Senin, 29 Oktober 2012

Masih tentang URWF


Untuk mengikuti acara-acara utama di Ubud Readers and Writers Festival ini kita harus pandai-pandai memilih, dan yang lebih penting, jangan serakah. Kalau serakah malah bisa frustrasi sendiri, kan tidak mungkin semua acara mau diikuti. Selama empat hari acara berlangsung serempak dari pagi sampai sore di tiga tempat berbeda. Ketiga tempat itu letaknya berdekatan, jadi peserta bisa pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan mudah. Dua di antara tempat itu adalah restoran, letaknya bersebelahan, jadi benar-benar tinggal keluar dari satu pintu terus masuk ke pintu yang lain. Yang satu lagi adalah Museum Neka, harus ditempuh kira-kira lima menit jalan kaki (jalannya yang cepat, ya) dari kedua restoran tadi. Kalau masih pagi sih tidak apa-apa, tapi kalau sudah siang panasnya minta ampun. Jadi, walaupun ada acara menarik diselenggarakan di Museum Neka, saya yang sudah berada di suatu acara di restoran tadi memilih untuk tetap tinggal di tempat yang sama.

Gara-gara malas jalan kaki di siang bolong itulah saya kehilangan kesempatan untuk mendengar pembahasan buku Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer. Padahal ini adalah tema festival tahun ini. Karena tempatnya luas, Museum Neka dipilih untuk acara yang diperkirakan peminatnya pasti banyak. Jose Ramos Horta juga bicara di sini. Ternyata beliau ini juga seorang penulis, dan buku anak-anak yang ditulisnya kalau tidak salah tokoh utamanya adalah seekor buaya. Sudah bisa ditebak bahwa pembicara dan pendengar lebih suka untuk tidak membahas buku ini. Yang lebih menarik untuk dibicarakan adalah tentang masa depan Timor Timur, hubungannya dengan Indonesia, dan bagaimana mereka mengubur luka lama. Ramos Horta ini orangnya lucu sekali, dan tidak terlihat dendam sedikit pun pada perlakuan pemerintah kita dulu terhadapnya. Berkali-kali dia membuat para pendengarnya tertawa. Katanya, yang mestinya dapat penghargaan Nobel itu Presiden Soeharto. Namun panitia seleksi Nobel salah ucap, yang harusnya Pak Harto jadi Pak Horta.

Ada satu acara lain yang khusus membahas tentang humor dalam buku. Panitia memilih dua penulis dengan cara yang sangat ajaib, atau pintar sekali. Yang seorang adalah pastor dari Kupang, kulitnya hitam dan mukanya keras. Yang seorang lagi perempuan penulis muda dari Norwegia, mukanya pucat sekali dan rambutnya juga pirang sekali, hampir putih. Pastor ini sangat periang. Acara dibuka dengan permainan gitarnya sambil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Saking riangnya lagu ini, para pendengar ikut bertepuk tangan mengikuti irama walaupun tidak mengerti lagunya: "kucing mengeong, ekornya melingkar, disambar kilat, meong-meong-meong," nyanyinya. Penulis Norwegia di sebelahnya hanya tersenyum sangat tipis sementara yang lain bertepuk.

Penulis Norwegia ini bilang bahwa dia sering ditanya orang, apakah benar orang-orang Nordic itu jarang tertawa? Dia bilang memang benar. Tapi bukan berarti mereka tidak suka humor. Hanya saja, humornya lain. Dia bercerita tentang  buku mengenai perang yang pernah dibacanya. Perang itu kejam dan absurd, menertawakan perang adalah lebih dari absurd. Dalam buku itu digambarkan kepala-kepala yang terpenggal, dan satu-satunya reaksi yang mungkin adalah tertawa terbahak-bahak. Hm, dalam bayangan saya, pastor dan perempuan Norwegia ini tentu tidak akan sepakat tentang apa yang disebut lucu, sampai kapan pun. Tapi para pendengar sangat tertarik dengan pembicaraan perempuan ini. Saya juga, jadi saya beli bukunya yang bercerita tentang perempuan tua yang dalam ketakutannya menyambut kematian melakukan hal-hal yang absurd.

Seorang pembicara di sesi lain adalah penulis puisi yang tinggal di kaki gunung Jawa Barat. Cara berbicaranya sangat Sunda, seperti profesi yang diucapkan propesi dan novel yang diucapkan nopel. Puisinya sama menariknya dengan ceritanya mengenai kehidupan sehari-hari, dan memang puisinya berisi cerita kehidupan sehari-hari. "Bagi saya, melihat petani kedinginan berangkat ke ladang di pagi hari sudah merupakan puisi itu sendiri," katanya menjelaskan. Kadang pembicaraannya terdengar lugu, seperti bagaimana petani miskin harus tahan mandi dengan air dingin. Kalaupun ingin mandi dengan air hangat, mereka menghangatkannya dengan cara mengalirkan listrik ke air. Jadi harus sangat hati-hati, bisa-bisa kesetrum! Sepertinya dia tidak selugu yang ditampilkannya karena dia berpendidikan tinggi. Tapi seperti banyak orang Sunda lainnya, dia suka melucu. Orang Sunda bilang ngabodor. Penerjemahnya yang berkulit putih tidak menerjemahkan semua banyolannya itu, mungkin karena tidak mengerti di mana letak lucunya.

Ketika diskusi selesai dan orang-orang meninggalkan tempat duduk untuk pindah ke tempat lain, saya tetap diam di tempat. Seorang perempuan duduk di samping saya. Katanya dia adalah guru SMU dari Jakarta yang membawa murid-muridnya ke Ubud khusus untuk menghadiri festival ini. Dia juga banyak tanya soal brem Bali, katanya pesanan orang. Belinya di mana, jenisnya apa saja, mereknya apa saja. "Maaf ya, saya banyak tanya-tanya, soalnya saya bukan peminum." Eh, apa maksudnya, nih. Dipikirnya saya ini peminum, apa? Dia tanya lagi, brem apa yang paling bagus? Saya jawab, pilih saja yang paling mahal. Wah, dia tertawa keras-keras sampai beberapa orang melirik tajam karena panelis sudah mulai berbicara di depan ruangan. Astaga, selucu itukah, sampai harus tertawa keras-keras? Selama acara berlangsung dia sibuk memencet-mencet dan memperhatikan layar handphonenya saja.

Beberapa kali saya melihat sekelompok remaja perempuan masuk ke ruangan berombongan, duduk sebentar mendengarkan, bergerak-gerak gelisah, kemudian keluar lagi sambil berjingkat-jingkat. Saya maklum, tentunya acara ini terlalu berat untuk mereka, apalagi semua pembicaraan dalam bahasa Inggris. Pasti ibu gurunya kurang teliti memilih program nih, karena sebenarnya festival ini juga menyelenggarakan berbagai acara khusus untuk remaja dan anak-anak. Kelompok remaja laki-lakinya bersikap lebih berani, mereka memilih untuk berlama-lama nongkrong di restoran sambil memasang musik keras-keras. Saya hampiri mereka, dan bilang, "Di sebelah sana dipasang musik gamelan Jawa baguus sekali, tapi saya nggak bisa dengar karena musik di sini terlalu keras." Mereka spontan menjawab, "Aduh..., maaf, Tante!" Penyesalannya tulus sekali dan musik langsung dimatikan, tapi... hey! siapa kasih ijin untuk panggil saya Tante? Sejak kapan saya nikah sama Oom-mu?

Waktu sedang istirahat di bangku di bawah tenda seorang kakek-kakek minta ijin untuk duduk di depan saya di bangku yang masih kosong. Dia bertanya apakah saya seorang penulis. "I am trying," jawab saya. Kakek itu dengan semangat membalas, "Me too." Wah, saya salut dengan kakek ini. Sudah tua tapi masih punya minat untuk melakukan sesuatu yang disukainya. Dia datang jauh-jauh dari negaranya untuk mengikuti acara festival ini. Karena saya sudah baca keempat tetralogi buku Pram, dan dia baru baca yang jilid satu, dipaksanya saya menceritakan apa yang terjadi pada suatu keluarga. Yang lupa pun saya karang-karang saja, habis, dia terus memaksa saya untuk ingat! Kakek ini juga bercerita mengenai buku yang sedang ditulisnya dan minta pendapat saya segala, hehehe. Enaknya jadi manula di negara maju. Sudah pensiun bisa menikmati hari-harinya dengan santai sambil bepergian ke sana ke mari. Anak-anak SMU itu juga beruntung. Walaupun bosan dengar ceramah mereka bisa nonton film yang tidak biasa setiap sore, seperti Drupadi misalnya. Kapan bisa nonton film sebagus ini kalau bukan di festival?

Jumat, 07 September 2012

Libur Dulu

Dari tanggal 8 sampai 16 September saya akan pergi ke luar kota tanpa akses komputer, internet, bahkan hp. Jadi, libur dulu menulisnya. Sampai ketemu lagi setelah tanggal 16 ya! :)

Minggu, 02 September 2012

Balada Nama


Ada seseorang yang meminta untuk ditambahkan pada daftar teman saya di situs pertemanan Facebook. Namanya panjang dan megah sekali, seperti nama raja-raja Jawa zaman dulu, tapi tidak saya kenali. Fotonya juga tidak. Bagaimana mau kenal, la wong fotonya hanya menampakkan satu buah matanya saja yang di-close up? Untung orang ini masih bisa berpikir panjang karena dia juga meninggalkan pesan untuk memberi tahu jati dirinya. Kalau tidak, tentu permintaannya itu akan saya abaikan saja.

Ternyata dia adalah teman sekelas saya waktu kuliah dulu. Dan dia sudah berganti nama. Pantas saja saya tidak kenal. Setelah beberapa kali chatting saya tahu bahwa dia serius sekali dalam hal mengganti nama ini. Namanya yang baru sudah disahkan melalui pengadilan segala. KTPnya pun sudah dengan nama yang baru. Dia bilang tidak sembarangan dalam memilih nama. Dalam namanya yang baru itu terkandung mantra yang akan menyebabkannya selalu tampil awet muda, murah rejeki, dan terkenal. “Ng…, sudah tercapaikah cita-citamu itu?” tanya saya. “Tentu saja,” jawabnya. Memang saya lihat dari foto-fotonya bahwa dia terlihat awet muda, punya rumah bagus, dan sepertinya punya usaha pula selain berprofesi sebagai dosen. Kalau soal terkenal tadi? “Saya pernah diwawancara oleh TV Bandung,” jawabnya. Oh!

Dia bilang nama saya harus diganti juga. “Kamu mau jadi seperti apa?” tanyanya. Saya ikuti saja permainannya, sebuah obrolan iseng dan menghibur, walaupun sebenarnya diam-diam saya juga mengharapkan bisa punya uang banyak melalui nama yang membawa hoki, hehehe. Tapi akhirnya saya cuma bilang mau jadi orang yang spiritualis. Soalnya malu mau bilang pingin kaya, hehehe. Katanya lagi, kalau begitu nama saya harus ada huruf Z dan Unya. “Bagaimana kalau Zuc?” katanya. Heh, nama apaan tuh! Jelas saya protes. Akhirnya setelah dikotak-katik didapatlah nama Zuba. Oke deh, nama itu akan saya tulis di selembar kertas, kemudian saya segel dan simpan baik-baik ya? “Tidak bisa,” katanya. Harus disahkan di pengadilan, digunakan di KTP, dan jangan mau menoleh lagi kalau dipanggil dengan nama yang lama. Wah… berat banget syaratnya! Gagal deh saya berganti nama. Dan benar saja, sekarang kalau latihan meditasi kok rasanya susah ya. Ini pasti karena nama saya bukan Zuc. :(

Jelas saja saya tidak mau ganti nama. Nama saya itu menurut saya cukup bagus dan mudah diucapkan oleh orang dari negara mana saja. Paling tidak, dengan sedikit latihan orang yang pengucapannya tidak benar bisa diperbaiki dengan segera. Nama saya itu juga sama dengan nama seorang bintang film. Walaupun bintang film zaman dulu, dia cukup terkenal (di antara orang-orang seumuran orang tua saya kalee). Selain itu, asal-usul nama saya itu tidak begitu jelas, dan saya suka yang tidak begitu jelas. Seperti misteri, begitu, hehehe. Kata yang memberi nama, yaitu ayah saya sendiri, nama saya itu disebut dalam sebuah lagu ninabobok berbahasa Jerman. Dari situlah nama saya diambil. Saya kok ragu ya, menurut saya lebih mungkin nama itu dicontek dari poster film di bioskop, tapi ayah saya berkeras bahwa kejadiannya memang begitu. Ya sudahlah. Mana bisa saya membantah, kan waktu itu saya belum lahir.

Setiap orang punya nama favorit, dan saya paling suka nama-nama Bali. Nama kesukaan saya adalah Ngurah. Tapi saya suka juga nama-nama seperti Rajig, Pugig, Jembong, Gerebig, Lempad. Sayang, banyak sekali di antara mereka yang menyesuaikan namanya agar lebih berterima di tingkat nasional, seperti Dewi atau Ani. Nama-nama seperti itu kan biasa banget, ya. Sedangkan nama-nama yang luar biasa seperti John, Raffles, Winston Churchill, Washington, jangan salah, itu adalah nama orang Padang dan Batak!

Ketika anak kedua kakak saya lahir, saya terheran-heran karena dia belum menyiapkan nama, tapi sekaligus senang karena kami diberi kesempatan untuk memilihkan. Nah, bagus itu, sebagai tantenya saya tidak mau dong punya keponakan namanya Oneng atau Iteung (aduh, aduh, maaf, bukan bermaksud menghina. Tapi setuju kan bahwa nama itu kurang manis di telinga?). Kami sepakat bahwa nama yang harus dipilih jangan kebarat-baratan namun tetap enak didengar. Akhirnya pilihan jatuh pada Puti, diambil dari Puti Reno Bungsu, seorang ratu (atau putri raja ya?) Minangkabau. Saya agak kesal kalau ada yang merasa nama itu asing dan mengira nama yang sesungguhnya adalah Putri. Haduh, Putri itu kan nama yang banyak banget pemakainya :( (maaf, sekali lagi maaf).

Di kalangan kelas menengah atas ada kecenderungan untuk memberi nama yang berbau Barat pada anak.  Waktu saya masih bekerja di sekolah yang katanya bertaraf internasional, nama-nama yang saya dapati di antaranya adalah Caitlyn, Rebecca, Matthew, Steven, Henry dsb. Dan mereka itu semuanya anak Indonesia, lho. Ada sepasang adik kakak di sekolah itu yang namanya saya suka sekali, yaitu Prince dan Lady. Saya agak heran, kok bisa pas sekali ya. Kedua nama itu saya kenal dari buku seri Rumah Kecil karangan Laura Ingalls, bacaan favorit saya sejak kecil sampai sekarang. Seorang tokoh dalam cerita itu, yaitu Almanzo Wilder, punya pasangan kuda bernama Prince dan Lady. Mungkin orang tua anak-anak itu juga penggemar seri Rumah Kecil. Kalau saja dia adalah teman saya sendiri, tentu akan saya tanyai untuk memastikan. Tapi saya diam saja walaupun penasaran, karena tidak mau menyinggung perasaan orang tua. Padahal sih, kan kuda itu yang menggunakan nama manusia, bukan sebaliknya, ya.

Nama-nama yang keren di sekolah itu sepertinya agak asing bagi Pio, seorang penjaga sekolah yang juga sering merangkap sebagai pekerja serabutan di sana. Salah seorang ibu dari anak-anak ini pernah mendatangi saya dengan muka yang kurang senang. Dia bilang, “Masa nama anak saya ditulisnya begini?” Saya baca nama yang tertera pada CD berisi foto-foto yang dipesannya beberapa hari yang lalu, yang disodorkannya di depan hidung saya. Ternyata di sana tertulis STHEPFEN. Terang saja ibu Steven kurang senang. Aduh Pio…, kamu bikin malu saya saja. Saya tidak berani membela diri dengan mengatakan itu tulisan Pio, nanti dia malah protes kenapa penjaga sekolah mengerjakan pekerjaan yang seharusnya saya lakukan? Yah, terpaksa saya pasrah saja dianggap kampungan tidak bisa menulis nama anaknya dengan benar. :(

Kalau kita senang menggunakan nama yang kebarat-baratan, sebaliknya, sementara orang Barat pun suka nama-nama yang dianggap eksotis. Di Ubud ini saya dapati orang-orang bule bernama Yaari, Shanti, Samapan, Rama. Pasti mereka ini orang-orang yang berinisiatif mengganti namanya sendiri. Kalau teman saya yang diceritakan di bagian awal tadi mengganti nama setelah menghitung-hitung dan menggunakan primbon segala, mereka ini mungkin mengganti namanya setelah pergi ke India atau bahkan Tibet dan mendapatkan bisikan gaib setelah memperoleh pencerahan di sana. Aduh, macam-macam saja, tapi menarik juga sih untuk dibicarakan. Di kelas conversation beberapa tahun lalu kami juga membahas soal nama. “Nama untuk anak perempuan yang khas Cina biasanya diambil dari nama bunga,” kata salah seorang. “Kalau untuk anak laki-laki….” Belum selesai dia bicara gurunya iseng melanjutkan, “Diambil dari nama sayuran?” Terbayang tidak sih, ada orang namanya Kentang, Wortel, Kol. Hehehe.

Kamis, 30 Agustus 2012

Negeri Para Raksasa, Roh dan Jin


Dalam satu hari, waktu yang paling saya suka adalah menjelang matahari terbenam. Semakin malam semakin suka saya pada suasananya. Apalagi kalau saat itu saya sedang dalam perjalanan di tempat yang agak sepi di daerah pedesaan yang jauh dari kota. Pohon lebat di kiri kanan, jurang dan lembah, jembatan kayu di atas sungai yang deras. Ini diselingi dengan kelompok rumah-rumah sederhana yang diterangi lampu yang suram, sedangkan orang hanya terlihat satu dua di sana-sini. Inilah saatnya ketika para raksana, jin dan makhluk halus lainnya berkeliaran, mengendap, dan mengintai orang-orang yang lengah.

Ada satu foto dari masa kecil yang sangat saya sukai dan saya simpan selama beberapa waktu. Foto yang diambil oleh ayah saya itu memperlihatkan saya bersama ibu, kakak, dan adik berpose di depan VW kodok berwarna putih yang diparkir di pinggir jalan. Latar belakangnya adalah sawah yang luas membentang. Langitnya hitam mendung, suram sekali. Semua warna diliputi oleh sapuan kelabu gelap. Suasana suram di foto itu begitu mencekam, bahkan senyum kami terlihat ragu-ragu. Saya ingat bahwa waktu itu kami segan sekali keluar mobil untuk diambil gambarnya.

Hari Galungan yang sekarang ini saya lewatkan dengan diam di rumah. Tidak seperti tahun lalu—yang saya maksud adalah tahun Bali yang lamanya lebih kurang 6 bulan Masehi—di mana pagi-pagi sudah keluar, sekarang saya tidak terlalu antusias dengan segala macam penjor. Baru pada sore harinya teman saya mengajak ke Ubud. Saya senang, pergi ke Ubud berarti bisa makan es krim Italia yang lembut dan enak sekali. Tapi karena motor kami terhalang kemacetan panjang yang disebabkan oleh rombongan barong, teman saya yang tidak sabar memutar motor dan kemudian berbelok ke kiri keluar dari kota Ubud. Motor dijalankannya berkilo-kilo meter. Haduh, mau ke mana ini? Saya tidak siap ke luar kota karena pakaian saya hanya celana pendek dan kaos. Untung di bagasi ada sehelai sarung, jadi saya ikatkan saja di bahu jadi semacam ponco. Teman saya juga meyakinkan saya bahwa kami tidak akan pergi sampai ke Kintamani. Terlalu jauh dan dingin.

Sedikit setelah melewati Tegallalang motor dibelokkan ke kiri. Suasana jadi berbeda. Jalan raya yang mulus digantikan dengan perkampungan dan pohon-pohon besar yang lebat. Menjelang matahari terbenam kami berhenti di sebuah pura. Gerbangnya yang dikunci hanya mengijinkan kami melongok melalui tembok yang tua dan tak terurus serta diliputi lumut ke pelatarannya yang sama suramnya. Dua raksasa menjaga gerbang itu, masing-masing membawa gada di tangannya. Mata mereka membelalak menyeramkan, mulutnya menyeringai memperlihatkan sepasang taring yang tajam. Saya merasa tidak diinginkan ada di sini. Sekelompok anak kecil ribut menyapa sambil melambaikan tangan dari kejauhan, meminta maaf atas sambutan raksasa yang kurang ramah.

Perjalanan dilanjutkan melewati jalan yang semakin sepi. Pohon-pohon beringin tumbuh lebat sekali, akarnya yang bergantungan menjulur ke bawah sampai menyentuh kepala kami. Sinar matahari yang hanya sedikit tersisa tidak sanggup menembus lebatnya dedaunan. Motor dijalankan pelan-pelan. Ketika lembabnya suasana hutan lebat terlewati, yang kami temukan adalah pura-pura kecil tak terurus yang berlumut dengan gerbang yang lagi-lagi dikunci. Kemudian muncul kelompok rumah-rumah, toko dan warung sederhana dengan lampu yang sudah dinyalakan. Jajaran penjor terlihat kurang meriah karena suasananya sudah menjelang malam. Kebanyakan rumah memiliki halaman yang bertembok yang menghalangi pandangan orang yang serba ingin tahu. Ketika ini pun terlewati, sawah terbentang luas di kejauhan. Di sebelah sana ada Pak Tani yang terlambat pulang ke rumah, dia memanggul karung besar sambil membawa celurit di tangan. Pembantu saya dulu sering menakut-nakuti bahwa petani di sawah yang membawa karung dan celurit ini menyembunyikan seorang anak kecil yang baru diculiknya di dalam karung. Ceritanya ini sanggup membuat saya cepat-cepat pulang begitu Magrib menjelang. Bahkan kalau bersepeda siang-siang, begitu melihat petani membawa karung saya cepat-cepat mengayuh sepeda pulang sambil ketakutan.

Kami kembali melewati jejeran rumah-rumah yang semua pintu dan jendelanya tertutup. Rumah-rumah itu juga mengingatkan saya pada waktu yang sudah lewat. Sebagai anak kecil, saya selalu terdiam dan terseret dalam imajinasi liar ketika dalam perjalanan dengan mobil dari Bandung ke Malang atau sebaliknya, bertahun-tahun yang lalu. Apa yang ada di dalam rumah-rumah berdinding bilik, berlantai tanah yang pintunya tertutup rapat itu? Mungkin di sana ada sepasang adik kakak yang sedang menunggu orang tuanya yang tidak pulang-pulang? Mungkin ada seorang ibu yang sedang menghidangkan nasi dan sayur bayam untuk seluruh keluarga yang semuanya diam? Mungkin ada kamar yang kotor dengan seseorang sedang berbaring di dipan? Ingin sekali rasanya saya tinggal di salah satu rumah itu, berbaju sederhana, bertelanjang kaki, dan tidak perlu sekolah.

Perjalanan bermotor terus dilanjutkan sampai kami tersadar bahwa kami tersesat. Di mana ini? Ada perempatan, tapi tidak ada petunjuk arah yang bisa kami ikuti. Kenapa pula mesti tersesat di tempat tidak ada orang untuk ditanyai ya. Untung tak lama kemudian ada seorang bapak tua datang menghampiri. Dia berpakaian rapi, mengenakan sarung dan ikat kepala. Suaranya ramah dan tidak pelit memberi informasi. Setelah bapak ini muncul beberapa orang juga, mereka berdatangan dan membentuk kelompok kecil. Rupanya mereka sedang menunggu barong, dan barong itu harus disambut sepantasnya dengan mengenakan pakaian adat yang layak. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Kami bertemu juga dengan rombongan barong yang sedang ditunggu-tunggu itu. Barong muncul dari cahaya remang-remang dengan diiringi bunyi gamelan dan dikawal oleh ratusan orang. Tampilannya seperti singa dengan rambut tebal, putih dan panjang serta memakai berbagai perhiasan indah dari kaca warna-warni. Barong, raja dari segala macam roh. Sebagai pelindung manusia dia dihidupkan oleh roh yang merupakan pendamping seorang anak.. Baronglah yang mampu mengalahkan Rangda, sang Ratu Setan yang merupakan titisan Calon Arang yang jahat. Rangda menimbulkan mala petaka, banjir dan wabah penyakit. Peperangan di antara kedua makhluk luar biasa ini bersifat abadi. Kebaikan melawan Kejahatan.

Setelah memperhatikan sejenak kami tinggalkan pemandangan yang tak terlupakan itu. Kemeriahan musik dan pakaian warna-warni sekarang digantikan oleh malam yang semakin gelap dan udara dingin. Di siang hari tempat ini pasti indah sekali, terbukti dengan sebuah hotel yang sengaja didirikan di tebing pinggir jalan. Namun yang terlihat sekarang hanya jalan gelap yang terjal dengan pepohonan rapat, dan suara air sungai yang entah ada di mana. Lagi-lagi kepala saya disentuh halus oleh akar pohon beringin yang menggantung di atas, sementara motor terus meluncur perlahan. Kami berhenti sebentar ketika menemukan gerbang rumah yang indah beserta tempat sesajen yang dihiasi kain-kain cemerlang. Karena suasananya gelap gulita dan anjing menggonggongi kami dari balik tembok, tanpa berkata apa-apa kami bergegas pergi.

Akhirnya sampai juga ke jalan besar Tegallalang. Semuanya terang-benderang dan ramai. Penjor berjajar meriah sekali. Siapa sangka bahwa negeri para raksasa dan jin tadi hanya berada 8 kilometer dari hingar-bingar kota Ubud? Pasti saya akan kembali ke sana lagi, kalau bisa menjelang tengah malam, bukan menjelang Magrib.