Minggu, 20 April 2014

Pulang Kampung

Sawah yang habis dipanen dengan batang-batang padi yang terpotong dan gundukan batang padi yang coklat terbakar di sana-sini selalu membuat perasaan  agak sendu melihatnya. Pemilik sawah itu, Dirna, tidak perlu lagi datang ke sawah setiap hari. Hari Minggu ini adalah hari yang tenang. Bebek-bebek belum datang berombongan dengan ribut untuk memakani sisa-sisa padi yang tercecer setelah panen. Mungkin kabar tentang panen sawah Dirna belum diketahui para pemilik bebek. Semua gerakan seperti diperlambat, angin juga berhenti bertiup. Bukan cuma manusia, alam juga malas hari itu.

Lalu terlihat gerakan cepat dan tergesa di sebelah kiri atas. Seekor tupai sedang meniti kabel listrik dengan kaki-kakinya yang kecil. Dia bergerak dengan cepat dan ahli, pasti sekali dengan tujuannya. Dua ekor merpati bertengger di kabel itu juga dengan jarak agak jauh.Tupai tidak mengurangi kecepatannya ketika mendekati merpati pertama. Merpati tidak sudi bergerak untuk menyingkir. Dia mengibaskan sayapnya dengan jengkel ketika tupai itu menabrak badannya. Siut…. dalam satu gerakan saja Tupai membalikkan badan, sekarang bergerak masih dengan tergesa dengan posisi kepala di bawah. Lalu dia berbalik lagi dengan posisi normal, dan siut…, kembali berakrobat membalikkan badan ketika merpati kedua juga menamparnya dengan kibasan sayap. Tanpa terganggu dia melanjutkan perjalanan. Tupai berubah pikiran, tidak jadi meniti kabel sampai ujung. Dia menerjunkan diri ke atas pohon pisang lalu melarikan diri ke atas atap dan menghilang.

Paul memperhatikan kejadian itu dari jendela rumahnya. Itu sedikit menghiburnya. Banyak hal di daerah ini yang membuatnya jengkel—orang membangun tidak henti-hentinya, satu rumah selesai disambung dengan rumah lain. Sawah semakin banyak menghilang. Turis-turis berdatangan mengubah suasana desa dengan sangat drastis. Dia sering merindukan negaranya, Australia. Empat tahun dia tidak pernah pulang. “Di Australia, kamu bisa mengendarai mobil di jalan yang sangat lurus tanpa satu belokan sejauh bermil-mil dan tidak berpapasan dengan mobil lain… Kamu bisa berjalan di pantai berpasir putih dan menjadi satu-satunya orang di sana…. Kamu bisa pergi ke bush, diam di sana dan mencoba mendengarkan suara—dan kamu tidak mendengar apa-apa, tidak ada yang terdengar, bahkan suara angin.” Ubud sudah menjadi terlalu ramai baginya. Hanya dalam waktu empat tahun, puluhan rumah baru bertumbuhan di tempat yang tadinya sawah. Gergaji listrik bersuara melengking sering membuatnya gila.

Akan tetapi dia tahu dia akan sangat merindukan tempat ini. Sudah empat tahun dia tinggal di sini, di rumah yang sama. Belum pernah sekali pun dia tinggal selama ini di rumah yang sama, sejak umur enam belas ketika dia meninggalkan rumah orang tuanya untuk mulai hidup mandiri. Sekarang dia harus pergi, dan tidak merasa pasti apakah akan kembali lagi. “Kamu tahu,” katanya pada saya, “kepulangan saya ke Australia ini sudah ada yang meramalkan sejak lama. Tapi saya tidak mempedulikan. Saya tidak benar-benar mendengarkan.”

Peramal yang dimaksudnya itu adalah Oracle, nama yang diberikannya pada tokek yang tinggal di rumahnya. Sudah sering dia bilang bahwa Oracle pintar meramal, dan itu selalu membuat saya menghela napas panjang dan memutar mata. Tapi dia tidak terpengaruh. “Saya tahu kamu berbahasa Inggris dengan baik, tapi itu bukan bahasa ibumu,” katanya pada saya. “Oracle beda. Dia bicara bahasa Inggris dari hati, dan saya mengerti apa yang dikatakannya.” Oh, jadi bahasa Inggris saya dikalahkan oleh seekor tokek bali. Ini hal yang baru buat saya. Memang apa sih yang dikatakan Oracle agung yang pandai meramal itu? Macam-macam. Dulu dia sering bilang “Wacko. Wacko.” Itu kata Paul. Menurut pendengaran telinga saya kata-kata tokek itu adalah, “Tokek. Tokek.” Itu sebabnya reptil ini disebut tokek, saya mencoba menjelaskan. Sebagai jawaban Paul memandang saya dengan kasihan, seakan saya seorang anak polos yang tidak mengerti rahasia alam.

Oracle ini sering sinis, bahkan jahat dan berbahasa kasar. Kata-katanya yang lain adalah “F**k off. F**k off.” Waktu Paul sedang malas dan membuat-buat alasan untuk tidak memenuhi janji bertemu dengan seorang temannya, Oracle yang kadang-kadang bisa penuh pengertian memberinya semangat dengan, “Let’s go. Let’s go.” Paul jadi merasa dia diajak keluar rumah, bukan dipaksa. Yang tadinya malas sekarang semangat lagi. Tapi ini kejadian yang sangat jarang. Oracle lebih sering dalam keadaan normalnya yang jahat dan sinis tadi.

Lama-lama Oracle jadi sangat menjengkelkan. Dia sering bersuara tanpa mempertimbangkan waktu yang cocok, memberikan ramalan yang tidak diminta. Suaranya jadi semakin keras dan serak. Paul memberi tahu saya, “Ternyata Oracle itu seekor betina!” Waduh, mana saya tahu membedakan tokek jantan atau betina, apa lagi cuma dari suaranya saja. Terserah situ, deh. Setelah sering mengganggu Paul di tengah malam, Paul memutuskan bahwa Oracle harus disingkirkan. Dengan bahasa yang halus, dibuat pergi. Caranya dengan ditembak. Kalau yang ini saya tidak punya kata-kata yang halus.

Tapi bukan Oracle namanya kalau mudah saja disingkirkan. Dia tahu kapan harus bersembunyi. Jadi dia dengan tenang masih terus memberikan ramalannya. “Just go. Just go,” perintahnya. Dan Paul luput memperhatikan ramalan terakhirnya ini. Baru ketika dia harus pergi dia bilang, “Jadi itu yang dikatakan Oracle selama ini.” Saya jengkel mendengarnya. “Dari dulu, sekarang, dan nanti, tokek cuma bilang ‘tokek’,” jawab saya. Saya kaget sekali ketika dia menjawab, “Kamu benar. Oracle sebenarnya tidak bisa bahasa Inggris. Dia cuma asal bunyi.” Nah, gitu dong. Lega rasanya soal ini sudah selesai.

Seperti Aryo, Paul juga tidak suka anjing. Tapi dia suka ikan dan berbagai burung. Waktu masih remaja dia pernah menyelamatkan dan berusaha menyembuhkan burung elang yang patah sayapnya karena tertembak. Sudah lama burung ini dirawat, masih juga belum sembuh dan tidak sanggup terbang. Paul sudah membayangkan hari-hari suram yang menantinya sampai umur tiga puluhan. Burung itu cuma bisa meloncat-loncat, meliriknya dengan pandangan aneh dan berteriak serak, “Kroaaak, kroaaak…, sayang sekali ya, kamu tidak pernah menikah.” (Paul terlalu sibuk untuk punya pacar lalu menikah karena burung itu terus membebaninya). Tapi nyatanya Paul pernah menikah, jadi bisa dipastikan burung itu akhirnya sembuh.

Burung itu sembuh secara ajaib dan meninggalkan kandangnya secara ajaib pula. Kandang itu tidak punya bekas-bekas dibuka secara paksa. Paul merasa kehilangan sekaligus lega. Tiga hari kemudian dia melihat burung itu di sebuah pohon di desa tempat tinggalnya. Burung itu masih tinggal di pohon itu beberapa lama untuk mengucapkan terima kasih. Suatu hari dia pergi dan Paul tidak pernah melihatnya lagi.

Sebagai pencinta binatang liar Paul juga mengajari saya bagaimana mengerti bahasa kodok. Tinggal di daerah persawahan seperti ini, memang bagus sih pemandangannya, tapi harus siap mendengar suara kodok yang macam-macam jenisnya di malam hari. Memahami bahasa kodok itu jadi penting, karena sangat tidak enak kalau kita bengong sendiri di tengah-tengah percakapan yang tidak kita mengerti. Tidak perlu juga paham dengan tepat sekali, dan imajinasi juga merupakan hal yang penting di sini. Menurut Paul kodok-kodok itu bersahut-sahutan seperti ini:

“Krok-krok-kung.”
“Krok-krok.”
“Keh-keh-keh.”
“Kik-kik-kik.”
“Besok hujan tidak?” seekor kodok mulai bicara dengan jelas.
“Krok!”
“Yak!”
“Tauk!”
“(Barang)kali.”
“Besok hujan tidak?” Ini kodok yang lain, bukan yang tadi.
“Ha-ha-ha” (ada yang terbahak)
“Kik-kik-kik” (ada yang terkikik)
“Keh-keh-keh” (ada yang terkekeh)
“Sekarang giliran siapa?” seekor kodok bertanya.
“Saya! Euh…, besok hujan tidak?”
Semua kodok itu serempak terbahak, terkikik dan terkekeh. Habis pertanyaan seperti itu selalu ditanyakan setiap kodok di mana saja dan kapan saja.

Kalau kamu lalu ingin ikutan dengan konser mereka, boleh dicoba dengan menirukan suara mereka dengan keras dan usahakan semirip mungkin. Pasti salah satu akan menyahut.
“Ada yang mau ikutan! Diterima tidak?”
“Krok!”
“Kung!”
“Tauk!”
“Oke!”
Oke? Kok kedengarannya bukan seperti suara kodok? Oh, ini sih Oracle yang nimbrung. Memang antara “tokek” dan “oke” mirip ya?

Kamis, 02 Januari 2014

Perabot Beroda


Beberapa hari belakangan ini tempat saya kerja sering sekali memanggil teknisi komputer untuk datang. Internet yang ngadatlah, printer yang macet atau kehabisan tinta, program yang macet, layar monitor yang bergaris-garis, pokoknya macam-macam. Teknisi itu, Pak Gus, orangnya kalem sekali. Biarpun disambut dengan teriakan panik, atau ditelpon mendadak dan disuruh datang saat itu saja, dia tidak pernah bingung atau kesal atau apa pun. Karena selalu melihatnya cuek dan dingin, untuk memancing reaksinya saya memikirkan kata-kata apa yang bisa membuatnya sedikit bereaksi. Saya bilang begini, “Pak, kami ini klien yang baik, ya? Baru seminggu saja sudah nyuruh Bapak datang tiga kali. Mestinya dikasih diskon, tuh.” Dengan sangat kalem dia menjawab telak, “Jadual saya jadi berantakan gara-gara sering disuruh datang ke sini.” Sialan. Pintar juga dia menjawab.

Sudah agak lama saya ingin posisi meja saya diputar membelakangi jendela supaya jadi lebih lega. Saya juga sudah dipesankan komputer baru. Waktu Pak Gus datang untuk memasang komputer baru, saya pakai kesempatan itu memintanya menggeser letak meja sekalian. Menurut Pak Gus posisi membelakangi jendela itu kurang bagus karena cahaya matahari akan memantul di layar monitor. Silau. Saya tes dengan menyuruh Pak Gus memegangi monitor berhadapan dengan jendela untuk melihat ada pantulannya apa tidak. “Nggak masalah, kok, Pak,” kata saya. “Tapi sekarang sedang mendung. Kalau matahari sedang terang beda lagi,” jawabnya. Tapi saya yakin dengan keputusan saya. Saya sudah tidak sabar ingin posisi meja yang baru.

Setelah geser sana geser sini mengikuti kemauan saya yang ingin mencoba berbagai macam posisi meja, akhirnya Pak Gus mengatur dua meja kerja saya dalam bentuk huruf L. Dia bukan cuma memasang kabel, printer, dan mengetes komputer, tapi juga memindahkan semua file, alat tulis, buku-buku, dan semua yang berat-berat. Yang agak repot masalah kabel. Dengan pindahnya posisi meja, stop kontak lama tidak bisa digunakan lagi karena terlalu jauh letaknya. Pak Gus sibuk naik-naik meja dan mondar-mandir memecahkan masalah. Akhirnya beres juga. Saya mengelap permukaan meja dengan tisu basah untuk menghilangkan debu lalu duduk di depan layar monitor. Hah! Ada pantulan cahayanya. “Pak Gus, saya nggak suka letak mejanya. Cahaya matahari mantul di monitor,” kata saya. Untuk pertama kalinya muka Pak Gus yang selalu kalem itu bereaksi. Mulutnya melongo, matanya melotot tidak percaya. Saya bisa membaca pikirannya. “Apa?! Jadi mau minta pindah lagi?!  Mbak ini kelihatannya baik tapi ternyata sadis!”

Begitu juga reaksi Paul waktu saya ceritakan kejadian itu. Dia kaget. “Kamu cuma bercanda, kan?” “Nggak,” jawab saya, “memang ada pantulan cahayanya, kok.” Menurut Paul masalah itu dengan gampang bisa dipecahkan. Bikin saja meja beroda. “Jadi, kamu bisa geser meja itu kapan saja kamu mau, sambil mengikuti gerakan matahari dari timur ke barat.” Haduh, saran aneh seperti itu, siapa yang mau dengar? Tapi saya tidak heran saran seperti itu keluar dari mulutnya karena hampir semua perabot di rumahnya beroda. Mulai dari kursi bar, meja komputer, sampai meja kerjanya yang dua buah, semua ada rodanya. Juga meja tamu, sofa, meja berlaci dan lemari pakaian. Cuma tempat tidur saja yang tidak beroda. Tidak masalah untuk perabotan yang aslinya tidak beroda. Dia akan memasang sendiri rodanya. Mungkin pacarnya nanti juga akan dipasangi roda di kakinya. Begitu fanatiknya dia dengan roda. Tapi dia tidak sadar bahwa saya tidak begitu berminat pada idenya. “Gimana kalau saya datang ke kantormu dan memasang roda di semua perabot yang ada di sana? Tukang bersih-bersih pasti senang sekali, lebih mudah membersihkan ruangan yang perabotannya bisa digeser-geser.” Saya pura-pura tidak dengar dan cepat mengubah pembicaraan.

“Pohon apa itu? Dulu tidak ada,” tanya saya sambil melihat ke halaman. Paul bilang itu pohon alpukat. “Alpukat yang dulu?” tanya saya untuk meyakinkan. Katanya memang iya. Pohon alpukat itu dulu diikatnya dan batangnya ditahan supaya tumbuh mendatar ke samping. Dia mengharapkan pohon itu selain tumbuh ke samping, juga akan menumbuhkan cabang-cabang yang tegak lurus ke atas. Dengan begitu cabang-cabang beserta daunnya itu bisa sekaligus menjadi pagar. Tapi pohon alpukat itu punya rencana lain. Dia tidak suka diatur-atur orang. Dengan tenaganya sendiri dia berhasil membebaskan diri dari ikatan dan tumbuh normal ke arah atas. Pohonnya sudah lumayan tinggi sekarang. Paul bilang pohon itu harus ditebang karena tumbuhnya terlalu dekat ke pagar. Akarnya nanti bisa membongkar tembok pagar kalau pohon itu sudah benar-benar besar. Sayang sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi.

Kembali ke masalah komputer dan posisi meja, saya memang tidak menyuruh Pak Gus untuk mengembalikan meja ke tempat semula. Saya juga tidak tega kok. Tapi saya sudah cukup terhibur melihat reaksinya yang kaget bercampur takut. Lucu sekali. Sedangkan masalah pantulan di layar monitor, itu juga harus diselesaikan. Saya berpikir sebentar, bagaimana menyusun kata-kata supaya Pak Gus mau memindahkan meja tidak pakai ngambek. Apa menyuruh orang lain saja? Tapi karena saya sebenarnya suka dengan ruang kerja saya yang jadi lebih lega sekarang, kami memutuskan untuk memasang gorden saja di jendela. Saya panggil Pak Putu, pekerja kantor, supaya memindahkan gorden yang ada ke jendela di belakang saya.

Waktu sedang beres-beres bos saya datang. Ini sudah keempat kalinya saya merepotkan orang. Baru beberapa hari kerja di sana saya sudah minta pindah ke pojokan di mana mesin fotokopi diletakkan. Alasannya, banyak orang yang mondar-mandir di depan meja saya untuk pergi ke mesin fotokopi itu, saya jadi tidak bisa konsentrasi. Jadi, mesin fotokopi yang berat itu harus pindah ke ujung ruangan yang satunya lagi. Akibatnya lemari arsip juga harus pindah. Beberapa hari kemudian saya juga minta kaki meja saya dipendekkan. Selain itu saya juga minta dibuatkan meja mini yang diletakkan di atas meja kerja, untuk alas komputer. Dengan begitu keyboard letaknya rendah, sedangkan layar monitor jadi tinggi. Ini perintah dokter, bukannya saya mengada-ada, demikian saya terangkan ke bos saya. Semua ini dituruti. Sekarang, melihat Pak Putu yang sedang repot memasang gorden, bos diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin dia jadi mempertanyakan lagi keputusannya sudah mempekerjakan saya, jangan-jangan kerja saya pindah-pindah posisi dan bongkar pasang barang bakalan tidak ada habisnya. Saya coba terangkan bahwa posisi meja saya yang sekarang ini ideal sekali, tapi dia tidak menjawab. Setelah menanyakan sesuatu dia langsung pergi.

Sekarang sudah ada orang yang bilang suka dengan posisi baru meja saya. Katanya ruangan jadi lebih terang. Hm, apa hubungannya, ya? Mungkin maksudnya muka saya jadi lebih bersinar -ehem- karena duduk membelakangi sumber cahaya. Lama-lama bos juga senang. Dulu, kalau sedang perlu data di komputer saya, dia duduk di samping saya yang tempatnya sempit sekali. Setiap kali saya berdiri untuk ambil file dia harus berdiri juga dan keluar dulu untuk memberi jalan. Sekarang, dia bisa duduk di ujung meja yang bentuknya seperti huruf L dengan nyaman. Dia mudah melihat layar komputer karena berada di belakang agak ke samping kanan. Lemari arsip juga pas ada di sebelah kiri saya, tidak perlu lagi keluar meja untuk ambil arsip. Bos juga dapat tempat di meja untuk meletakkan buku dan coret-coret. Sepertinya dia betah duduk bermenit-menit di sana. Nah, kan? Lebih enak begini. Makanya, percaya deh sama saya.


Sabtu, 10 Agustus 2013

Dari Telur ke Telur


Made sudah berumur  50 atau 60, saya tidak tahu pasti. Bersama dua orang temannya dia senang nongkrong di ujung jalan di atas sepeda motor-sepeda motor yang diparkir di sana. Nama-nama Bali memang membingungkan. Made adalah nama yang diberikan pada anak yang lahir dengan nomor urut dua, bisa laki-laki bisa perempuan. Jadi bayangkan saja betapa banyaknya Made dalam satu kampung. Made yang saya maksud sekarang bukan Made yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Kalau yang itu adalah Made  Sopir, sedangkan yang ini untuk mudahnya sebut saja Made Telur. Nah, di antara bapak-bapak temannya yang dua lagi Made ini yang paling muda, paling lincah, dan paling gendut. Dia tidak segan-segan menyapa tamu  yang baru saja datang sambil membawa ransel besar dan kelihatan agak bingung mencari tempat menginap. “Hey Friend, looking for villa?” tanyanya sok akrab. Dia tidak patah semangat kalau yang disapanya itu sudah punya tujuan menginap yang pasti. Kalau belum, dia akan menawarkan vila milik anaknya dengan gencar.

Melihat saya pulang dengan bungkusan telur dari supermarket, Made menawari untuk membeli telur bebek darinya. Daripada capek-capek beli telur sendiri, belum lagi risiko pecah, katanya. Saya ragu-ragu. Buat saya telur bebek itu untuk diasinkan. Saya belum pernah makan telur bebek segar. Made tidak mau menerima alasan  saya. Dia bilang saya harus mencoba. Bebek-bebek miliknya diberi makanan berkualitas dan jelas asal-usulnya, tidak seperti ayam-ayam petelur yang serba meragukan. Bebek-bebeknya adalah binatang bebas, beda dengan ayam petelur yang diam di kandang saja. Selain itu telur bebek lebih besar, lebih banyak vitaminnya, blah blah blah…. Untuk melepaskan diri dari arus kata-katanya yang seperti banjir bandang saya mengiyakan saja. Made bilang dia akan segera mengantar telurnya. Oke, jawab saya. Lalu saya tersadar, saya kan baru beli telur. Saya tidak perlu telur lagi dalam waktu dekat. Tapi Made sudah menghilang entah ke mana di atas sepeda motornya.

Setelah itu mulailah babak baru dalam hidup saya, babak kehidupan yang dipenuhi  dengan telur.  Belum juga  saya sempat mandi keesokan harinya, pagi-pagi  Made sudah mengetuk pintu. Diletakkannya telur-telur ke atas tangan saya. Saya membayar sepuluh telur yang dibawanya. Empat hari kemudian dia menyerahkan sepuluh telur lagi. Saya protes, “Telur yang kemarin masih ada.” “O… kalau begitu lain kali saya datang seminggu sekali saja,” jawabnya. Dia datang seminggu kemudian, tapi sekarang membawa 20 telur. “Kalau cuma sepuluh tanggung, saya repot ngaturnya,” jawabnya menangkis protes yang saya lancarkan. Lalu dia menguraikan banyak alasan teknis kenapa itu merepotkan. Lho, dia yang kesulitan mengatur arus produksi serta pemasaran, kok saya yang kena getahnya. Saya yang tidak biasa makan telur untuk sarapan sekarang harus memakannya setiap pagi. Mungkin Made mengira saya makan telur setiap saat, untuk sarapan, selingan, makan siang, camilan, makan malam…. Pintar sekali dia ngomong dan memberi alasan. Bahkan kalau rumah saya kosong waktu dia datang, dia tidak kehilangan akal. Digantunginya cabang pohon bugenvil saya dengan telur-telur.

Sebagian besar telur itu saya berikan pada Kadek. Widiya dan Dewa Ayu juga saya bekali dengan telur bebek rebus untuk dibawa pulang. Tapi Made tidak perlu tahu, biasa-bisa dia pikir saya membutuhkan lebih banyak telur lagi untuk disumbang-sumbangkan. Sekali waktu saya berjalan tergesa-gesa melewatinya yang seperti biasa sedang nongkrong di ujung jalan. “Mau ke mana?” tanyanya. Saya jawab saya akan menemui teman yang sedang menginap di Hotel Tjampuhan. Tempat menginap teman saya ini penting untuk disebut, supaya dia tidak akan menawari vila, padahal saya sedang dalam keadaan buru-buru. Tapi saya salah kalau mengira bisa lolos begitu saja. Matanya bersinar seketika. “Temannya perlu mobil? Mungkin lukisan? Mau sewa sepeda? Sewa motor? Tour ke sawah?” Saya memasang senyum selebar mungkin supaya dia tidak tersinggung. “Sepertinya enggak. Maaf saya buru-buru….” jawab saya sambil terbirit-birit melarikan diri. Dia meneriaki saya, “Nanti sore saya antar telurnya!”

Saya suka ngrasani Made pada Aryo.Di depan Aryo saya menyebutnya Humpty Dumpty. Nama yang cocok, bukan saja karena dia menghujani saya dengan telur, tapi karena badannya yang bulat. Dia senang berkeliaran dengan baju kaos ditarik ke atas untuk mendinginkan perut buncitnya. “Ugh,” saya menirukan orang yang sedang mual. Saya bilang, “Aku nggak suka orang jelek.” Menurut saya jadi orang yang tidak jelek itu gampang saja. Jangan pergi ke mana-mana dengan memamerkan perut (mending buka baju sekalian) atau membiarkan gundukan tembakau menempel di gusi bagian depan. Aryo cuma ketawa.

Saya memang lebih bersimpati pada teman nongkrong Made yang dua orang lagi. Padahal salah seorang di antaranya, yang paling tua dan paling tinggi, tidak pernah memperlihatkan muka ramah pada saya. Setiap saya berusaha menyapa dia menjawab dengan geraman. Belum pernah saya melihat mulut cemberut yang bentuknya benar-benar melengkung ke bawah seperti punyanya. Tapi saya tidak pernah tersinggung dicemberuti olehnya (kalau takut sih iya :( ). Dia tidak suka para pendatang di desanya. Melihat usianya yang sudah tua saya memaklumi kekecewaannya melihat perubahan  begitu drastis yang telah terjadi di desanya. Pasti dia merindukan masa yang telah lampau ketika suasana masih sepi dan tentram tanpa banyak orang asing berkeliaran. Dia tetap mempertahankan sepotong kecil tanahnya dari incaran pemodal yang membangun sekumpulan cottage yang entah karena alasan apa arsiteknya merancangnya berbentuk rumah khas Jawa Tengah. Sawahnya yang sepetak itu menyempil di antara bangunan-bangunan cottage. Dia juga punya sepetak kecil sawah di belakang rumah saya. Dia sering terlihat bersama bebek-bebeknya di sana. Bersama Suwarji yang masih mempertahankan sawahnya, dia berjasa dalam menjaga kehijauan Ubud.

Aryo lebih mengidolakan Made yang riang gembira.  Katanya Made adalah pejuang, pintar memanfaatkan situasi desanya yang semakin ramai. “Jualan telur misalnya,” kata Aryo. Rupanya telur sudah ditakdirkan mengikuti saya ke mana saja. Malam harinya waktu saya ceklak-ceklik di depan laptop saya menemukan video Youtube yang menayangkan telur-telur dengan dua buah kuning dalam satu cangkang. Tidak tanggung-tanggung, perempuan ini yang baru belanja telur menemukan bahwa seluruh telurnya, 22 butir, semua bagian kuningnya kembar! Untung dia punya firasat bagus bahwa semua telur di mangkuknya punya keistimewaan. Suaminya disuruh mengambil gambar videonya ketika dia memecahkan telur-telur itu satu per satu. Saya nonton video itu sambil teriak-teriak senang sendiri. “Eh, satu lagi!” “Itu, satu lagi!” “Lagi! Lagi!” :D

Dokter kiropraktik saya suka ngobrol macam-macam sambil memberi perawatan. Dan apakah bahan obrolannya yang terakhir? Telur. Dia cerita bahwa neneknya adalah seorang pembuat telur asin. Waktu masih kecil dia senang membantu neneknya memilih telur. Diteropongnya telur itu satu per satu ke arah cahaya untuk memastikan kesegarannya dan terutama, untuk mencari telur yang punya kuning kembar. Telur berkuning kembar ini disisihkan dan disayang-sayang. Waktu dia kuliah di Australia neneknya datang berkunjung. Untuk cucu kesayangannya dia membuatkan dua lusin telur asin istimewa. Semuanya berkuning kembar. Telur-telur itu masih dalam keadaan setengah mentah dan berlepotan dengan abu. Waktu memasuki Australia telur-telur itu tanpa ba-bi-bu dibuang oleh petugas. Si nenek  mengamuk. Dipukulinya petugas pabean dengan tas tangannya sambil jerit-jerit. Saya ngakak mendengar cerita ini. Sekali ini petugas pabean Australia yang terkenal paling hobi membuangi barang ‘terlarang’ kena batunya. Tapi kasihan juga si nenek. Niatnya menyenangkan cucu tidak kesampaian.

Dokter saya bilang bahwa dalam seribu telur cuma ada dua yang berkuning kembar. Tapi kalau dipikir-pikir, saya rasa perbandingannya jauh lebih besar. Soalnya seumur-umur saya belum pernah menemukan telur seperti ini. Baik yang berasal dari dapur sendiri maupun dapur warung, restoran, atau kenalan dan saudara. Jangan-jangan telur berkuning kembar sudah dicegat mulai dari hulu dalam rantai distribusi. Kalau ingin mendapatkannya harus minta pada pembuat telur asin atau juragan telur.

Kamis, 11 Juli 2013

Kisah Munmun dan Nyitnyit


Catatan: Kamu orang dewasa yang cinta dongeng? Terutama untuk kamulah cerita ini ditulis :) Ingat, semua tempat dalam cerita ini adalah nyata. Begitu juga tokoh-tokohnya, kalau kamu dapat memahami keajaiban dongeng.



Alkisah, hiduplah Munmun dan Nyitnyit di belantara Ubud. Sebenarnya zaman sekarang tidak ada lagi tempat yang pantas disebut ‘belantara Ubud’, namun Munmun sudah berhasil mengatur sedemikian rupa sehingga sepotong tanah yang didiaminya masih bisa disebut hampir belantara dengan pohon-pohon, semak-semak, dan sulur-suluran yang cukup rapat. Untuk menuju tempat itu kamu harus menuruni tangga tanah yang terjal, jauh ke bawah. Bawa serta handukmu, juga perlengkapan mandi seperti sabun dan sampo. Jangan lupa gayungnya juga. Kamu akan sampai di sebuah bak semen yang penuh dengan air. Airnya langsung dialirkan dari mata air yang segar sekali. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan air sumur maupun air ledeng. Ada  dinding yang tidak begitu tinggi yang mengitari bak itu. Kalau kamu cukup nekat untuk membuka baju dengan kemungkinan diintip orang dari atas, kamu bisa mandi di sana.



Namun, setelah berpikir sejenak kamu memutuskan bahwa semangat untuk merasakan sendiri bagaimana hidup seperti orang lokal, meskipun terdengar romantis, adalah terlalu berisiko. Maka kamu kembali menuruni tangga tanah itu, tertarik oleh suara menderu-deru yang disebabkan oleh air sungai yang mengalir deras. Lalu air menghalangi langkahmu. Kamu sudah sampai di ujung. Tapi jangan dikira kamu sudah menemukan tempat tinggal Munmun, apalagi bisa melihatnya sekilas di antara dahan pohon. Kamu tahu bahwa Munmun tinggal di sana hanya karena kamu sudah diberi tahu melalui cerita ini. Tapi orang-orang yang tidak seberuntung kamu, setelah diam dan kagum sejenak, mereka akan kembali mendaki tangga itu tanpa memikirkan Munmun. Sesampai di puncak tangga mereka menoleh lagi untuk melihat terakhir kali betapa hijau dan rimbunnya tempat itu, lalu menghela napas. Kemudian mereka kembali ke kota untuk belanja atau makan siang. Kepala mereka sibuk memikirkan hal-hal lain.



Munmun tidak mengijinkan satu orang pun mendatangi tempat tinggalnya. Begitu  rumahnya ditemukan orang, akan rusaklah tempat itu. Dengan cerdik dia sudah membuat lubang tersembunyi yang disamarkan dengan baik, tempatnya keluar masuk. Nyitnyit baru datang kemudian. Dia berasal dari tempat yang jauh. Munmun langsung menyukainya begitu dia melihat Nyitnyit. Dia suka bunyi-bunyian yang keluar dari mulut Nyitnyit, dia suka kembang kuning besar di atas telinganya, dan dia suka mata Nyitnyit yang terlihat cerdas. Nyitnyit juga suka pada Munmun dan dia terpesona oleh cerita Munmun mengenai tempat tinggalnya. Kamu tahu, di mana-mana belantara sudah mulai menghilang. Tempat asal Nyitnyit tidak bisa disebut belantara, hutan pun bukan. Maka Nyitnyit bersedia tinggal di tempatnya yang baru bersama Munmun.



Nyitnyit bahagia tinggal di rumah barunya. Kadang-kadang dia main-main keluar dari belantara itu, namun tidak terlalu jauh, dekat-dekat saja. Tentu saja dia harus waspada ketika keluar dari pintu tersembunyi, jangan sampai ada orang yang melihat. Itu tidak terlalu sulit untuknya karena dia lincah sekali. Matanya juga tajam, gerakan daun sehalus apapun akan terlihat olehnya. Maka dia tahu ada orang yang mengintip dari balik semak. Dia menunggu sampai orang itu pergi. Nyitnyit pernah mendengar tentang sebuah tempat yang bernama Monkey Forest. Dia ingin pergi ke tempat yang cukup jauh itu tapi Munmun meremehkan keinginannya. Katanya tempat itu sangat membosankan. “Itu hutan bohong-bohongan dan semua monyet di sana adalah badut-badut,” kata Munmun. Nyitnyit menurut saja karena dari cerita Munmun tempat itu kedengarannya memang kurang menarik. Nyitnyit segera melupakan tempat itu dan sibuk meloncat ke sana ke mari dengan riang.



“Nyitnyit, berhentilah mengendus-endus. Kamu monyet, bukan anjing,” kata Munmun. Tapi Nyitnyit terus mengendus-endus. Munmun menghela napas panjang tanda putus asa. Menurutnya Nyitnyit sudah tak tertolong lagi. Semua benda diendusnya. Jauh di atas belantara itu ada sebuah jembatan besar. Orang-orang menaruh sesajen di dinding pembatas jembatan di pagi hari. Setiap hari mereka menambah sesajen itu sampai jumlahnya banyak sekali. Sesajen-sesajen itu jadi bertumpuk-tumpuk dan berdesak-desakan. Angin menerbangkannya dan sebagian terbawa ke belantara di bawah sana. Ada yang menyangkut di pucuk pohon. Ada yang jatuh ke tanah. Nyitnyit mengendus semuanya. Kelopak-kelopak bunga. Potongan-potongan janur. Butir-butir nasi. Biskuit yang sudah melempem. Dan banyak permen juga. Nyitnyit tidak pernah makan permen. Padahal giginya sangat kuat, sedikit permen bukan masalah untuknya. Namun Nyitnyit selalu mengeluh tentang lingkar pinggangnya yang membuat Munmun bosan. “Dasar perempuan, di mana-mana sama saja,” keluh Munmun. Munmun pernah membawakan permen sisa sesajen yang masih bersih namun Nyitnyit tidak menggubrisnya. Dia takut gemuk.



Begitulah. Nyitnyit mengendus apa saja. Dia mengendus pisang sebelum memakannya. Mengendus ranting kayu, mengendus udara, mengendus kerikil. Apa saja. Dia suka bau-bauan. Dia bahkan bisa membaui air tawar. Dia juga mengendus kepala Munmun. Munmun merasa bosan dan menunggu saja dengan sabar. Akhirnya Munmun juga mencoba mengendus. Setelah itu dia jadi sedikit mengerti kesukaan Nyitnyit itu, namun Munmun cuma mengendus sedikit, tidak menjadikannya sebagai obsesi.



Sebaliknya, Nyitnyit juga punya keluhan tentang Munmun. Kalau Munmun bosan dengan endusannya, Nyitnyit bosan dengan perang abadi Munmun pada semut-semut.

“Semuuut!!!!” teriak Munmun.

Munmun kalang kabut. Dipatahkannya dahan pohon lengkap dengan daun-daunannya. Disapunya semut-semut itu dalam sekali libas. Kadang-kadang dia menginjak-injak semut-semut itu. Menenggelamkannya dengan semprotan air. Meniupnya kuat-kuat. Bahkan pernah akan membakarnya, tapi dicegah oleh Nyitnyit karena bisa saja terjadi kebakaran.

“Semuuut!!!!” lagi-lagi Munmun mengagetkan Nyitnyit yang sedang santai berayun-ayun.

Tanpa tertarik Nyitnyit melirik dengan malas. Mereka ini hidup dalam belantara, apa lagi yang bisa diharapkan? tanya Nyitnyit dalam hati.



Begitulah kehidupan Munmun dan Nyitnyit. Selain endusan dan perang semut yang saling dianggap membosankan oleh masing-masing, mereka menikmati hidup. Mereka senang mengejar-ngejar tupai, memanjat pohon, berayun-ayun di akar pohon beringin, berenang di sungai atau memancing ikan, dan macam-macam lagi. Sampai Munmun memikirkan hal-hal lain. Munmun ingin pindah ke pantai. Katanya di pantai banyak warna-warna.

“Di sini terlalu hijau,” keluh Munmun. “Pantai adalah tempat di mana kamu bisa melihat sinar matahari menari-nari untuk menghasilkan bayangan indah yang lembut bergetar di permukaan laut.”

“Di sini cahaya matahari tidak bisa bebas menerobos daun-daunan,” Munmun mengeluh lagi.

Tapi Nyitnyit suka tempat ini. Dia suka sinar redup kehijauan dan sejuknya udara. Dia suka mendengar suara burung. Di malam hari dia bisa mendengar daun saling berbisik dan kodok mendengkur. Dia tidak tahu sebelumnya bahwa Munmun adalah pencinta warna. Sedangkan dirinya adalah pencinta bau-bauan. Mereka terpaksa berpisah.


“Biarlah kamu tinggal di sini kalau kamu suka tempat ini,” kata Munmun. “Aku akan pergi ke pantai.”

“Tidak, Munmun, aku juga akan pergi dari sini,” jawab Nyitnyit.

“Apa? Ke mana kamu akan pergi?”

“Aku akan pergi ke Monkey Forest.”

“Sudah kubilang tempat itu payah! Hutannya bohong-bohongan dan semua monyet di sana adalah…”

“Badut-badut,” Nyitnyit menyelesaikan kalimat Munmun.

“Aku rasa kamu salah, Munmun. Monyet-monyet di sana sopan dan cukup berbudaya. Mereka memang harus tinggal di sana. Ke mana lagi mereka bisa pergi? Belantara tidak cukup luas untuk menampung semuanya.”

Munmun tidak setuju tapi diam saja.



Jadi, kalau kamu pergi ke Monkey Forest nanti kamu bisa berpikir tentang Nyitnyit sambil bertanya-tanya manakah dia di antara banyak monyet lainnya. Sayangnya kamu tidak bisa membedakan suara dari monyet-monyet itu. Nyitnyit punya suara yang indah. Kamu juga tidak bisa melihat bunga kuning besar di atas telinganya padahal dia selalu memakainya. Satu-satunya petunjuk adalah matanya yang bersinar cerdas. Tapi kamu juga tidak boleh menatap mata monyet. Monyet akan menyerang kalau kamu melakukan kontak mata dengannya. Ini adalah peringatan keras! Saya, penulis cerita ini dan satu-satunya yang tahu tentang kisah ini sebelum menyebarkannya, dengan serius memperingatkannya. Jangan sekali-sekali menatap mata monyet. Sedangkan mengenai Munmun, kamu tidak akan menemukannya di sana. Dia sudah pergi jauh ke pantai.