Rabu, 06 Maret 2013

Siapa Tinggal di Ubud (2)


Saya akan melanjutkan lagi cerita mengenai orang-orang yang saya temui di Ubud, masih dengan tema ‘apa yang membuat mereka datang’. Mari kita mulai.

Yang hidupnya monoton.
Tentu yang jadi bahan pembahasan ini akan menolak disebut hidupnya monoton. Mereka akan bilang beginilah cara menikmati hidup dengan sangat nikmat. Di belakang rumah saya agak ke samping kiri ada sebuah rumah yang ditinggali sebuah keluarga. Sudah berbulan-bulan mereka di sana. Entah dari negara mana, tapi kedua anaknya yang perempuan masih belasan tahun umurnya. Keluarga ini sangat tenang. Saya sering melihat salah seorang anaknya mondar-mandir di kamar, membereskan tempat tidur, menepuki bantal, dan menjemur berbagai taplak di teras. Anaknya yang lain bermenit-menit berjongkok di pematang sawah memperhatikan bunga liar berwarna putih. Kadang-kadang ketika ada hari besar Bali kedua anak remaja dan ibunya mengenakan kebaya sedangkan ayahnya bersarung dan berudeng, lalu semuanya meniti jalan setapak untuk pergi ke upacara. Kadang-kadang mereka bosan juga berada di satu tempat dan pergi untuk beberapa lama entah ke mana. Tapi, selalu, mereka kembali ke desa ini. Yang saya herankan, apakah mereka tidak sekolah? Ah, mungkin mereka mengikuti home schooling.

Rumah milik Billy juga sering disewakan kepada orang yang itu-itu saja. Mereka ini datang setiap tahun sampai 2-3 kali. Tinggal di rumah itu selama 2 bulan. Kerjanya berjam-jam membaca buku di teras. Selingan lainnya adalah ngobrol, baik dengan pembantu maupun sedikit orang yang diundangnya minum-minum. Seringnya berada di teras. Sudah. Kok nggak pergi surfing ya, atau jalan-jalan ke luar kota, atau apa kek, hehehe. Tapi saya akui hidup seperti itu enak juga. Berdiam di satu tempat untuk waktu cukup lama, menghayati kehidupan dan atmosfer suatu tempat, serta memiliki minat tentang bagaimana penduduk lokal hidup, tentu sama menariknya dengan berkunjung ke sebanyak mungkin tempat supaya bisa cerita ke handai tolan bahwa, “Saya pernah ke sini dan pernah ke situ.”

Yang pura-pura kerja.
Josh adalah orang Australia dan sudah sepuluh tahun tinggal di Ubud. Saya tidak tahu kepandaiannya berbahasa Indonesia, yang jelas dia tidak tahu apa itu laron. Orangnya kurang punya greget kalau bercerita. Cerita seru tentang ibu tirinya yang hampir diserang oleh kangguru diceritakannya dengan dingin-dingin saja. Menurut saya umurnya tidak lebih dari 35 tahun. Waktu saya tanya pekerjaannya dia bilang dia seorang desainer grafis. Klien didapatkannya melalui internet. Kadang-kadang mendapat pekerjaan melalui agen. Josh mengatakan, “Jangan mengharapkan kaya kalau tinggal di Ubud.” Saya kagum dengan kepandaiannya menyusun kalimat untuk mengatakan sesuatu secara tidak langsung. Kalau saya paling-paling cuma bilang, “Pekerjaan begini hasilnya tidak banyak.”

Baru setelahnya seorang kenalan yang lain bilang bahwa Josh punya sebuah rumah di Sydney yang diwarisi dari orang tuanya. Rumah itu disewakan dan hasil sewa itu yang terutama menutup biaya hidupnya sehari-hari. Saya rasa keputusannya tinggal di Ubud sangat tepat. Biaya hidup rendah kalau dibandingkan dengan Australia. Visa tidak ada masalah. Godaan untuk berhura-hura dan menikmati kehidupan malam tidak segencar di Kuta namun kehidupan sosial ala Australia bisa juga diperolehnya di sini. Jadi, tanpa kerja pun dia bisa hidup nyaman asal tidak boros.


Yang kerja kantoran.
Sungguh kasihan. Mereka ini terikat oleh jam kerja. Delapan jam sehari, lima hari seminggu. Walaupun begitu mereka selalu siap memanfaatkan waktu luang yang ada untuk menikmati apa saja yang bisa dinikmati oleh orang-orang yang lebih beruntung. Mungkin mereka menyesali diri karena bukan pelukis, penulis, atau pengusaha kafe, dan sabar menunggu sampai hari pensiun tiba.

Begitulah kira-kira gambarannya. Ini bukan gambaran lengkap lho, soalnya metoda ‘penelitian’nya juga tidak jelas alias seketemunya saja. Tidak ada wawancara segala macam, jadi pastilah banyak kurang dan tidak lengkapnya.
Anehnya, saya jarang ketemu orang Asia Timur seperti Jepang atau Korea yang sengaja tinggal di Ubud. Bukan berarti sama sekali tidak ada, kalau Ubud diubek tentu akan ketemu juga. Oh, maaf, ada ding seorang perempuan Korea yang datang teratur ke Ubud. Dia selalu ditemani oleh laki-laki penduduk lokal yang sama. Ada juga seorang perempuan Jepang  pemilik kafe tinggal di Ubud, tapi itu karena dia bersuamikan orang Inggris. Katanya sih orang Jepang tidak akan pindah ke luar negeri kecuali ditugaskan oleh kantornya. Sedangkan orang Indonesia biasanya pindah kota karena pekerjaan juga. Bisa ditugaskan oleh kantor atau karena memperoleh peluang kehidupan yang lebih baik di tempat lain. Sepertinya tidak banyak yang pindah semata-mata karena suka berada di suatu tempat. Ada juga sih yang pindah ke Ubud karena sudah neg dengan suasana kota dan nekat pindah ke sini walaupun  penghasilannya jadi berkurang jauh. Tapi orang-orang seperti ini jarang sekali. Lalu bagaimana dengan para pensiunan yang sudah tidak terikat lagi dengan pekerjaan? Mereka ini juga tidak bakalan pindah, karena tidak mau jauh-jauh dari anak dan cucunya.

Eh, ada yang ketinggalan. Ingin melahirkan secara normal juga bisa dijadikan alasan untuk tinggal sementara di Ubud. Contohnya adalah orang Medan ini. Hah, mau melahirkan saja kenapa harus ke Ubud, apa tidak ada tempat lain yang lebih dekat? Sepertinya perempuan ini kabur karena dokternya sejak awal mengatakan bayinya harus dilahirkan melalui operasi karena bayi yang dikandungnya sudah tahunan diusahakan dan baru berhasil sekarang, lagipula perempuan ini umurnya tidak lagi muda. Kalau dokter sudah bilang begitu, ke mana lagi harus cari dukungan? Ya ke Ubud, karena di sini ada satu klinik terkenal yang sangat mendorong perempuan untuk melahirkan secara normal.

Perempuan ini yang tadinya cuma berniat melahirkan ternyata jadi jatuh cinta pada Ubud. Waktu menemaninya mencari tempat di mana dia bisa tinggal saya ajak dia untuk melihat sebuah vila. Pertama dia menolak, karena vila terlalu mahal, belum lagi yang ingin saya tengok itu dari luar saja sudah terlihat besar. Saya membujuknya untuk mau masuk ke vila itu sekadar melihat-lihat. Yang penasaran sebenarnya saya, hehehe. Vila ini punya menara yang sudah lama ingin saya masuki. Maka masuklah kami setelah meminjam kuncinya. Pintu gerbangnya kami buka setelah mendaki beberapa anak tangga. Setelah melihat-lihat lantai pertama kami naik ke lantai dua, kemudian dari sini mendaki tangga lagi untuk pergi ke menaranya. Dan pemandangan dari sana, luar biasa! Jendela kacanya memberi kami pandangan seluas 360 derajat. Kami berada di tempat yang tinggi sekali. Punggung bukit yang pernah saya telusuri di acara jalan santai kelihatan menakjubkan di sebelah sana. Ubud menjadi lain kalau dilihat dari ketinggian seperti ini. Oh, andaikan aku burung yang bisa terbang tinggi sesukaku :).

Perempuan ini kembali ke rumahnya setelah melahirkan. Dua bulan lebih dia tinggal di Ubud. Niat awal datang ke Ubud hanya untuk melahirkan, sekarang dia jadi ingin datang lagi nanti, kalau ada waktu dan dana tentunya. Jadi, kalau kamu pergi ke Bali lagi nanti dan menganggap Ubud sama saja dengan tempat lainnya di Pulau Dewata, cobalah untuk tinggal sedikit lebih lama di sana. Berjalanlah di antara sawah-sawahnya, telusuri sungainya, bergabunglah dengan orang-orangnya, nikmati kehidupan malamnya yang tidak sehingar Kuta. Mungkin kamu akan merasakan getarannya dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke Ubud. Maka saya akan menulis tentang kamu sebagai orang yang tinggal di Ubud, di bawah sub judul ‘yang terbujuk’ :).

Rabu, 27 Februari 2013

Siapa Tinggal di Ubud (1)


Seorang penulis merangkumkan seperti ini: ‘Kuta adalah kegilaan, Sanur steril, Nusa Dua terisolasi secara kultural.  Ke Ubudlah orang pergi’.

Waktu teman saya tahu saya tinggal di Ubud dia berkomentar iri, “Aduh, romantisnya.” Pasti yang dibayangkannya sawah kuning bertingkat-tingkat, kehidupan tenang bersuasana liburan, dan alam hijau di mana-mana. Mm, sebenarnya sih tidak seromantis itu, tapi mumpung tinggal di Ubud, saya senang mengamati orang-orang yang saya temui sambil mencari tahu alasan mereka tinggal di sini. Tentu tidak termasuk penduduk lokal atau turis yang hanya tinggal beberapa hari di Ubud.

Yang kaya.
Golongan ini mudah dikenali dari rumahnya saja. Di seberang sawah dari rumah saya ada dua rumah super besar yang selalu kosong, salah satunya berlantai tiga. Untuk perawatannya diserahkan pada orang setempat. Rumah hanya ditinggali beberapa minggu dalam setahun. Selama kosong rumah ini tidak disewakan karena pemiliknya tidak butuh uang. Duh, gayanya….

Ada lagi seorang perempuan muda dari Rusia. Dia kelihatan anggun sekali mengendarai Scoopy-nya yang berwarna krem, sewarna dengan gaun yang dikenakannya. Waktu turun dari motornya terlihat tubuhnya yang menjulang tinggi semakin tinggi karena hak sepatunya 10 senti dengan model terbaru. Ternyata bukan saya saja yang suka sepatu berhak yang bisa menciptakan ilusi tubuh yang tinggi, gadis yang sudah bertubuh tinggi juga suka sepatu ini. Baju sack dress yang dikenakannya kelihatannya saja sangat sederhana, tapi semua perempuan tahu bahwa gaun itu buatan perancang dan kesederhanaan detilnya sebenarnya sangat mahal. Tentu saja dia tidak memakai helm karena benda itu akan merusak tampilannya yang sempurna.

Dia cerita mengenai rumahnya yang katanya punya pemandangan sangat indah. Pekerjaannya diterangkannya dengan samar-samar sehingga saya tidak mengerti apa itu sebenarnya. Dia berjanji akan mengundang saya ke rumahnya, tapi tidak bisa sekarang, katanya, karena dia akan pergi ke Thailand dengan pacarnya selama satu bulan. Wah asyik banget, punya kerjaan yang bisa ditinggal lama sekaligus menghasilkan uang banyak. Saya rasa dia cuma bersikap rendah hati, tidak mau mengatakan ke mana-mana bahwa dia sebenarnya kaya tanpa perlu kerja.

Yang punya usaha.
Ubud bisa menghasilkan uang bagi yang bermodal dan pintar melihat peluang. Seorang perempuan Amerika, umurnya 60 tapi kelihatan seperti baru 45 tahun, adalah contohnya. Dia suka menyewa rumah-rumah dari penduduk lokal dengan jangka waktu panjang. Rumah ini diperbaiki, diberi fasilitas lengkap, dan didekor ulang agar sesuai dengan selera para ekspat. Kemudian rumah-rumah ini siap disewakan lagi olehnya dengan harga yang berlipat. Tentu usaha seperti ini butuh modal besar dan juga koneksi luas.

Pilihan lainnya adalah berjualan. Saya tidak tahu persentasenya, yang jelas banyak sekali toko yang pemiliknya orang asing di Ubud. Mulai dari usaha yang terlihat sangat mapan sampai usaha yang (sepertinya) kecil, misalnya toko mungil yang menjual baju-baju yoga atau es krim. Pemiliknya mengontrol toko dari waktu ke waktu, berbicara dengan penjaga toko, kemudian sibuk di depan laptop melakukan pembukuan. Seorang teman Malaysia saya maju mundur terus untuk pindah ke Ubud, dan hanya bisa iri dengan teman Inggrisnya yang nekat meninggalkan kehidupannya di Inggris, bilang bye-bye ke pacar, terus pindah ke Ubud. Di sini dia bekerja keras, baik sebagai guru yoga maupun mengurus toko ‘sungguhan’ dan toko online-nya. Jadi, tidak semua orang yang pindah ke Ubud punya kehidupan santai.

Yang mendapat hadiah.
Ini cara paling enak untuk tinggal di Ubud. Yang mendapatkan rejeki nomplok ini adalah seorang Amerika. Dia baru beberapa bulan di Ubud, dan cuek saja berkeliaran di kota dan supermarket dengan mengenakan celana pendek tanpa baju. Mungkin mau mempertontonkan dada bidangnya yang diperoleh berkat profesinya sebagai perenang. Dan bukan perenang sembarang perenang. Dia perenang jarak jauh yang kerjaannya menyeberangi selat antar pulau dengan menggunakan kayuhan tangan dan tendangan kaki. Itu dilakukannya terutama untuk amal. Sudah beberapa kali dia berenang di Indonesia, biasanya setelah terjadi bencana alam seperti tsunami atau gempa besar. Dia berterus terang tidak punya banyak uang, dan bisa tinggal di Ubud berkat kebaikan hati teman-temannya yang patungan membiayainya selama satu tahun . Ya begitulah, orang yang banyak amal akan mendapat ganjaran yang sepantasnya :).

Yang mencari kesembuhan.
Secara tidak langsung kedatangan seseorang ke Ubud untuk mencari kesembuhan merugikan saya. Ceritanya, waktu itu saya diminta oleh teman untuk mencarikan vila yang akan disewanya selama dua minggu. Saya pergi ke luar kota setelah menemukan vila yang cocok. Saya tenang karena sudah memesan jauh-jauh hari dan juga membayar uang muka. Betapa kaget dan jengkelnya saya, ketika menelpon pemilik vila satu minggu sebelum kedatangan teman saya itu, ternyata vila yang sudah saya pesan diberikan kepada orang lain, bahkan sudah ditempati! Tanpa rasa bersalah pemilik vila berkata, “Jangan marah gitu, dong.” Katanya yang menempati vila itu sedang sakit keras, kanker, dan ingin bermeditasi tanpa diganggu. Saya diharap maklum. Ya, ya, ya, saya maklum… maklum karena orang ini menyewa selama tiga bulan, bahkan ada kemungkinan diperpanjang. Tentu pemilik vila ngiler dengan kesempatan ini, hasilnya lebih banyak daripada kalau vila disewa teman saya selama cuma dua minggu :(.

Selain sakit fisik ada juga orang yang datang ke Ubud untuk menyembuhkan kondisi batinnya. Seorang ibu muda dari Latvia sangat serius mencari kesembuhan ini. Ditinggalkannya anak dan suaminya di Latvia sana untuk tinggal di Ubud selama beberapa bulan. Dia berkeliling dari satu pelatihan meditasi ke pelatihan meditasi lainnya. Setahu saya sudah empat pelatihan yang dijalaninya, belum lagi mendatangi berbagai penyembuh spiritual dan mengikuti sesi channeling. Semoga dia mendapatkan jawaban atas apapun yang dicarinya.

Yang berjuang.
Tetangga sebelah kiri saya adalah seorang Amerika berusia 50-an. Saya sering menghindar kalau berpapasan dengan dia, paling cuma bilang “hello”, lalu cepat-cepat kabur sebelum diajak ngobrol. Gara-gara Aryo, tuh, dia yang melarang saya beramah tamah dengan perempuan yang hidup sendiri ini. Betapa malangnya. Yey… tidaak! Perempuan malang tidak akan berbicara keras-keras dan ngobrol berjam-jam di telepon, apalagi ngomongnya penuh basa-basi tak penting. Karena begitulah adanya perempuan ini. Dia juga bisa ngobrol dari teras atas rumahnya dengan pembantu yang sedang bersih-bersih di teras atas rumah-seberang-sawah. Teriak-teriak tentunya. Tiada hari tanpa saya mendengarkan suara kerasnya. Sekalinya, ketika sedang duduk-duduk di kafe langganan bersama dua orang kawan, perempuan ini melambai dari jauh. Saya merasa dia tidak melambai pada saya, jadi saya toleh teman semeja di sebelah kiri. Dia melengos pura-pura tidak melihat. Saya toleh teman sebelah kanan. Sama. Dia menunduk dan berbisik, “Jangan diperhatikan. Pura-pura saja tidak lihat.” Perempuan malang. Sekali itu saya merasa kasihan padanya.

Simpati saya tidak berumur panjang karena besoknya, pagi-pagi sekali, dia mulai lagi berbicara lantang dengan seseorang di telepon. “Hello, David,” katanya memulai. Saya yang baru bangun dan terseok-seok ke kamar mandi dengan mata setengah terpejam langsung sadar sesadar-sadarnya mendengar suara kencangnya menyapa David. Begitu berturut-turut. Ada David, ada Annie, ada Howard. Jangan-jangan dia punya daftar yang diurutnya satu per satu sesuai giliran. Di hari Nyepi dia juga berbicara keras-keras sampai akhirnya diam sendiri. Mungkin ada seseorang yang memperingatkannya. Misteri telepon yang tidak putus-putusnya ini akhirnya terpecahkan. Dia adalah seorang penasihat yang memberi jasa secara online. Mungkin kliennya di Amerika sana, makanya pagi-pagi sudah berkicau menyesuaikan dengan waktu Amerika. Dia sedang kesulitan uang (dia sendiri yang mengumumkan ketika bicara keras-keras di telepon). Kemudian saya lihat iklannya di kafe dekat rumah mencari orang untuk tinggal bersamanya dan berbagi uang sewa. Akhirnya dia benar-benar pergi dari rumah itu. Sekali lagi saya merasa kasihan padanya (dan lega juga, sih).

(Bersambung)

Selasa, 22 Januari 2013

Berjalan Tanpa Tujuan


Menjelang tahun baru banyak orang menyiapkan daftar resolusi. Mulai dari karir, relasi, rekreasi, spiritual… daftar ini panjangnya bergantung pada masing-masing orang. Saya termasuk orang yang tidak pernah punya resolusi untuk tahun baru. Ada yang menganggap ini aneh. Bagi mereka, menetapkan sasaran tahunan itu perlu. Hidup tanpa tujuan adalah hidup yang terombang-ambing, katanya.

Maka, betapa senangnya saya ketika paling tidak ada dua orang yang cukup berkompeten yang juga memandang bahwa resolusi itu tidak perlu. Alasannya sederhana saja. Pertama, resolusi yang kita canangkan itu sebagian besar tidak pernah tercapai. Kedua, resolusi membuat kita terpaku pada hal-hal yang  direncanakan saja. Banyak kesempatan, kemungkinan, dan peluang baru diabaikan karena tidak tertera dalam daftar. Cobalah untuk melangkah dengan telanjang kaki tanpa tujuan, kata salah seorang pakar itu. Kau akan terpesona dengan jalan apa saja yang kautemui dan lalui yang tak pernah terpikir untuk dijalani sebelumnya. Ditambahkannya pula bahwa kata-katanya itu adalah kiasan, jangan diartikan secara harafiah.

Seakan mendapat ilham, sore harinya nasihat itu langsung saya praktikkan. Tapi, secara harafiah saja, hehehe. Caranya? Buka pintu, jalan keluar, buka pintu pagar, dan jalan lagi. Sampai di simpang pertama saya berhenti. Lurus atau kanan? Sebelah kanan terlihat lebih menarik, jadi saya ambil yang kanan. Tak lama kemudian pertanyaan yang sama lagi: kiri atau kanan? Saya ambil yang kanan dan menyusuri jalan setapak dari semen. Hehe, ini sih memutari rumah sendiri. Di sebelah kiri sawah, di sebelah kanan deretan rumah-rumah tetangga saya sendiri.  Saya sangat jarang berjalan di sini, dan tidak pernah pergi sampai ke ujung, jadi penasaran juga apa yang akan saya temui di sana. Ternyata ujung jalan ini menabrak sebuah tembok berpintu, langsung masuk ke halaman rumah orang! Setelah celingukan, baru terlihat ada tangga menurun di antara semak-semak. Menurut perkiraan saya tangga ini menuju ke jalan besar yang akan membawa saya ke desa. Hm, kurang menarik, jalan itu terlalu sering saya lewati.

Tidak ada pilihan lain kecuali kembali ke arah dari mana saya datang. Nanti, waktu sampai di simpang yang terakhir, ambil saja arah yang berbeda, pikir saya. Tapi di tengah jalan saya dapat ide baru. Kenapa tidak menyeberangi sawah saja? Malas sebenarnya lihat pematang sawah yang becek di sana sini itu, belum lagi rumputnya sering membuat kaki gatal. Tapi saya ingat lagi niat awal untuk berjalan tanpa tujuan. Oke, nyebrang sawah!

Beberapa kali saya mesti melompati tempat-tempat yang becek dan kaki kecipratan lumpur. Di ujung sepetak sawah saya harus duduk dan memerosotkan badan karena petak selanjutnya satu meter lebih rendah. Lalu lewat dekat segerombol pohon pisang. Saya harus mepet sekali kalau tidak mau kejebur sawah. Pematangnya sudah tidak ada, berganti dengan tanah yang becek. Sial sekali. Padahal kalau dilihat dari teras lantai atas rumah saya orang sepertinya enak saja jalan di sini.

Nah, sampai juga di depan rumah Billy. Billy punya dua rumah yang berdampingan. Satu ditinggalinya sendiri, satu lagi disewakan. Dari rumah saya yang kelihatan cuma bagian belakang. Baru kali ini saya melihat bagian depannya. Asri sekali. Ada kolam kecil yang ditanami lotus. Dari balik tumbuhan tropis terlihat sofa empuk dengan bantal warna-warni. Saya jadi bersemangat. Saya telusuri jalan setapak itu, dan deretan rumah yang ada di sana semua punya halaman indah dan teduh.

Saya sama sekali tidak merasa rugi sudah bersusah-payah. Untuk selanjutnya saya cuma jalan terus, dan di setiap simpang jalan dengan asal saja memutuskan belok ke kiri atau ke kanan. Sawah sudah jarang, cuma ada satu dua petak kecil. Jalan setapak berbelok-belok. Rumah semuanya dirancang bagus, sebagian bertembok cukup tinggi sebagian tidak.

Saya itu paling suka masuk-masuk gang. Semakin ruwet dan tak terduga gang-gang itu, semakin suka saya. Kalau di Bandung gang-gang ini biasanya dihuni sangat rapat dengan rumah-rumah tanpa halaman, di sini banyak sekali tumbuhannya. Kalau tumbuhan, saya suka tanaman tropis yang diatur rimbun dan setengah liar. Saya juga suka rumah yang tidak terlalu besar tapi nyaman. Dan semuanya itu ada di sini! Saya jadi merasa seperti Alice yang berpetualang di Negeri Ajaib. Sama sekali tidak tahu ada tempat seperti ini di dekat rumah sendiri.

Bukan berarti semua lancar dan enak-enak saja. Dua kali saya digonggongi anjing. Anjing Billy yang tiga ekor dan dari jauh terlihat bersahabat serta riang dan suka saling tunggu waktu lari-lari di atas pematang sawah itu ternyata galak sekali. Bertiga mereka menggonggongi saya dengan sangat menyeramkan. Lalu ada lagi anjing kecil yang salakannya melebihi anjing yang ukurannya empat kali lebih besar dari dia. Jalan yang mepet sekali dengan halaman rumah sering membuat saya tidak yakin apakah jalan itu untuk umum atau bukan. Bisa-bisa dipelototi orang. Tapi saya nekat karena sudah kepalang tanggung. Saya akui saya juga sekali menerobos halaman orang (sesudah menoleh kiri kanan dulu) karena penasaran sekali dengan kolam teratainya.

Setelah berkeliaran lama, akhirnya sampai juga ke jalan besar yang sudah sangat saya kenal. Di antara jajaran restoran dan kafe ada satu tempat yang menurut plang namanya adalah tempat meditasi. Saya sering melihat orang-orang berpakaian putih-putih berkumpul di situ. Saya bukan orang yang biasa mendatangi suatu tempat tanpa rencana, dan saya tidak suka yang namanya seragam-seragaman, tapi... bukankah sekarang acaranya adalah berjalan tanpa tujuan? Jadi, saya masuki tempat itu.

Mereka ramah sekali, mengajak saya langsung bergabung, dan memanggil saya ‘Sis’. Walaupun metoda meditasi mereka berbeda dengan yang sudah saya pelajari, saya pikir tidak ada salahnya untuk dicoba. Saya memasuki ruangan yang penerangannya adalah lampu bercahaya merah yang redup. Untuk pemeditasi disediakan tempat duduk di karpet, dan di bagian depan ada sebuah kursi kosong yang seperti singgasana. Ada dua foto digantung. Saya rasa itu adalah foto Sang Guru. Ada meja rendah dengan beberapa persembahan. Yang menjadi fokus di ruangan itu adalah sebuah kain yang ditempelkan di dinding dan di pusatnya ada titik yang terang sekali. Dari titik itu ada pola-pola yang melebar semakin menjauh dari pusat. Tugas para pemeditasi adalah memandangi titik itu tanpa berkedip! Setelah beberapa menit memandangi titik ini mata saya jadi berkunang-kunang. Efek yang dihasilkannya mirip dengan baju warna-warni pelangi tie dye yang jadi mode beberapa tahun yang lalu. Kepala saya pusing dan mata saya ingin merem kalau berpapasan dengan orang yang mengenakan baju ini. Untunglah mode ini akhirnya berlalu juga.

Hari Minggu ternyata adalah hari khusus bagi kelompok meditasi itu. Buat saya, secara sederhana kekhususan itu bisa diterangkan begini: ada pembagian kue di akhir acara. Satu per satu maju. Kursi singgasana itu sekarang sudah diduduki oleh seorang perempuan. Asistennya yang duduk di sampingnya mengambil kue dengan hati-hati, diberikan kepada ‘Sang Ratu’ untuk diserahkan pada setiap orang yang kena giliran. Ketika tiba giliran saya, saya maju dengan berdebar-debar dan berdiri di hadapan Sang Ratu dengan khidmat. Terjadi dialog telepatis sebagai berikut. “Apakah kau merasa damai?” tanya Sang Ratu. “Eh…” jawab saya. Matanya menatap dalam, senyumnya halus dan sabar. “Apakah kau merasa bahwa kita semua bersaudara?.” “Eh…” jawab saya lagi. Senyumnya tetap sabar menunggu, wajahnya tetap ramah. “Kalau saya merasa damai, apakah saya akan diberi kue?” tanya saya akhirnya. Dia tetap tersenyum sabar mendengar pertanyaan saya yang tidak sopan itu. Saya jadi merasa bersalah. “Iya, saya merasa damai, dan merasa kita semua bersaudara,” kata saya pelan. Kue itu pun diberikan.

Begitulah pengalaman saya berjalan tanpa tujuan. Saya tidak pernah pergi ke tempat meditasi itu lagi, tapi saya jadi suka jalan blusukan ke mana-mana setelah itu. Coba sendiri deh, pasti tidak akan menyesal pergi berjalan tanpa tujuan.

Kamis, 13 Desember 2012

Bill the Builder


Bill datang ke Bali, tepatnya Ubud, setelah memutuskan untuk pensiun. Pekerjaannya yang dulu adalah jual beli properti, dan dia adalah seorang pengusaha yang sukses. Istrinya yang masih muda punya usaha sendiri dan masih ingin berkarir. Dia tidak mau menyertai Bill tinggal di Bali. Apa yang bisa dilakukannya di Bali? Dia pasti akan segera menjadi bosan. Karena itu Bill meninggalkan istri dan apartemennya yang indah di Australia dan memulai hidup barunya di Ubud. Langkah pertama yang dilakukannya adalah mencari rumah untuk disewa. Dia mendapatkan rumah besar berlantai dua, sebenarnya terlalu besar untuknya karena dia hidup sendiri, lengkap dengan kolam renang. Setelah itu dia membayar sebuah agen untuk mengurus untuk mendapatkan KITAS.

Tidak ada kegiatan penting yang dilakukannya sehari-hari. Dia amat jarang makan di rumah, bahkan untuk sarapan dia pergi ke kafe atau restoran favorit. Di beberapa restoran ini dia sudah jadi pengunjung tetap dan pelayan restoran selalu melayaninya dengan ramah walaupun hanya untuk secangkir kopi dan membiarkannya duduk di meja berjam-jam lamanya. Dia juga berkenalan dengan banyak orang. Dia jatuh cinta pada beberapa perempuan muda yang cukup pantas menjadi anaknya, dan mengejar-ngejar mereka. Beberapa nama perempuan ini menjadi akrab di telinga saya, seperti Diane si guru yoga, Sara si penulis buku perjalanan, dan Robin yang saya lupa apa profesinya. Saya mendapat kesan bahwa mereka ini sedikit mempermainkannya dan jual mahal. Walaupun Bill sering mengajak makan malam mewah lengkap dengan minuman anggur, ceritanya penuh dengan keraguan mengenai kelanjutan hubungannya dengan ketiga perempuan itu. Saya sampai bilang, sudahlah, cepat putuskan siapa pilihanmu. Tapi kalau perempuannya yang tidak mau ya itu soal lain.

Akhirnya Bill merasa bahwa yang diperlukannya adalah sebuah rumah baru. Rumah ini diperuntukkan bagi dirinya sendiri. Semua proses mulai dari mencari dan membeli tanah, mengawasi pembangunan sampai jadi, dan melengkapinya dengan mebel akan dilakukan sendiri. Mencari tanah tidak terlalu sukar. Asal ada uangnya, orang-orang setempat siap menjual tanah milik keluarga. Semakin bagus lokasinya semakin mahal harganya. Walaupun saya menggunakan kata 'menjual', sebenarnya yang saya maksud adalah menyewakan, biasanya minimal selama 20 tahun, karena orang asing tidak diperkenankan untuk membeli tanah.

Setelah melewati berbagai proses yang disebutnya tetek-bengek, yaitu membuat akta jual beli dan mengurus ijin pembangunan, sebuah acara selamatan khas Bali diadakan. Bill mengenakan pakaian adat Bali lengkap. Saya agak kecele di sini. Saya kira akan diundang pesta makan-makan, ternyata yang disuguhkan adalah ayam bakar bekas sesajen yang cuma dialasi koran serta diletakkan di tanah yang ditawarkan oleh pemilik asli tanah. Kami mati-matian menolak, tapi seorang perempuan Inggris ketiban sial dan terpaksa membawa ayam ini pulang dan kebingungan sendiri ayamnya mau diapakan. Lalu kami beramai-ramai pergi ke restoran dan makan siang di sana.

Bill bersemangat sekali dengan pembangunan rumah barunya. Dia yakin bahwa rumahnya akan selesai dalam waktu tiga bulan. Setelah tiga bulan terlewati dan rumahnya masih jauh dari selesai, dia harus menambahnya jadi 5 bulan, 7 bulan, 9 bulan,.... Waktu bulan puasa hampir tiba dia kuatir. Dia bertanya pada saya, apakah bulan puasa ini akan mempengaruhi kinerja para pekerjanya yang sebagian berasal dari Jawa? Saya bilang bahwa para pekerja kasar seperti mereka biasanya tidak berpuasa. "Oh, apakah itu karena mereka tinggal di Bali? Apa mereka juga tidak puasa seandainya tinggal di Indonesia?" Pertanyaan seperti ini sering membuat saya capek. Apa saya harus selalu memberi tahu bahwa Bali itu termasuk Indonesia?

Sekalipun sibuk dengan rumahnya dan terus berada di lokasi pembangunan di siang hari, malamnya Bill selalu siap beredar untuk menebarkan pesona. Heran juga saya, kenapa belum ada satu pun perempuan yang berhasil ditaklukkannya. Selalu saja muncul nama baru dan cerita Bill yang begitu penuh semangat tentang seorang perempuan kemudian berubah jadi ogah-ogahan di waktu yang lain untuk berubah jadi bersemangat lagi dengan seorang perempuan baru. Saya rasa perempuan-perempuan ini juga tidak bodoh. Daripada mengikatkan diri pada laki-laki yang masih berstatus menikah dan berumur jauh lebih tua, lebih baik memanfaatkannya saja untuk membiayai beberapa kegiatan yang menyenangkan. Ketika istri Bill datang mengunjunginya di Ubud, saya mengira hampir saja terjadi perang terbuka antara dua perempuan, yaitu istrinya dan Sara yang masih juga dikejar-kejarnya. Waktu itu kami sedang sarapan di sebuah kafe dan Sara yang ada di kafe yang sama datang mendekat. Rupanya Sara dan istri Bill sudah dikenalkan dua hari sebelumnya. Sara menyapa kami dan bahkan memeluk istri Bill. "How are you?" tanyanya. "Oh, fantastic!" istri Bill menjawab dengan ekspresi berlebihan yang sering saya lihat dilakukan oleh banyak perempuan ekspat di sini. Sampai sekarang ekspresi ini tidak pernah bisa saya tirukan. Terlalu lebay, ah.

Istri Bill bilang bahwa Bill terlihat sangat sehat dan bahagia tinggal di Ubud. Membangun rumah benar-benar cocok untuknya. Bill jadi punya kegiatan dan tidak cuma lontang-lantung sampai bosan setengah mati di sini. Bahkan kedua suami-istri ini sudah membuat kesepakatan bahwa si istri akan mengunjunginya dengan teratur, setiap lima minggu sekali. Bill juga akan pulang ke Australia di sekitar Natal selama tiga minggu. Wah, ini benar-benar kemajuan untuk Bill. Mungkin pada dasarnya dia orang yang menyukai kehidupan berkeluarga. Dia pernah menunjukkan sebuah foto pada saya yang menampakkan empat orang perempuan. Dua bekas istri, satu istri, dan satu anak perempuan. Dia bangga sekali waktu itu, dan mengatakan ketiga istrinya saling rukun dan bersahabat. "Itu karena saya baik terhadap mereka," tambahnya.

Tak lama setelah itu Bill memutuskan bahwa membangun rumah akan dijadikannya sebagai profesi. Dia akan membeli dan membangunkan rumah untuk orang lain. Katanya dia bisa mendapat untung besar sekali. Terus terang saya ngeri mendengarnya. Saya tahu bahwa orang begitu mudah melepas tanahnya. Himbauan agar orang lebih baik menyewa dan bukan membangun rumah yang akan ditempati hanya beberapa minggu dalam setahun, atau himbauan untuk tidak membeli tanah yang tadinya adalah sawah, sepertinya sia-sia saja.

Lama tidak bertemu dengan Bill, suatu hari saya melihatnya sedang makan siang di restoran. Saya dan teman saya diperkenalkannya pada teman makannya. Ternyata orang itu adalah klien yang minta dibangunkan rumah oleh Bill. Teman saya berkomentar, "Nah, karena sekarang kalian berdua sudah masuk dalam bisnis properti di Bali, saya yakin kalian tentu akan peduli dengan kelangsungan ekologis dan membangun rumah yang ramah lingkungan di sini." Bill memandang teman saya itu dengan dingin. "Apakah saya pernah mengajari kamu melakukan pekerjaan kamu?" tanyanya tanpa minta dijawab.

Jangan ganggu Bill, dia sedang asyik dengan mainan barunya! Tapi kegiatan lamanya mengejar-ngejar perempuan tidak ditinggalkan. Seorang teman yang lain menyuruhnya berhenti saja. "Kamu punya istri yang muda, cantik, dan mandiri. Untuk apa mengejar perempuan itu? Dia tidak mau sama kamu, karena tahu kamu beristri. Lebih baik berikan saja nomor telepon Ursula pada saya." Bill memandang si lancang mulut ini dengan dingin. Katanya, "Kamu sama sekali tidak punya kesempatan untuk mendapat perhatian dari Ursula." Sekali lagi, jangan ganggu dia. Bill tidak bisa dihentikan dan dia akan menantang setiap orang yang mencoba melakukannya.