Selasa, 10 Juli 2012

Dengan atau Tanpa Baju, Silakan Pilih


Jalan-jalan di sepanjang trotoar kota Ubud memang menggoda. Restoran dari segala jenis makanan, kedai kopi, toko baju, toko suvenir, toko asesoris, dsb., berlomba-lomba tampil semenarik mungkin agar naluri impulsif berbelanja kita jadi tergelitik. Supir-supir ramai berteriak meneriakkan jasanya. “Taxi?” “Do you need taxi?” “Taxi, Miss?” “Hello! Taxi?” Jalan seratus meter saja bisa ditawari taksi lima kali, bahkan diteriakkan dari seberang jalan. Sebenarnya yang dimaksud bukan taksi seperti di kota-kota besar. Mobil yang biasa dipakai adalah minibus, biasanya Kijang, dengan tarif bergantung kepintaran kita nego. Di musim sepi liburan biasanya mereka banting harga. Selain taksi jasa yang sering ditawarkan adalah pijat. Gadis-gadis muda, kadang-kadang berseragam sarung, yang menawarkannya. Kalau kita setuju untuk dipijat Mbak ini akan membawa kita memasuki sebuah gang kecil. Tempatnya sempit, sepi, gelap, mencurigakan, bau kemenyan. Hehehe, ya tidaklah.

Pemijat yang sekarang sering saya datangi namanya Gede. Dia beserta istrinya membuka bisnis pijatnya di tempat yang sangat sederhana. Kamarnya cuma dua, mungil sekali, hanya cukup untuk satu dipan, satu kursi dan sedikit ruang tempat dia berdiri. Kamar yang satunya lagi agak besar karena isinya ditambahi bath tub dan sebuah toilet walaupun tempatnya mepet sekali, agar pelanggan yang baru luluran bisa mandi. Toilet duduknya tidak mengeluarkan air dengan cara ditekan namun Gede suami-istri menyediakan ember besar berisi air. Walaupun begitu, terlihat tanda-tanda usaha mereka yang sangat maksimal untuk menghias tempatnya. Begitu masuk kita disambut oleh patung Ganesha yang dikalungi untaian bunga. Dindingnya penuh dengan gambar-gambar Budha, Krishna, Yesus, dan tokoh-tokoh pewayangan seperti Hanoman dan Kurawa. Kadang-kadang musik meditasi juga diputar, bersahutan dengan kicau tiga burung kenari yang sangkarnya digantung di teras. Sarung, bunga dan handuk diatur cantik di atas dipan.

Ketika pertama kali memanfaatkan jasa ini saya minta dipijat serta dilulur oleh istrinya. Ketika tiba waktunya mandi istri Gede memasak air panas sepanci. Kemudian dia mempersilakan saya masuk ke bak yang sudah diisi air hangat dan kelopak bunga. Ada servis tambahannya, yaitu, istri Gede membasuh dan menyabuni tubuh saya seakan-akan saya seorang bayi saja. Hahaha. Terus terang saya lebih suka mandi sendiri, tapi bukan itu alasannya saya tidak pernah minta dipijat lagi oleh istri Gede. Pijatannya kurang keras. Otot sekeras batu yang saya miliki hanya bisa ditaklukkan oleh yang bertenaga besar. Jadilah saya pindah ke sang suami, Gede.

Biasanya saya akan masuk ke kamar lebih dahulu sementara Gede menunggu di luar. Setelah melepas pakaian dan menumpuknya di kursi dan menyelubungi badan dengan sarung dan kemudian berbaring telungkup di dipan, saya memanggil Gede. Pertama dia akan menekan punggung saya dengan sangat keras sampai terdengar suara tulangnya krek-krek-krek. Sedap! Saya memang memilih deep tissue massage, pijatannya keras dan bayarnya sedikit lebih mahal. Pijat seperti ini yang saya suka, walaupun kadang-kadang saya terpaksa meringis kesakitan dan minta tekanannya sedikit dikurangi. Gede sedikit terkekeh seakan ingin bilang, “Makanya jangan sok belagu minta dipijat keras-keras.” Tapi pada umumnya pijatannya enak sekali, bisa bikin mata merem melek. Saya suka dipijat oleh Gede karena dia sopan dan tidak banyak ngobrol kalau saya sedang tidak ingin ngobrol. Ketika menyuruh saya membalik badan menjadi terlentang dia akan memegangi sarung sehingga terbentuk tirai yang menghalangi pandangannya, hehehe.

Beberapa teman saya tidak suka dipijat. Rata-rata bilang dipijat itu geli, tapi ada juga yang cukup jujur mengatakan bahwa alasan sebenarnya adalah tidak suka membuka pakaian di depan orang lain dan dipegang-pegang. Saya rasa ini memang soal yang agak peka. Untuk saya pribadi, saya tidak mau manfaat pijat tidak didapat hanya karena soal ini. Mbak-mbak pemijat yang bekerja di spa betulan alias mahal sepertinya punya kode etik untuk tidak mengomentari tubuh kita, entah itu bagus atau kurang bagus. Seperti Mbak pemijat yang memijat saya di spa terkenal di Bandung, dia cukup beretika untuk tidak mengomentari tubuh saya, tapi celetuknya adalah, “Celana dalamnya warnanya bagus.” Saya terbengong-bengong mendengarnya. Komentar seperti ini harus dijawab apa coba? :D

Sebenarnya spa mahal bukan jaminan bahwa pijatannya pasti memuaskan. Saya pernah mencoba spa semacam ini di Ubud, bangunannya luas, bagus, ada taman dan kolamnya, tapi ternyata… pijatannya lembek sekali. Begitu juga pijatan creambath-nya. Waktu keramas Mas yang mencuci rambut saya memasukkan air ke kuping dan bukannya memijat kulit kepala dengan ujung jari dia menggaruk keras-keras dengan kuku. Hmmfftt. Sakit tahu! Ini memang masalah klasik. Banyak sekali kapster yang tidak bisa membedakan antara memijat dan menggaruk.

Pernah saya dipijat oleh pemijat laki-laki yang direkomendasikan oleh Kadek. Seperti bisa ditebak, pemijat ini masih ada hubungan keluarga dengannya. Pertama sih oke-oke saja, tapi kemudian dia cerita tentang para langganannya yang minta dipijat untuk membesarkan pinggul, membentuk betis yang tadinya kurus jadi montok, membesarkan payudara, dan mengencangkan kulit seluruh badan. Saya langsung merasa risi. Bahkan kemudian dia menawari saya untuk memberi salah satu servisnya dengan jaminan pasti berhasil. Langsung saya jadi jengah, saya bilang tidak tertarik, yang penting Anda bisa tidak menyembuhkan tangan saya? Setelah itu saya tidak pernah lagi memintanya datang.

Satu lagi yang saya suka adalah pijat refleksi. Kalau yang ini tidak perlu buka baju, dan karena tidak menggunakan minyak, badan tidak lengket sehingga tidak perlu mandi sesudahnya. Tempat pijat refleksi langganan saya selalu terlihat kosong tanpa pekerja, tapi begitu kita minta dipijat para pemijat ini muncul secara misterius dari seberang jalan. Rupanya mereka lebih senang nongkrong di luar menunggu pelanggan. Kalau semua dipan terisi, para Mbak dan Mas ini akan bekerja sambil ngobrol dan bercanda. Walaupun tidak mengerti bahasanya saya tertular keriangan mereka dan ikut-ikutan tertawa kalau mereka tertawa.

Ada lagi pijat yang ingin saya coba, kalau tidak salah namanya sport massage. Badan ditekuk-tekuk dalam segala posisi. Kalau mau coba pijat jenis ini jangan pakai rok pendek ya. :)

Saya merasa otot-otot saya perlu diregangkan setiap hari. Tapi kalau setiap hari, berapa tuh biayanya? Refleksi setengah jam cuma punggung, bahu, dan kepala harganya 60 ribu. Pijat a la Gede yang lamanya satu jam 120 ribu. Hm, jatuhnya mahal juga. Akhirnya saya mencoba yoga. Sudah empat hari ini setiap pagi saya mengikuti langkah-langkah yoga dari Youtube. Ajaib. Youtube yang biasanya berhenti-berhenti diselingi download, khusus untuk sesi yoga yang ini lancar-mulus selama 57 menit penuh! Karena muka harus selalu menghadap laptop, maka posisi saya muter-muter. Tadinya saya bingung. Balik ke samping kiri, layar tidak terlihat. Balik ke samping kanan, tidak juga. Miring 45 derajat, tidak juga. Miring ke arah lain, kok masih belum pas juga ya. Akhirnya dapat juga. Saya harus memantati laptop! Kaki lurus, pinggang dibungkukkan sampai tangan menyentuh lantai sehingga tubuh membentuk segitiga dengan lantai. Dengan posisi muka terbalik layar laptop bisa terlihat melalui sela-sela kaki saya. Yoga yang hanya ‘begitu-begitu saja’ ini ternyata bikin capek, tapi enak sesudahnya. Namaste.

Selasa, 03 Juli 2012

Iklan adalah Bacaan Terbaik


Sudah bertahun-tahun saya sangat membatasi baca koran. Padahal,  baca koran ini dulu hukumnya wajib buat saya. Sebagai mahasiswa ekonomi (dulu) saya merasa harus tahu mengenai apa saja yang terjadi dalam perekonomian kita. Pengetahuan teori yang di peroleh di kelas harus ditunjang dengan pengetahuan akan realitas di lapangan dong. Tempo, Kompas, ditambah lagi dengan jurnal ekonomi. Saya sering memandang rendah teman-teman lain yang cuma berusaha mendapat nilai bagus tanpa bisa melihat kesinambungan antara teori dan praktik. Semakin banyak tahu saya merasa semakin terpenuhi. Tapi tentu saja ini tidak benar. Semakin ingin dan berusaha tahu semakin membuat kita sadar masih banyak yang belum diketahui yang mendorong kita berusaha lebih banyak tahu lagi yang semua itu tidak berujung dan akhirnya membuat diri lelah sendiri. Seperti lingkaran setan saja. Akhirnya saya berhenti baca koran. Berita ekonomi dan politik tidak lagi jadi perhatian saya. Seiring dengan berhenti baca koran, saya juga berhenti nonton televisi. Wah, seperti mendapat pembebasan!


Saya tidak bermaksud menganjurkan orang, apalagi mahasiswa, untuk berhenti membaca atau peduli pada permasalahan bangsa kita. Bukan! Kalau pengetahuan itu berhubungan dengan bidang atau pekerjaan, tentu saja harus tahu. Tapi apakah memang kita harus tahu segala? Percaya deh, membaca koran sekali seminggu, dan hanya membaca judul-judulnya saja, itu lebih dari cukup. Perang masih ada, demonstrasi masih ada, kemiskinan masih ada, ketidakadilan juga sama saja. Hanya pelaku dan tempatnya saja yang mungkin berubah. Perlu dibilang tidak ya, saya ini tidak tahu siapa mentri keuangan kita sekarang. Nanti deh, kalau beliau sudah membuat gebrakan mendasar atau mendapat gelar mentri keuangan terbaik se Asia, bagaimanapun jalannya, akan sampai juga infonya ke saya.

Ada lelucon yang kurang lucu yang saya baca entah di mana. Di suatu acara penting di Jakarta, acara tidak juga dimulai. Seorang peserta bertanya, tunggu apa lagi sih, yang dijawab temannya bahwa kita sedang menunggu wakil presiden. Si penanya itu berkata lagi, “Lha, itu, Pak Jusuf Kalla sudah datang, kok.” “Wakil Presiden kita namanya Boediono,” temannya membetulkan. “Oh ya? Sejak kapan ganti?” Hahaha, ini sih keterlaluan.

Kembali ke koran dan televisi. Walaupun sengaja mengurangi, bukan berarti saya sama sekali tidak membaca atau nonton. Salah satu alasan kenapa saya teratur makan di restoran padang adalah karena ada televisinya di sana. Saya selalu memilih meja yang menghadap televisi. Kalau meja itu sudah ditempati saya jadi kecewa dan ingin menegur orang itu agar pindah. Untung cepat sadar, hehehe. Juga, ketika teman saya memberi tahu ada artikel yang menarik di koran, saya pergi ke sebuah kafe di sore harinya. Pesannya cuma keik dan teh karena memang tidak bermaksud makan malam di situ. Sudah itu segera mengambil koran dan mencari artikel yang dimaksud. Toleh kiri toleh kanan, merasa keadaan aman, cepat-cepat koran itu saya masukkan ke dalam tas. Pembelaan saya adalah, waktu itu sudah sore menjelang malam, sebentar lagi juga korannya kadaluwarsa. Hehehe, ini jangan ditiru, kawan. Tapi ini bukan berarti saya cuma mau yang gratisan lho. Pemilik restoran padang itu senang karena saya sudah jadi pelanggan tetapnya. Pemilik kafe itu juga tidak rugi-rugi amat, karena harga korannya cuma enam ribu sedangkan saya bayar hampir lima puluh ribu untuk keik dan teh. Dan, sesudah nonton televisi dan baca artikel di koran itu saya semakin yakin dengan pilihan saya bahwa yang terbaik adalah mengurangi televisi dan koran sebisa-bisanya.

Lalu, kalau sudah berhenti baca koran, apa saja yang dibaca? Wah, banyak! Kandungan gizi pada minuman dan makanan dalam kemasan, misalnya. Atau petunjuk arah menuju toilet di mall. Atau mencari arti kata dalam kamus. Hehehe, ya tidak cuma itu. Ketika ingin belajar photoshop saya membaca buku mengenai photoshop, ketika diminta menulis tentang alpukat ya saya membaca buku tentang buah ini. Novel dan fiksi juga masih baca, siapa tahu jadi ketularan pintar menulis novel nantinya. Tapi, um… saya masih baca Bali Advertiser ding. Walaupun bentuknya koran, Bali Advertiser tidak seperti koran pada umumnya. Media yang terbit setiap dua minggu serta terutama ditujukan untuk para ekspat di Bali ini 85% isinya adalah iklan. Sisanya ramalan bintang, budaya Indonesia, tips-tips praktis, artikel “Say What?” yang menjawab persoalan pribadi, dan resep makanan. Berita lokal maupun mancanegara sedikit sekali. Jadi, menurut definisi saya, koran ini tidak termasuk koran betulan.

Ada dua alasan kenapa saya suka baca koran ini. Saya selalu tertarik dengan pandangan serta komentar orang asing mengenai bagaimana mereka melihat kita. Yang tadinya tidak disadari dan biasa-biasa saja sekarang jadi sesuatu yang menarik untuk dipikirkan. Misalnya ada orang Jepang yang berkomentar bahwa orang Indonesia suka sekali duduk. Dalam buku pelajaran di sekolah pun diberi ilustrasi keluarga bahagia dengan ayah yang duduk di sofa, ibu yang duduk di kursi sambil menyulam, kakak duduk di bangku pendek, adik duduk di lantai. Wah, betul juga. Kalau kita bertamu begitu masuk bukankah langsung dipersilakan duduk? Di percetakan, di agen perjalanan, di salon, sambil menunggu juga dipersilakan duduk. Memberi kursi berarti memberi penghormatan. Walaupun saya tidak ingin duduk dan lebih suka berdiri saja, mereka berulang-ulang menyuruh saya duduk. Ya sudah, turuti saja.

Ada juga tulisan yang membuka rahasia bahwa banyak orang Bali yang tidak patuh pada Hari Nyepi. Walaupun sering dipuji sebagai satu-satunya yang tidak merayakan tahun barunya dengan hura-hura, ternyata banyak di antara mereka yang menumpuk stok untuk melewati hari ini. Ya stok makanan, ya stok DVD. Nah lo, ketahuan….

Alasan kedua, saya sudah lama tergila-gila pada iklan yang sifatnya personal. Baru di koran ini saya tahu bahwa apa saja bisa diiklankan. Ada perempuan yang mau menjual baju-bajunya yang berukuran kecil karena akan pindah (bukan karena sudah gemuk). Ada yang menawarkan anjing untuk diadopsi. Anjing ini pintar dan terdidik dengan baik, katanya. Ada yang memberi tahu bahwa dia mengumpulkan plastik-plastik bekas, bersedia membayar lagi. Ada yang memberi info bahwa masih ada tempat dalam kontainer yang akan berangkat menuju Brisbane. Ada yang freezernya bocor karena tertusuk pisau dan mencari orang yang bisa membetulkan serta mengisi gasnya kembali. “I know this can be done,” tulisnya setengah memaksa. (Saya tahu memang bisa karena kakak saya pernah punya masalah yang sama. Perlu diinfokan tidak ya?). Ada bapak tua yang membutuhkan perempuan pendamping, maksudnya bukan istri lho, yang bisa berbicara Prancis. Ada juga iklan yang didonasikan oleh korannya sendiri. Ini adalah iklan-iklan mencari donor darah Rh negatif yang jarang di sini, serta program penyembuhan gratis untuk para pecandu alkohol dan narkoba. Lengkap kan? Dengan membaca iklan-iklan ini saya jadi merasa lebih mengenal manusia. Apa harapan mereka, apa kekhawatiran mereka, apa kebutuhan mereka, apa kegembiraan mereka, apa ketakutan mereka. Akhirnya, saya temukan sudah bacaan favorit saya, yaitu… iklan. :)

Selasa, 26 Juni 2012

Reuni


Kalau kita meninggalkan sebuah kota untuk tinggal di tempat lain, rasanya wajar jika kadang-kadang teringat pada teman-teman yang kita tinggalkan. Salah satu sarana untuk bertemu dengan teman-teman tadi adalah reuni sekolah. Tahun ini sudah dua kali saya diundang untuk datang ke reuni. Yang pertama adalah reuni SD. Terus terang saya agak malas datang. Di sekolah ini saya hanya dua tahun, kelas lima dan kelas enam. Saya agak heran juga kenapa mereka begitu gencar menelpon dan mengirim pesan singkat mengharapkan saya datang  padahal saya sendiri tidak merasa ingin ketemu. Dengan halus saya bilang bahwa saya ada di Bali dan tidak ada rencana untuk pergi ke Bandung untuk menghadiri reuni, salam untuk semua, dan semoga acaranya sukses.

Kalau reuni SMA lain lagi. Untuk yang ini saya benar-benar mempertimbangkan untuk datang. Soalnya saya masih berhubungan dengan beberapa teman SMA saya sampai sekarang, bahkan sahabat baik saya adalah teman semasa SMA. Jauh sekali bedanya dengan teman-teman SD yang langsung ‘menghilang’ tak tentu rimbanya setelah lulus. Sebenarnya pernah juga saya ketemu dengan beberapa teman SD ini sewaktu SMA dulu. Tapi ketika ditanya “Ingat nggak kejadian ini?”, “Ingat nggak kejadian itu?”, “Ingat nggak sama si A, si B?”, semuanya saya jawab tidak. Yah, kalau begini sih lebih baik tidak usah datang ke reuni saja daripada mempermalukan diri sendiri. Betul kan?

Sebenarnya tema utama semua reuni itu tidak jauh-jauh dari “Ingat ini? Ingat itu?” Semua orang, termasuk saya, suka bernostalgia tentang masa lalu yang lucu dan menyenangkan ketika masih lincah serta penuh semangat dan harapan indah akan masa depan. Reuni diharapkan bisa memutar balik waktu kembali ke zaman dulu. Tema lainnya adalah mencari tahu apa yang terjadi pada mereka sekarang. Kerja di mana, apa sudah berkeluarga, apa sudah punya anak. Termasuk diam-diam mengintip mobil apa yang mengantarnya ke reuni serta mengamati apakah baju atau tasnya bermerek. Hayoo, ngaku, hehehe. Buat mereka yang dulunya kuper, sering ditertawakan, penampilan tidak menarik, ditambah lagi bodoh, tentu tidak ingin muncul di reuni kecuali sekarang sudah mapan dalam suatu bidang. Yang sudah jadi pengusaha sukses akan menelpon koleganya membicarakan bisnis milyaran rupiah dengan suara keras agar ada yang mendengar.

Penampilan juga menarik untuk diamati, apalagi kalau reuni diadakan lama setelah lulus. Banyak kejutannya! Cerita tentang si itik buruk rupa yang berubah jadi burung undan cantik itu benar-benar ada lho. Julia Roberts misalnya. Dulu dia sering ditertawakan di sekolah karena bermulut lebar, sekarang dipuja karena kecantikannya juga. Jadi jangan dikira teman SMAmu yang dulu tidak menarik itu akan selamanya tidak menarik. Sebaliknya, yang dulu cantik sekali bisa saja sekarang kurus dan lesu. Yang dulu paling tampan sekarang gendut dan berperut buncit.

Masih dalam urusan reuni ini, seorang teman SMA menelpon. Begitu melihat namanya di layar handphone saya menyambut gembira, “Hai Va,” kata saya. “Eh, kamu mau pesen kaos nggak untuk reuni?” jawabnya tanpa basa-basi. “Harus sekarang nih, soalnya paling telat pesennya hari ini. Mau ukuran apa ?” Saya tertegun mendengar kata-katanya yang merepet seperti kereta api ekspres. Tidak ada pertanyaan sama sekali tentang kabar saya sesudah sekian lama tidak ketemu. Saya jadi ingat, ketika tiga bulan lalu ketemu di Bandung pun dia sama sekali tidak bertanya soal kehidupan saya di Ubud melainkan sibuk terus dengan cerita mengenai dirinya sendiri. Hahaha. Ya sudah, namanya juga tidak tertarik, buat apa tanya-tanya ? Seperti saya yang juga tidak memberi komentar ketika mendapat pesan singkat berisi kabar kematian ibu seorang teman sekelas di SD dulu. Saya tidak merasa dekat dengannya. Kalau saya mengucapkan bela sungkawa, saya tahu itu tidak keluar dari hati yang tulus. Lebih baik tidak usah saja, karena saya hanya ingin bersimpati kalau saya merasa demikian, bukan demi kesopanan yang dituntut oleh basa-basi pergaulan.

Jadi, kalau sudah memutuskan untuk hadir dalam reuni sekolah, datanglah dengan tujuan untuk bersenang-senang atau untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya. Untuk yang ingin memperluas jaringan bisnis kecil-kecilan melalui Facebook, catat semua alamat Facebook temanmu itu. Untuk yang ingin mengembangkan usaha, dekati teman yang sekarang sudah memiliki jabatan penting. Untuk yang ingin mencari teman, catat nomor handphone orang-orang yang dulu tidak terpikir untuk dijadikan teman. Untuk yang ingin bernostalgia, ngobrol, tertawa bersama, foto-foto, manfaatkan waktu sebaik-baiknya selama acara berlangsung. Jangan berlama-lama di sana karena sifat asli orang akan muncul setelah jangka waktu tertentu. Kalau sudah begini teman-temanmu itu akan jadi membosankan, menjengkelkan, atau menimbulkan rasa rikuh tidak tahu mau bicara apa lagi sesudah beberapa saat ngobrol. Makanya saya agak heran ketika ada kata-kata bahwa tujuan reuni sekolah saya adalah “membawa nama SMA kita ke tingkat nasional”. Kok serius amat sih? Ini kan cuma reuni.

Kalau ditanya reuni apa yang paling ingin saya hadiri, saya akan jawab reuni SD saya di Turen, kota kecil yang terletak di Jawa Timur. Hmm, kalau Indonesia saja disebut negri ‘antah berantah’ oleh Justin Beiber, apa ya sebutannya kota ini? Kota sayup-sayup di negri antah berantah? Di sana, ibu saya menyekolahkan saya di sekolah kampung dari kelas satu sampai kelas empat. Banyak teman sekelas saya yang tidak mengenakan sepatu dan berseragam seadanya saja. Saya masih ingat beberapa teman saya. Hesti yang mempunyai tiga saudara bernama Heni, Hudi, dan Haris, pokoknya semua dimulai dengan huruf H. Elsye Kandouw yang cantik sekali dan saya baru sadar sekarang bahwa dia punya darah Belanda. Jumiati yang mengaku bersuara seperti Tanti Yosepha dan di Hari Kartini mengenakan kebaya dan ber-BH padahal sebagai gadis kecil dia belum membutuhkannya. Wati yang setia menjemput saya untuk berangkat sekolah sama-sama, padahal rumahnya dekat dengan sekolah sedangkan rumah saya jauh dan berlawanan arahnya dari sekolah. Purwanti yang nakal yang menyuruh saya jangan mengadu ketika dia mengambil uang dari kotak kas di warung ibunya. Ririn yang rumahnya besar penuh pohon belimbing dan tinggal hanya bersama neneknya. Di mana ya mereka sekarang? Sudah jadi apa sekarang? Bagaimana kehidupannya? Penasaran, pingin tahu, kangen! Hehehe.

Jadi, kesimpulannya, kalau disikapi dengan baik reuni sekolah itu bisa memberi banyak manfaat dan kebahagiaan. Segala rasa hormat dan terima kasih saya sampaikan kepada mereka semua yang rela sibuk dan repot menyiapkan reuni. Mengumpulkan dana, menghubungi para alumni agar datang, menyiapkan makanan, hiburan, dan tetek-bengek lainnya. Semua itu tanpa dibayar, demi terselenggaranya acara yang berkesan.

Senin, 18 Juni 2012

Lumbung Yoga


Semakin hari semakin banyak orang yang mempraktikkan yoga dan meditasi serta mencari penyembuhan dengan metode alternatif seperti reiki, energi prana, pijat dan sebagainya. Ubud sudah lama menjadi pusat dari semua kegiatan tersebut, bahkan gaungnya sudah mencapai tingkat mancanegara dengan diselenggarakannya acara berskala internasional “Bali Spirit Festival” di sini. Ini adalah acara tahunan yang merayakan yoga, tari, dan musik. Salah seorang pengunjungnya menyebut festival ini sebagai surganya para yogi.  Musik, senandung, derum genderang, dan tawa memenuhi udara. Pelatihan-pelatihannya memberi inspirasi dan setiap orang senang berada di sana. Acara-acara musik yang diselenggarakan di malam hari menyajikan musisi terbaik dari seluruh penjuru dunia. Ini adalah festival terbaik di dunia!” demikian ulasannya yang dimuat dalam tripadvisor.co.id.

Sebuah tulisan di majalah tiga bulanan “UbudLife” menyebutkan bahwa Ubud adalah ruang tunggu transit spiritual terbaik di dunia. Segala macam krisis yang mungkin terjadi dalam hidup, seperti dikhianati pasangan, anak-anak meninggalkan rumah karena mereka beranjak dewasa, karir hancur karena krisis ekonomi, merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup, mencari kemajuan spiritual karena operasi plastik tidak berhasil, mendapat diagnosa yang mengerikan dan tidak ingin percaya pada dokter, adalah alasan banyak orang dari berbagai tempat di dunia datang ke Ubud. Di sini mereka melakukan meditasi, yoga atau mendatangi penyembuh dari berbagai aliran. Hehehe, Barat banget ya? Karena, meskipun meditasi dan yoga merupakan tradisi Timur, orang Indonesia untuk mengurangi beban batinnya akan lebih suka curhat di Facebook, mengadu pada orang tua, bergosip di arisan atau belanja habis-habisan. Paling tidak, begitulah kebiasaan teman-teman saya.

Baru beberapa hari yang lalu saya membaca iklan sebuah paket istimewa yang dinamakan Yoga Cruise di kafe dekat rumah. Sesuai dengan namanya, paket itu diselenggarakan di kapal kayu besar yang berlayar di perairan Bali dan sekitarnya. Acaranya adalah yoga, meditasi, snorkling, kayaking, kunjungan ke pulau-pulau Gili di Lombok. Fasilitas penunjangnya adalah makanan sehat ayurvedic, teh herbal, musik yang menenangkan. Bayangkan, meditasi di tengah laut! Kapan lagi bisa begini, ini pengalaman sekali seumur hidup lho. Mau ikutan? Paket 7 hari harganya 12 juta rupiah, kalau mau yang lebih murah ada juga yang 5 hari dengan harga 9,5 juta rupiah saja.  Paket lainnya, yang mengiklankan diri di papan pengumuman pasar swalayan, menyatakan bahwa pada dasarnya semua orang bisa melukis asal hambatan psikologisnya dihilangkan dulu. Dengan meditasi Anda dapat mengekspresikan semua bakat artistik dalam diri yang selama ini tidak tersalurkan dalam bentuk lukisan yang akan membuat diri Anda sendiri terkejut (gila, ternyata gua bisa ngelukis, bagus lagi!). Ini mengingatkan saya pada cerita seorang teman yang tiba-tiba bisa menari Jawa klasik padahal seumur-umur tidak pernah belajar. Nah, jadi tertarik kan? Karena diselenggarakan di darat, tentu harganya tidak semahal paket berlayar. Cukup 8 juta rupiah saja untuk seminggu. Lalu, apakah setelah program selesai masih bisa melukis ? Um… saya tidak tahu. Tanyakan pada Panitia deh !

Maaf kalau dua paket tadi semuanya di luar budget. Tapi masih bisa diakali kok, misalnya dengan memilih paket yang tidak all-in. Kalau kebetulan punya teman yang tinggal di Ubud dan bisa ditumpangi, kan lumayan, tidak perlu menggunakan fasilitas kamar yang disediakan sehingga harga bisa lebih murah. Tentu trik ini tidak bisa diterapkan untuk paket berlayar (kecuali kamu punya kenalan putri duyung yang tinggal di dasar laut). Atau, bisa juga mengambil paket yang lamanya 3-4 hari saja, bahkan paket 1-2 jam saja. Tinggal lihat di daftar, pilih mana yang menarik. Persis seperti memilih makanan di restoran padang, semua ada, semua lengkap. Ada yang menggunakan mantra. Ada yang menggunakan genderang afrika. Ada yang mengajak kamu menari bebas sesuai gejolak hati, tidak perlu punya pengalaman menari sebelumnya. Ada yang mengajak kamu tertawa terpingkal-pingkal meskipun sedang tidak ingin tersenyum apalagi tertawa. Ada yang menggunakan nyala obor, dan sebagainya. Sejauh ini metode paling ajaib yang pernah saya dengar adalah metode getar. Badan digetarkan dengan alat khusus selama 6 jam sehari, 3 hari berturut-turut. Ketika kenalan saya yang ikut program ini menerangkan apa gunanya metode ini untuk tubuh dan jiwa, saya sama sekali tidak bisa mendengarkan saking sibuknya mengatur otot-otot muka agar tidak menampilkan ekspresi ingin tertawa terbahak-bahak.

Nah, siapa bilang meditasi itu membosankan? Sensasi tidak hanya bisa didapat dengan naik ke puncak Menara Eiffel di Paris, ikut bungy jumping di Hongkong, menyelam bersama hiu, naik roller coaster di Disneyland. Hey, sensasi juga bisa didapatkan dengan menjalani meditasi di tempat sunyi! Saking keranjingannya orang akan sensasi, paket berlayar yang saya ceritakan tadi memberi jaminan bahwa peserta bisa berenang, snorkling, atau berperahu kapan saja mereka mau. Kalau mau leyeh-leyeh di pantai berpasir putih sebuah perahu siap mengantar kapan saja. Kurang apa lagi ?

Yoga dan meditasi memang populer di Ubud, tapi tidak di antara penduduk lokalnya. Malahan dalam buku “Jangan Mati di Bali” karangan Gde Aryantha Soethama disebutkan bahwa orang Bali jarang sekali bermeditasi. Sedangkan di antara para penetap yang bukan asli Bali, para yogi ini seperti sudah membentuk komunitas tersendiri. Banyak yang memanfaatkan kegiatan yoga untuk menguruskan badan, membentuk dada dan bokong agar padat, bahkan mencari pacar. Seperti percakapan yang terjadi di tengah-tengah sesi yoga ini. “Ups, sorry, nggak sengaja nyenggol. Kamu bilang berapa tadi ya, nomor telepon kamu?” Perempuan yang ditanya pun menjawab, “Saya sama sekali nggak bilang apa-apa.” “Oh ya? Jadi berapa nomornya ?” “00112233”, jawabnya dengan jengkel. Yang dijudesi sama sekali tidak tersinggung, dia cuma tersenyum dan bertanya ke perempuan lainnya, “Gerakan Menyalami Matahari kamu lentur sekali tadi. Bisa ajari saya gerakan Anjing meregangkan punggung? Saya ikuti dari belakang ya, dekat-dekat biar nggak salah.” :)

Lalu bagaimana dengan model meditasi yang saya ikuti akhir tahun yang lalu? Meditasi ini gratis, kita hanya diharapkan memberi sumbangan di akhir program pada vihara, yang dimasukkan dalam amplop tertutup tanpa menyertakan nama. Kalau benar-benar tidak punya uang, seperti teman sekamar saya, ya tinggal menyelinap pergi diam-diam, tidak apa-apa kok. Meditasi ini ‘sunyi’ dan ‘kering’, tanpa musik, tanpa tarian, tanpa mantra, tanpa zikir, bahkan ketika makan bersama pun  suasananya sunyi senyap. Hasilnya, 3 orang mengundurkan diri sebelum program berakhir, dan dari obrolan setelah program selesai banyak yang mengaku terus bertahan sampai akhir hanya karena merasa tanggung sudah kepalang basah. Yang merasa cocok juga banyak. Mereka ini yang bertekad akan terus bermeditasi meskipun sudah kembali ke kehidupan sehari-hari. Mungkin tekad ini akan kendor, meditasinya jadi jarang-jarang bahkan berhenti sama sekali beberapa bulan kemudian, untuk disegarkan lagi di program retret berikutnya. Tidak apa-apa. Walaupun sudah tahu bahwa meditasi bukanlah duduk bersila sambil menutup mata selama satu jam atau mengundurkan diri ke tempat sepi, melainkan menyadari pikiran dari waktu ke waktu, penyegaran kan perlu juga.