paling besar, hehehe. Di tempat Mas Karmin saya sudah kompromi, saya biarkan saja Andre, keponakannya Mas Karmin, naik ke tempat saya. Apalagi dia juga tahu diri, selalu memberi tahu sebelum muncul.
“Mbak, mau ambil sampah!” serunya dari jauh.
Meskipun jendela terbuka lebar dan gorden terpentang, saya tetap baring-baring di tempat tidur dan cuma berpose lebih sopan saja. Sesudah itu dia cepat turun lagi. Dia tidak pernah lupa bilang permisi, meskipun kadang-kadang saya sendiri yang minta tolong dipasangkan bola lampu atau keran dispenser. Kadang-kadang ada yang keluarga Mas Karmin lakukan tanpa bilang dulu. Sebenarnya lebih baik ngomong dulu sama saya meskipun semuanya itu untuk maksud baik. Ah, sudahlah, demi yang gratis-gratis tadi saya juga tidak banyak protes.

Tempat tinggal yang nomor empat ini saya sukai terutama karena ada sawah di depan dan di belakangnya. Tapi halamannya benar-benar dirancang dengan cara yang sangat aneh. Pintu gerbangnya ada tiga dan semuanya aneh. Pintu gerbang utamanya bisa dimasuki dari jalan kecil  --namanya juga di pinggir sawah--  tapi begitu masuk jangan harap bisa langsung melihat pintu rumah karena kamu masuknya dari belakang!  Depan jadi belakang dan belakang jadi depan.  Kalau dari pintu gerbang utama ini langsung belok kiri menyusuri gang, ujungnya adalah pintu gerbang nomor dua yang tembus ke …rumah tetangga! Maksudnya apa coba?  Kalau tadi tidak langsung belok kiri melainkan lurus tentu saja akan ketemu halaman, teras dan pintu rumah. Halaman ini sudut sebelah kirinya tidak tertutup tembok atau pagar melainkan ada jalan tembusnya. Ke mana? Lorong ini terus melewati rumah tetangga dan di ujungnya barulah kita ketemu gerbang nomor tiga yang juga tembus ke rumah lain. Rumahnya Mawar. Jadi rumah saya bisa dimasuki dari jalan, dari rumah sebelah, dan dari rumah Mawar. Ini maksudnya apa to?

Memang pemilik dari tiga rumah itu adalah keluarga yang sama, keluarga Pak Wayan. Malah sekarang ada rumah ke empat di sebelah kiri saya yang ditempati oleh Miren. Rumah saya dijadikan pusat, jadi ada bangunan sanggah (tempat sembahyang serta menaruh banten)-nya di pojok halaman. Pak Wayan mengatur supaya dia bisa masuk dari semua pintu gerbang—dia punya kuncinya. Saya tidak keberatan dia pegang kunci gerbang utama supaya bisa menaruh banten di sanggah setiap saat diperlukan. Saya sudah dua kali mengganti kunci gembok gerbang ini karena macet, dan setiap kali saya beri dia kunci serepnya. Pintu gerbang yang tembus ke rumah Mawar cuma dibukanya kalau ada upacara keagamaan yang penting saja supaya orang-orang bisa keluar masuk ke sanggah dengan bebas. Saya sudah berdamai dengan kondisi ini. Tapi pintu gerbang nomor dua? Pintu ini sering dibuka karena Pak Wayan menyimpan kayu-kayu di rumah sebelah. Dengan kata-kata sopan saya protes waktu banyak tukang keluar masuk mengambil kayu. Pak Wayan bilang dia tidak punya kunci serep pintu utama rumah sebelah. Lah? Ya minta dong. Gerbang saya saja, tiga-tiganya dia punya kuncinya. Tapi Pak Wayan tidak begitu mengerti apa yang saya minta, atau dia tidak mengerti kenapa saya minta. Karena dia orangnya ramah sekali, saya bersabar saja dan berusaha melihat kebaikan-kebaikannya. Apa ya? Kebanyakan dia janji-janji saja. Mau membuat garasi bersama, cuma janji. Mau mengganti kulkas dan kipas besar yang harusnya adalah properti rumah, cuma janji. Yang penting ramah dan sopan. Protes ditampung, buka tutup gerbang jalan terus.

Pagi ini pas selesai mandi saya dengar suara-suara orang keluar masuk dari pintu gerbang nomor dua. Cepat-cepat saya melilitkan handuk di badan, menyambar kardigan dan memakainya untuk menutupi bahu lalu keluar. Saya lihat seorang laki-laki muda sedang mengeluarkan tangga besi yang disimpan di lorong antara pagar dan tembok rumah. Saya memberinya pandangan bertanya tanpa kata-kata,
Well, Anda mau menerangkan kenapa Anda masuk tanpa ijin?”
Eh, dia membalas dengan pandangan hampa yang sama,
Well, Anda mau menerangkan kenapa buru-buru keluar dengan pakaian yang tidak pantas, lagian ini kan tangganya Pak Wayan, bukan tangga Anda.”
Brengsek.
Begitu dia pergi dengan pesan akan kembali lagi untuk mengembalikan tangga, saya membongkar kotak sepatu yang isinya macam-macam benda yang disimpan karena prinsip siapa tahu perlu. Aha! Ini yang saya butuhkan. Gembok baru! Saya pasang gembok ini di pintu gerbang nomor dua. Beres deh.

Saya puas sekali dengan yang sudah saya lakukan. Dua gembok untuk satu pintu, dengan kunci masing-masing dipegang oleh orang yang berbeda. Saya rasa kotak penyimpanan di bank yang bisa disewa orang menggunakan prinsip yang sama. Baik pihak bank maupun pihak penyewa punya kunci. Di film yang pernah saya tonton, suasana ruang penyimpanan ini dibuat misterius sekali. Ketika kunci diberikan kepada pemilik kotak penyimpanan, kamera mengambil gambar close up muka pegawai bank yang serius, muka penyewa kotak, lalu langkah-langkah kaki di lorong, dan akhirnya jari tangan yang sedang memutar kunci. Jreng! Ternyata isi kotak itu….. (surprise!).

Sama halnya dengan kejadian di bank, sekarang pintu gerbang sebelah cuma bisa dibuka kalau kedua kunci dipakai bersama-sama. Saya tidak bisa membuka gerbang dengan kunci saya saja, menyelinap diam-diam ke halaman rumah sebelah di malam yang gelap tanpa bulan (memangnya mau apa, ya? hahaha). Sebaliknya, Pak Wayan juga tidak bisa membuka pintu sendiri untuk pergi ke halaman rumah sebelah untuk mondar-mandir ambil kayu atau yang lainnya tanpa bilang dulu sama saya. Kalau nanti dia minta saya untuk membuka pintu itu, saya akan melayaninya dengan ramah sambil bertanya, kenapa tidak minta kunci serep pintu gerbang si penyewa rumah sebelah saja? Terserah dia sekarang. Kalau masih tidak mau minta, dia sendiri yang repot. Sekali-sekali akan saya isengi juga. Waktu dia mau minta kunci saya akan pura-pura tidur :D.

Selasa, 22 Desember 2015

Sawah

Sepertinya sawah sudah menjadi trade mark untuk Ubud sewaktu orang membicarakan kota kecil ini. Baik yang komentarnya positif maupun negatif. Seperti, “Mau jalan-jalan ke sawah ah, kalau ke Ubud nanti.” Ini komentar positif. Yang negatif, “Di Ubud sawahnya semakin berkurang ya?”  Hmm, sawah. Orang-orang ribut soal sawah. Kalau sawah berkurang, itu terjadi di mana-mana, bukan di Ubud saja, atau di Bali saja. Tapi kalau saya sedang jalan-jalan di Bali terutama ke pelosok-pelosok, sawah ditemukan di mana-mana dan sangat menyegarkan mata. Buat saya ingatan tentang sawah di Bali ini seperti potongan-potongan. Salah satu potongan ingatan itu misalnya, adalah sawah yang bisa dicapai dengan naik motor setelah keluar dari Ubud ke arah utara. Jalannya menanjak, semakin ke utara semakin tinggi. Setelah melewati Tegalalang tapi  jauh sebelum sampai ke Kintamani, kita belok ke kanan, lalu terus bermotor mengikuti jalan kecil yang berkelok-kelok. Motor bisa diparkir di pinggir sawah di bawah pohon. Meskipun bisa dilewati mobil di jalan ini motor sudah jarang yang melintas. Saya yang selalu bad mood kalau sudah merasa lapar tadi sudah maksa dulu untuk beli nasi bungkus. Teman saya melirik penuh minat melihat saya makan. Saya menawarinya setengah nasi bungkus saya. Biarlah, toh dia yang memboncengi saya, jadi saya juga tidak mengritik karena dia tadi menolak beli nasi bungkus untuk dirinya sendiri. Dia membalas dengan memberi saya apel yang sudah setengah digigitnya. Kami cuci tangan di kali yang jernih dan segar sekali. 
  
“Lihat, primitif sekali ya?” komentar saya sehubungan dengan benda yang berada di ujung bambu yang ditancapkan di pematang sawah. Selintas benda itu terlihat seperti kitiran karena ada bagian yang bisa berputar. Seperti mainan yang menarik sekali. Baru kalau diperhatikan detilnya sadarlah kita bahwa ini di Bali, bukan di tempat lain. Pulau seribu pura, pulau Dewata. Tempat sesembahan ada di mana-mana. Dan sawah adalah bagian penting dalam kehidupan manusia. Meskipun baru pertama kali melihat benda seperti itu ada bagian diri kita yang mengatakan itu bukan mainan. Tradisi ratusan tahun tertanam di sana, sebuah kepercayaan sehubungan dengan roh-roh tak kasat mata. “Itu juga, primitif sekali,” saya menunjuk benda lainnya. Saya berkata tanpa mengejek. Seperti tiba-tiba diliputi suasana magis. “Itu juga primitif,” kata saya sambil menunjuk yang lain. Teman saya tidak sedikit pun peduli. Dia sedang sibuk memotret berbagai obyek. Lalu mengarahkan kamera ke saya dan memencet tombol. “Ini baru primitif,” jawabnya. Disebut primitif saya cuma sebentar kaget. Biarin. Tidak perlu mau disebut modern terus deh, karena modern sering dekat sekali dengan mengeksploitasi, terutama alam. Orang yang disebut primitif justru punya kebijakan sendiri untuk hidup berdampingan dengan alam.

Potongan ingatan yang lain, lagi-lagi saya sedang dibonceng di sepeda motor di jalanan yang tak terlalu lebar. Angin meniup muka dan rambut terbang ke sana ke mari sampai awut-awutan. Waktu itu saya sedang tidak mau pakai helm. Di sebelah kiri dan kanan jalan sawahnya luas sekali dan padinya berwarna kuning hampir masak. Plastik berwarna hitam dan putih yang berasal dari kantong belanjaan dipotong panjang-panjang dan digantung melintang di atas sawah untuk menakut-nakuti burung. Plastik-plastik yang panjangnya beratus-ratus meter itu bergoyang ditiup angin. Seperti hiasan pesta. Jalan berkelok-kelok dan terus menurun. Letak matahari sudah rendah di sebelah barat dan cahayanya kekuningan. Di kejauhan samar-samar warna biru dari laut seperti mengundang minta didatangi. “Berhenti!” perintah saya. Motor diparkir. Di tempat yang tinggi itu, dengan hamparan padi di mana-mana, angin yang berhembus, langit yang luas serta kosong di atas, dan laut di kejauhan, saya jadi teringat sebuah buku lama.
‘Ke laut! Ke laut!’ teriak anak-anak laki-laki gaib dalam salah satu buku kanak-kanakku. Aku telah melupakan segalanya mengenai buku itu kecuali teriakan ini. ‘Ke laut!’, dan dari seberang Samudera Hindia ke tepi Laut Merah, di mana di malam-malam sunyi kau dapat mendengar bebatuan di padang pasir, hangus di siang hari, retak satu per satu, kami kembali ke laut kuno di mana semua tangisan ditenangkan. (Summer in Algiers, oleh Albert Camus).

Saya tidak yakin. Mana yang lebih mengesankan waktu itu, sawahnya atau lautnya? Tapi sawah sudah ada di situ, dekat sekali, sedangkan laut cuma samar-samar dan jauh. Saya punya perasaan bahwa kami tidak bakalan sampai ke laut itu. Benar saja, setelah tanya-tanya ke orang mengenai arah, diputuskan bahwa hari sudah terlalu sore untuk mendekati laut. Saya agak kecewa juga, tapi berusaha menghibur diri. Siapa tahu kalau sudah didatangi ternyata laut itu tidak sebagus dari jauh. Mungkin pasirnya kotor dan airnya butek. Dan saya juga cuma sekali berada di sana, di pebukitan yang bersawah itu. Dua kali mencoba kembali ke tempat yang sama, dua kali juga gagal. Saya tidak bisa menerangkan dengan jelas ke mana arah yang harus dituju yang akhirnya membuat kami nyasar ke jalan bypass yang panas dan gersang. Teman saya heran kenapa saya ingin sekali kembali ke sana. Akhirnya saya pasrah, menghibur diri sendiri dengan kata-kata“yang berkesan itu akan hilang kesannya kalau dijalani dua kali”.

Ada beberapa sawah yang sebenarnya ingin saya datangi lagi. Tapi gara-gara lebih sering pergi-pergi tanpa rencana detil dan tanpa peta, kecil kemungkinannya bisa sampai di tempat yang persis sama. La wong biasa ambil jalan-jalan kecil yang entah ke mana tujuannya, dan kalau kurang menarik balik lagi atau belok ke mana saja, apa tidak bingung kalau harus menemukan lagi satu tempat tertentu. Yang jelas, sawahnya pas dekat tikungan jalan dengan pohon-pohon besar di tepinya dengan akar-akar bergelantungan dari atas. Ada sungai kecil yang airnya dingin dan segar sekali. Enak sekali rendam-rendam kaki di situ. Anehnya, kalau sesekali ada motor melintas, pengendaranya menoleh seperti baru sekali itu lihat orang celupin kaki di kali. Ada yang terus menoleh sampai lehernya mau putus. Di dekat sawahnya ada pura kecil. Karena pintu gerbangnya dikunci teman saya melompati pagar supaya bisa masuk. Mau apa lagi dia pingin masuk, saya tidak mengerti. Di bagian sungai yang lebih dalam dan berair deras dua orang laki-laki sedang memancing entah apa dengan menggunakan botol air minum bekas dan benang. Dua atau tiga orang petani di kejauhan sedang membungkuk mengurus padi. Mereka begitu terserap pada pekerjaannya dan tidak memberi perhatian pada dunia sekitar. Tenang sekali tempat ini.

Sebuah tempat yang terkenal di Bali dengan areal persawahannya adalah Jatiluwih. Tempat ini sudah diresmikan oleh UNESCO sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Untuk sampai ke tempat ini perjalanannya jauh sekali,setidaknya dari Ubud, dan melewati daerah pegunungan. Saya agak kecewa dengan tempat ini. Semuanya ditata, mulai dari pintu gerbang masuk yang menarik uang tiket, tempat-tempat makan (lumayan mahal) yang menghadap sawah, serta tour yang diorganisir. Bahkan pematang sawahnya rapi sekali, rumputnya dipotong pendek dan tidak dibiarkan tumbuh liar. Saya duduk saja di warung sambil makan. Ada tour ke sawah dengan pemandu yang sekalian menerangkan tentang subak. Sebenarnya tour ini menarik juga tapi matahari sedang panas-panasnya, jadi saya batal ikut. Perjalanan menuju tempat ini saya rasa jauh lebih menarik daripada tujuan akhirnya. Biarpun lama dan rasanya tidak sampai-sampai pemandangan di sepanjang perjalanan bagus sekali.

Sebenarnya sawah bukan sesuatu yang terlalu tidak biasa buat saya. Waktu kecil tinggal di desa, jadi biasa saja dengan sawah. Karena sudah biasa jadi tidak begitu menghargai. Baru sesudah tinggal belasan tahun di kota besar, dan sekarang tinggal lagi di (hehehe… ya ampun, sering lupa kalau Ubud itu secara administratif sebenarnya desa juga…) sini, sawah jadi barang yang istimewa. Dan harap-harap cemas tentunya, jangan-jangan tahun depan sawah di depan dan belakang rumah sudah ditimbun untuk dibuat bangunan di atasnya. Mudah-mudahan masih lama sekali ini baru terjadi.

Kamis, 29 Oktober 2015

Jack

Sebelum pindah ke rumah yang saya tempati sekarang ini saya memikirkan satu persoalan dengan serius. Apakah akan mulai memelihara kucing? Kucing saya rasa cocok untuk dipelihara karena tidak terlalu repot mengurusnya dibandingkan dengan kalau memelihara anjing. Ada teman kerja yang mau pulang ke negara asalnya dan dia juga sedang pusing memikirkan nasib dua ekor kucingnya, karena masih belum ada orang yang bersedia mengadopsi. Repotnya, dua ekor kucing ini tidak boleh dipisahkan. “Mereka sejak kecil tumbuh bersama,” katanya menerangkan. Saya belum siap untuk memelihara dua ekor kucing jadi tawarannya tidak saya ambil. Pilihan lainnya adalah keluarga kucing yang tidak punya majikan tetap dan senang bersantai-santai di teras rumah saya. Satu induk kucing dan dua ekor anaknya yang masih kecil. Salah satu anaknya akan saya bawa. Teman saya tidak mendukung. Mending ambil dari penampungan kucing saja, yang sudah divaksin, begitu pendapatnya. Iya sih, tapi kucing-kucing ini meskipun masih liar sudah sering saya kasih makan. Gimana, ya? Saya terus berpikir. “Susah nangkapnya!” katanya mengambil keputusan terakhir. Ah, bilang aja malas. Nangkap kucing apa susahnya sih. Memang saya sudah menyebut-nyebut dialah yang bertanggungjawab akan kesejahteraan kucing itu kalau saya sedang ke luar kota, datang ke rumah tiap hari untuk mengecek. Terang saja dia malas.

Sambil pindahan saya masih menimbang-nimbang apakah harus membawa anak kucing itu. Tidak jadi. Akhirnya keputusan ini malah menguntungkan. Soalnya sekarang saya punya binatang yang sering menemani tapi tidak perlu memberinya makan dan menyediakan semua keperluannya. Enak kan? Namanya Jack. Dia peliharaan Mawar, yang tinggal selang satu rumah dari rumah saya. Dia blasteran antara anjing bali dan anjing ras. Warnanya kuning. Itu kalau dalam keadaan biasa dan kering, tidak ditutupi lumpur sawah yang hitam kecoklatan. Pernah satu kali, sekitar jam sembilan Jack mendengking-dengking di depan pintu pagar minta masuk. Saya datang untuk memeriksa. Dia mengibas-ngibaskan ekornya, senang menyambut saya. Tapi badannya penuh lumpur, seluruhnya sampai ke muka dan ekornya. Baunya gak enak.
“Tunggu, Jack. Tunggu. Tunggu, ya,” kata saya bersemangat.
Saya lari masuk ke rumah. Jack menggoyang-goyang ekor dengan senang, tahu saya pergi untuk mengambil kunci pintu pagar. Saya datang lagi mendekatinya dengan HP di tangan. Ceklik, ceklik, ceklik. Tiga jepretan.
“Sori, Jack. Kamu kotor sekali, hari ini gak boleh masuk.” Lalu pergi meninggalkannya.
Jack kaget sekali, tidak menyangka saya setega itu. Dia menggonggong protes satu kali. Lalu menunggu selama sepuluh menit dengan sabar, siapa tahu saya berubah pikiran. Saya intip dia dari balik gorden. Akhirnya dia pergi juga.


Jack yang penuh lumpur
Jack bisa sekotor itu karena habis mengejar-ngejar bebek di sawah yang baru selesai dipanen. Kalau bebek-bebek yang tadinya ribut berkwekkwekkwek lalu tidak terdengar lagi suaranya, itu artinya mereka sudah kenyang dan sedang beristirahat. Kalau mereka tiba-tiba berteriak-teriak lagi dengan panik sambil berhamburan ke mana-mana, itu artinya Jack sedang mengejar mereka untuk hiburan gratisnya pada waktu bosan. Tapi Jack bukan anjing yang tidak tahu aturan. Dia sopan, sangat sopan malah. Itu yang membuat saya jadi gak tegaan. Di awal-awal dulu saya punya aturan untuk Jack, tidak boleh masuk rumah. Paling jauh sampai di teras saja. Jack tidak membantah, cuma melirik ke atas dengan mata sangat memelas.
 “Beneran, gak boleh…?” katanya sambil matanya melirik dengan rendah hati namun penuh harap.
“Yaa… sudahlah,” saya mengalah.
Jack masuk dengan senang. Tak terasa tangan saya meremas-remas kupingnya dan lipatan di dekat lehernya. Dia senang sekali. Sama senangnya kalau dia dengar saya buka pintu pagar yang selalu berderit kalau dibuka tutup. Dia datang dari rumahnya sendiri untuk menjemput. Ekornya bergoyang-goyang. Matanya yang biasanya sendu dan sering bikin saya tidak tega tanpa tahu untuk alasan apa sekarang berseri-seri. Mulutnya menyeringai. Mau ke mana nih sekarang, sepertinya itu yang ingin dia katakan. Dia tidak pernah mengikuti saya. Dia lebih senang berjalan di depan sambil sesekali menoleh ke belakang melihat ke mana saya pergi dan yang lebih penting lagi, memastikan saya masih ada di belakang dan tidak kabur darinya. Ke rumahnya untuk bertemu Mawar? Tidak. Belok kanan menuju rumah Rima? Tidak. Bagus! Jadi kita pergi jalan-jalan ke sawah kan?

Dia paling senang kalau diajak jalan-jalan ke sawah. Begitu sudah tahu tujuan saya dia berlari kencang duluan di dinding semen saluran irigasi yang sempit sementara saya harus jalan pelan dan hati-hati supaya tidak jatuh. Setelah lama mengendus-endus semak-semak ke sana ke mari Jack lari kencang mendatangi saya lagi. Kalau saya masih mau terus dia bersedia berbalik arah. Pergi ke mana saja tidak masalah buat dia selama punya kesempatan banyak untuk mengendus-endus dan lari-lari. Sedang saya mengagumi kecepatan larinya tanpa sedikitpun terpeleset, eh… saya lihat dia salah ambil ancang-ancang. Kedua kaki belakangnya terperosok ke saluran irigasi. Dia menarik badannya ke atas sambil melirik malu ke arah saya. Hahaha, sekali ini bisa luput juga dia.

Sekali waktu saya sudah siap jalan-jalan dengan Jack, ternyata Si Putih sudah menunggu. Dia adalah anjing betina yang tinggalnya agak jauh dan sekali-sekali pergi main di dekat rumah kami. Saya sering lihat Jack dan Si Putih main bersama-sama dan kejar-kejaran di sawah tanpa padi karena habis dipanen. Kadang-kadang ada beberapa anjing lain yang ikut bergabung tapi perhatian Jack cuma tertumpah pada Si Putih. Anehnya kali ini Jack tidak peduli pada Si Putih. Dia terus mengikuti saya padahal Si Putih terus berusaha mengingatkan Jack kalau dia ada di sana. Sampai acara jalan-jalannya selesai dan kami sudah pulang menuju rumah, Jack tetap mengabaikan Si Putih. Bisa-bisa Si Putih sakit hati dan lain kali tidak akan mau repot-repot lagi berkunjung untuk main bersama. Bukan salah saya lo, karena saya tidak pernah mengekang dan selalu memberinya kesempatan bergaul dengan siapa saja.

Jack sekarang sudah jarang datang dalam keadaan berlumpur. Saya rasa ini bukan karena dia jarang mengejar-ngejar bebek, tapi karena sawahnya tidak berair lagi. Saya perhatikan di beberapa tempat saluran irigasi ditutup dan air dibelokkan ke jurusan lain ke saluran yang mengairi petak-petak sawah yang masih membutuhkan air. Jack ternyata pernah pergi juga ke petak sawah ini. Dia tertangkap basah dalam keadaan berlumpur sedang tiduran di teras saya.
“Pergi, Jack,” kata saya. Jack langsung menurut. Saya masuk ke rumah, ambil minum, dan keluar lagi ke teras. Eh, ternyata Jack sudah ada di sana lagi. Untuk sampai ke teras ada tiga anak tangga yang harus didaki, seperti layaknya rumah-rumah di Bali. Satu kaki depannya yang sebelah kanan sudah berada di anak tangga nomor dua. Dia berhenti dalam adegan slow motion ini seakan tombol pause-nya saya tekan. Matanya melirik pada saya.
 “Boleh?” tanyanya.
“Gak!” kata saya galak dan memberi isyarat mengusir.
Tanpa sakit hati dia meninggalkan rumah saya, juga meninggalkan saya dalam perasaan bersalah. Aduh, Si Jack ini….

Sekarang sudah berhari-hari saya tidak mengajak Jack jalan-jalan. Jalan-jalan ini waktunya memang harus pas, kalau bisa sebelum jam tujuh. Setelah itu matahari terasa panas. Kalau saya bangun siang atau sibuk dengan yang lain saya sering lupa. Jack datangnya juga lebih siang karena saya terlambat membuka pintu pagar. Dengan sabar dia menemani saya. Tingkahnya sopan dan kalem. Dia mendadak bersemangat kalau saya bilang, “Ayo, jalan-jalan!” biarpun matahari sebenarnya agak panas, baik pagi maupun sore. Dan selalu, dia berlari-lari kecil dengan sekali-sekali menoleh ke belakang.
“Masih di situ? Cepet dikit napa.”
Tapi itu diisyaratkannya dengan sabar. Karena Jack selalu sabar. Sesekali dia mendengking tidak jelas, lari menjauh, mendekat, menjauh lagi, mengajak saya lompat-lompat bersamanya. Sepertinya dia tidak sadar saya sudah terlalu tua untuk lompat-lompat. Tapi di sebagian besar kesempatan dia sibuk mengendus semak-semak sendirian sementara saya menikmati cahaya keemasan sinar matahari di atas daun-daun dan batang padi dan langit yang berubah warna menjelang matahari terbenam.