Sabtu, 28 Februari 2015

Masukkan ke Kandang!

Paul menelpon waktu saya sedang ada di kantor sekitar jam setengah dua belas. Dia heran.
“Hari Sabtu kok kerja?”
Saya cepat-cepat mengiyakan dan pura-pura mengeluh mengenai banyaknya pekerjaan.
“Tapi sudah mau pulang,” saya menerangkan.
Dia ingin saya datang ke rumahnya karena ada tamu yang ingin ketemu saya, tapi tidak mau bilang siapa orangnya. Katanya biar surprise. Saya sebenarnya tidak begitu suka sama yang namanya surprise. Lebih tepatnya tidak percaya, karena kebanyakan ‘surprise’ itu garing ternyata. Tapi Paul tetap tidak mau bilang siapa surprisenya meskipun sudah didesak.
“Laki-laki apa perempuan?” tanya saya minta petunjuk, setelah mengancam tidak mau datang kalau tidak ada keterangan apapun.
“Sejujurnya, saya juga tidak yakin dia laki-laki atau perempuan,” jawab Paul.
Hah! Saya tidak sabar dengar caranya menjawab. Tapi saya diam saja karena takut kalau ditanggapi nanti dia mulai berfilosofi.
“Yah, saya mau datang asal dijemput,” jawab saya pada akhirnya.

Sampai di rumah saya langsung tiduran dan berharap Paul datangnya nanti saja sekitar jam 3 supaya saya sempat tidur dulu. Harapan yang sia-sia, karena tadi dia sudah bilang tamunya bisa saja tiba-tiba pergi. Dalam hati saya bilang,
“Biarin aja pergi. Syukur malah.”
Ternyata benar. Paul tidak memberi saya kesempatan untuk tidur sebentar saja karena tiba-tiba dia sudah mengetuk pintu. Dengan ogah-ogahan saya menemuinya dan tanya apa perlu ganti baju? Dia bilang tidak usah. Maka berangkatlah kami.

Saya agak curiga karena pintu rumah Paul tertutup dan tidak ada sandal atau sepatu di depan pintunya. Bisa saja tamunya itu tidak mau copot sandal dan takut masuk angin, jadi ini bukan petunjuk pasti bahwa tamunya sudah pergi. Paul kelihatan tenang-tenang saja dan membukakan pintu untuk saya. Anehnya saya malah disuruh ke lantai atas dan dilarang berisik. Saat itu saya tahu bahwa mungkin ‘surprise’ kali ini tidak begitu garing. Mungkin saya akan menemukan sebuah lukisan di sana? Tapi kenapa dilarang berisik?
“Keluar ke teras, belok ke kanan, dan lihat ke atas,” instruksinya.
Saya melakukan perintahnya, berjalan berjingkat dan dengan hati-hati mengintip dari balik tembok, untuk melihat… seekor burung hantu! Dia sedang bertengger di balok penyangga atap. Besar dan sangat tampan. Dibukanya matanya perlahan lalu dipandangnya saya dengan mata mengantuk. Sepertinya dia bilang,
“Halo, ini saya. Iya, tadi juga sudah banyak orang datang satu per satu untuk lihat saya. Kamu juga, ya?”

Saya cepat-cepat mundur. Takut dia kabur karena merasa terganggu dipandangi terus dengan mata melotot. Wow! Ini baru namanya surprise!
“Sejak kapan dia di sini? Dia cuma berdiri saja atau kadang-kadang terbang? Dia tidak takut orang? Apa sebaiknya lapor ke…mmm siapa ya? Boleh lihat lagi?”
Paul bilang burung itu sudah ada di terasnya selama tiga hari (Saya mencela, “Sudah tiga hari kok baru bilang sekarang?”). Mungkin sebelumnya juga sudah ada di sana tapi dia tidak memperhatikan. Saya agak takut-takut mendekat, tidak mau burung itu terbang. Tapi ternyata burung itu tenang-tenang saja. Setiap saya mendekat dia selalu mendengar, membuka matanya setengah dan merem lagi kalau saya mundur menjauh. Dipandanginya saya dengan kelopak mata setengah tertutup dari tempat bertenggernya di atas. Setahu saya burung hantu tidur di siang hari dan berburu di malam hari. Burung itu tidur dengan satu kaki diangkat. Kakinya yang sebelah dilipat rapat dan disisipkan ke dalam bulu-bulu di perutnya. Sepertinya itu posisi favoritnya.

Burung hantu sebesar itu siapa yang punya, ya. Menurut Paul burung itu bukan asli Indonesia. Hmm, kalau begitu, burung ini mungkin kabur dari seorang kolektor! Pemiliknya mungkin juga masih tinggal di seputar Ubud.  Saya kembali menyebut-nyebut soal menelpon petugas, tapi Paul mengisahkan cerita mengharukan tentang betapa seekor burung yang terkungkung dalam sarang besar akhirnya berhasil menemukan lubang di kandang kawatnya, melarikan diri dan menemukan kebebasan yang selalu didambakannya. Menurut saya belum tentu juga. Bisa saja sekarang burung ini menyesal karena melarikan diri, ingin kembali ke kandang di mana makanan selalu tersedia. Paul menjawab, burung itu selalu terbang di malam hari mencari makan, dan dia sanggup tidur berdiri dengan satu kaki diangkat selama seharian.
“Jadi jangan kuatir, burung ini cukup makan dan sangat sehat,” katanya.

Yang jelas burung ini tidak punya teman dari bangsanya sendiri. Tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya sendiri. Tapi dia kan burung, ya? Mungkin itu bukan masalah buat dia? Soal seperti ini bakalan sulit untuk dipecahkan karena seekor burung tidak bisa ditanyai apa maunya. Saya yakinkan saja bahwa burung ini tidak apa-apa, dan kalaupun benar dia melarikan diri dari kandang dia sanggup mengurus dirinya sendiri. Jadi saya tidak komentar lagi. Saya sangat berharap burung yang diberi nama Bond itu selamanya akan tinggal di teras Paul. Kalau dia mau. Kalau dia akhirnya pindah juga, terpaksa saya harus puas dengan burung-burung yang tidak begitu mengesankan dibanding dia.

Paul melarang saya untuk memberi tahu orang-orang mengenai Bond. Katanya orang akan datang untuk menangkapnya kalau mereka tahu dia ada di sana. Tadinya saya tidak percaya, tapi ternyata itu benar. Waktu saya cerita kepada beberapa orang di tempat saya kerja (ini tidak melanggar larangan Paul, karena ‘orang-orang’ yang dimaksudnya adalah mereka yang tinggal sedesa), dan menunjukkan fotonya untuk jadi bukti kalau saya tidak bohong, semua kagum dan banyak yang bertanya, “Nggak ditangkap?”. Ternyata benar kata Paul. Saya ceramahi mereka supaya sedikit maju pikirannya, tapi saya malah dianggap aneh. Akhirnya saya tahu bahwa untuk mereka, punya kurungan yang berisi makhluk eksotik supaya bisa dipandangi sendiri atau dipamerkan kepada orang lain adalah sebuah pencapaian tinggi yang bisa menaikkan prestise.



Bond si burung hantu bukan satu-satunya yang eksotik dan orang ingin mengurungnya kalau bisa. Tupai juga. Ada seekor yang tinggal di pepohonan dekat rumah saya. Saya pernah melihatnya sedang duduk dengan kaki depan diangkat ke dekat muka, dan mulutnya bergerak-gerak seperti sedang makan. Tupai ini membuat sarang beberapa meter di atas teras saya yang dibangunnya di atas batang-batang pohon bambu yang lebat dan tumbuh menjorok ke teras. Suatu pagi saya menemukan sarang ini tergeletak di lantai teras. Pasti karena malamnya hujan lebat sekali dan angin kencang menjatuhkan sarang itu. Pak Putu (tukang ojek saya yang baru) yang menunjukkan sarang itu. Saya mengamati sarang yang terbuat dari ijuk yang tebal sekali itu dan saling menjalin rapat. Lalu Pak Putu menemukan dua ekor bayi tupai di dalamnya! Kecil sekali, hanya sebesar jempol orang dewasa. Pak Putu mengembalikan sarang ke pohon bambu, tapi tidak bisa di tempat yang sama karena letaknya terlalu tinggi.

Saya cerita lagi mengenai kejadian ini. Salah seorang sangat bersemangat dan minta diijinkan untuk mengambil bayi tupai itu. Beuh. Ini lagi. Kenapa gak minta ijin sama ibu tupai, saya kan bukan orang tua dari bayi-bayi itu. Dia yakin bisa membesarkan bayi itu, dan tahu apa makanannya. “Susu, tapi harus dicairkan, kalau enggak jadi sakit perut dan bisa mati,” katanya yakin. “Kalau tupainya sudah besar dan lari-lari di dalam kandang, keren sekali!” Karena dia bujangan yang mengurus diri sendiri saja tidak mampu, dan menurut gosip kamar kosnya sendiri kaya kandang, saya cuma mendengus menghina.


Ada satu hal yang membuat saya kuatir. Orang bilang ibu tupai tidak akan mau menyentuh anaknya lagi kalau anaknya itu sudah tercampur dengan bau manusia. Saya mengingat-ingat apakah saya menyentuh bayi-bayi tupai itu. Sepertinya tidak. Pak Putu juga tidak. Besoknya lagi, saya minta Pak Putu menurunkan sarang tupai itu untuk diperiksa. Kosong. Berarti ibu tupai sudah memindahkan anaknya. Tapi dia tidak mau menggunakan sarang itu lagi. Dibiarkan kosong saja. Mungkin benar kata orang, karena sarang itu pernah dipegang manusia, sarang itu sudah tercemar. 

Rabu, 21 Januari 2015

Jalan-jalan Pakai Motor



“Saya pergi ke mana-mana naik motor,” kata saya pada seorang teman di Bandung.
Dia memandang dengan kasihan. Saya maklum. Dulu saya juga berpikir seperti itu. Naik motor itu sengsara. Panas, berangin, kena debu. Kalau hujan basah kuyup. Pokoknya tidak ada bagusnya sama sekali. Saya juga memandang motor dengan negatif. Kalau jalan suka seenaknya, dan di kota-kota besar jumlahnya luar biasa banyak sampai mengintimidasi. Sebagai pengendara mobil saya memilih untuk mengalah. Selain itu, ada alasan lain kenapa naik motor itu enggak banget. Kalau naik motor harus pakai ‘gelembung’ yang jelek di kepala. Kalau mau pakai baju cantik dan sepatu tumit tinggi dan bawa tas tangan jangan pakai motor, deh. Gak matching banget!

Di sini suasananya lain. Saya kenal banyak orang yang lebih dari sanggup kalau cuma untuk beli mobil, tapi memilih untuk tidak punya mobil. Kebanyakan orang asing. Beli mobil kalau punya anak-anak yang masih kecil saja, yang diperlukan untuk antar jemput ke sekolah. Alasannya adalah demi kepraktisan. Ubud sudah sering macet dan banyak tempat yang tidak bisa didatangi dengan motor. Bahkan rumahnya yang di tengah sawah sendiri tidak bisa dicapai dengan mobil. Dan ternyata, naik motor itu enak banget. Memang ada kekurangannya, tapi kalau dihitung-hitung, selama badan masih kuat, menurut saya motor itu jauh lebih asyik untuk dipakai jalan-jalan menjelajah Pulau Bali.

Orang-orang yang berkunjung ke Bali sukanya mendatangi tempat yang itu-itu saja. Lihat saja daftar perjalanan tour anak-anak sekolah atau rombongan ibu-ibu yang pergi ke Bali. Selalu Kuta, Pandawa, Tanah Lot, Sangeh. Sesudah itu belanja di pasar Sukowati atau beli perak di Celuk. Dan wajib hukumnya mampir di Krisna untuk beli oleh-oleh. Membosankan sekali, ya? Bukannya tempat-tempat itu tidak layak dikunjungi. Tanah Lot itu indah sekali, begitu juga Kintamani dan danau di Bedugul. Tapi kenapa selalu menjalani jalur yang ‘aman’ dan banyak dikunjungi orang saja? Padahal banyak kemungkinan yang bisa diambil di Bali. Lain kali kamu pergi ke Bali, saya mau mengusulkan jalur lain. Dan percayalah, naik motor akan jauh lebih asyik, hehehe.

Ini adalah jalur yang kami ambil menjelang malam tahun baru yang lalu. Kami mengunjungi Widya yang tinggal di Pupuan. Jadi, mulailah dari Ubud dan ambil jalan ke arah Tabanan. Setelah itu pergi ke daerah pegunungan. Jangan salah, ada tempat yang namanya Jatiluwih yang juga di pegunungan dan titik awalnya juga dari Tabanan. Itu juga tempat yang menarik dan bisa dikunjungi lain kali. Sekarang kita mau ke Pupuan saja. Widya bilang dari Ubud ke Pupuan jaraknya 2,5 jam naik motor. Tapi kami menempuhnya lebih dari 4 jam. Kenapa? Pertama karena hujan. Berhenti dulu dua kali dan mampir ke pasar beli jas hujan untuk teman saya yang nyetir motor. Juga tersesat dan terpaksa balik lagi. Alasan lain yang tidak perlu disesali: karena jalur di pegunungan ini indaah sekali. Jangan ngebut di sini supaya bisa toleh-toleh kiri kanan. Kalau diikuti, rasanya di setiap belokan mau berhenti dulu karena sering pemandangannya lebih bagus dibandingkan di jalan yang lurus, bisa melihat lengkungan jalan yang baru dilewati. Hutan lebat. Jurang dalam yang rapat ditutupi tanaman hijau dan liar. Gunung-gunung di kejauhan. Sawah. Sambung menyambung tidak ada habisnya. Baru di akhir perjalanan muncul desa-desa. Setelah itu Pupuan, yang paling ramai. Biar capek dijamin tidak menyesal. Herannya, ada orang Tabanan yang tidak tahu di mana Pupuan. Dua orang yang kami tanyai menjawab, “Pernah dengar, tapi tidak tahu di mana. Tanya saja orang lain.” Duh. Orang Tabanan tapi tidak pernah ke Pupuan? Rugi amat!

Setelah satu jam lebih di rumah Widya kami berangkat lagi. Widya memberi bekal salak dan sumping, yang dulu saya kenal dengan nama nagasari. Rumah Widya sedikit melewati pertigaan Pasar Pupuan. Kami harus kembali ke pertigaan lalu belok ke kanan karena tujuan selanjutnya adalah Lovina.
“Kalau dari pertigaan diteruskan, itu ke mana Wid?” tanya saya.
“Ke Munduk,” jawab Widya.
Wah. Munduk. Dengar-dengar ini juga tempat yang bagus. Ada kenalan saya yang tinggal di sana. Saya juga pernah ketemu beberapa turis asing yang memasukkan Munduk dalam daftarnya untuk diinapi selama beberapa hari. Belum pernah ketemu turis Indonesia yang melakukan hal yang sama. Gampang ditebak, mereka maunya menginap di Kuta, Sanur, Seminyak dan sekitarnya. Menginap di Ubud atau Lovina saja segan.
“Munduk itu bagus, kan?” tanya saya lagi.
“Nggak tahu. Belum pernah ke sana.”
Astaga. Ini sih sama saja dengan dua orang Tabanan yang belum pernah ke Pupuan itu. Tapi ke teman saya saya membela Widya.
“Ngapain Widya harus ke sana? Memang ada orang yang pingin pergi ke Munduk?”
“Ada. Saya,” jawab teman saya.

Maka kami berangkat. Ke Lovina, bukan Munduk. Tapi suatu saat nanti pasti saya pergi ke Munduk. Dan jalur Lovina yang kami lalui itu, ya ampun, indaah sekali. Pohon-pohonnya tidak begitu liar dan rapat seperti jalur Pupuan, tapi sama mengagumkannya. Ada ruas jalan yang seperti di Puncak. Bedanya, kalau di Puncak ada kebun teh, di sini sawah. Kami berhenti sebentar dua kali untuk mengambil foto. Di lembah jauh di bawah terlihat sungai mengalir deras. Gunung-gunung ada tiga, semuanya berada di kejauhan. Saya tidak tahu gunung apa namanya. Sawahnya sedang menguning.

Kami menginap semalam saja di Lovina. Kembang api diluncurkan dari hotel-hotel dan homestay sepanjang pantai untuk menyambut tahun baru. Kami cuma menonton dari pantai hotel kami sendiri. Besoknya, sesudah sarapan, perjalanan dilanjutkan dengan tujuan… Amed. Tadinya saya tidak mau. Saya pikir untuk ke Amed perlu empat jam juga seperti jarak Ubud-Pupuan. Untungnya saya mengalah.  Pertama berangkat masih ogah-ogahan, eh semakin lama semakin semangat sejalan dengan pemandangan yang berganti-ganti. Kota besar, desa, pantai, desa lagi dan pantai lagi. Favorit saya adalah jalan yang menyusuri laut. Dua kali kami mendekati laut karena percuma sekali kalau pemandangan seperti itu cuma dilihat dari jauh. Ada juga jalan yang berbelok-belok pas sekali di pinggir tebing, sementara di bawahnya laut terbentang.Tidak lama sesudahnya sampai juga di Amed. Saya suka sekali desa kecil yang tidak kekurangan hotel dan restoran ini. Padahal, tadinya saya ingin berhenti dan menginap di mana saja sebelum Amed karena tempatnya bagus-bagus. Pantainya berpasir hitam dan enak sekali dipakai berenang karena ombaknya tidak terlalu besar.

Kembali ke premis awal bahwa naik motor lebih enak daripada naik mobil. Yang jelas, di sini lalu lintasnya tidak sepadat di Pulau Jawa. Naik motor masih oke kecuali kalau matahari sedang panas-panasnya. Keuntungan naik motor, kita jadi ingin menjelajah semua jalan meskipun sempit dan sedikit bergerinjul. Ke mana ujungnya, tidak penting amat. Pilihan yang tidak sengaja ini malah sering membawa ke tempat-tempat indah yang tidak terduga. Pantai yang sepi dan tenang. Hamparan sawah yang luas. Pura kecil yang pasti belum pernah dikunjungi wisatawan. Kalau jalan itu buntu, gampang sekali untuk putar balik. Sedangkan kalau naik mobil maunya kan mengikuti jalan besar yang biasa dilewati semua orang dan tujuannya pasti-pasti saja. Karena kalau nyasar malah repot. Selain itu mobil tidak bisa berhenti dan parkir di mana saja. Ada pohon berbunga lebat sekali  seperti sakura di Jepang, yang tumbuh di depan pura sebuah desa? Repot ah mau berhenti. Ada pemandangan bagus sekali di bawah tebing sana, kombinasi antara laut dan deretan rumah nelayan? Gimana mau berhenti, tepi jalannya sempit begini, belum lagi pas di belokan. Tambahan, dengan naik motor kita bisa merasakan angin meniup muka, rambut terurai ditiup angin segar (ini bohong. Mana bisa, kan harus pakai helm, hehehe). Pokoknya, tidak ada batas dengan alam. Seperti ikan di sungai. Sedangkan naik mobil sama dengan disekap dalam akuarium.

Minggu, 20 April 2014

Pulang Kampung

Sawah yang habis dipanen dengan batang-batang padi yang terpotong dan gundukan batang padi yang coklat terbakar di sana-sini selalu membuat perasaan  agak sendu melihatnya. Pemilik sawah itu, Dirna, tidak perlu lagi datang ke sawah setiap hari. Hari Minggu ini adalah hari yang tenang. Bebek-bebek belum datang berombongan dengan ribut untuk memakani sisa-sisa padi yang tercecer setelah panen. Mungkin kabar tentang panen sawah Dirna belum diketahui para pemilik bebek. Semua gerakan seperti diperlambat, angin juga berhenti bertiup. Bukan cuma manusia, alam juga malas hari itu.

Lalu terlihat gerakan cepat dan tergesa di sebelah kiri atas. Seekor tupai sedang meniti kabel listrik dengan kaki-kakinya yang kecil. Dia bergerak dengan cepat dan ahli, pasti sekali dengan tujuannya. Dua ekor merpati bertengger di kabel itu juga dengan jarak agak jauh.Tupai tidak mengurangi kecepatannya ketika mendekati merpati pertama. Merpati tidak sudi bergerak untuk menyingkir. Dia mengibaskan sayapnya dengan jengkel ketika tupai itu menabrak badannya. Siut…. dalam satu gerakan saja Tupai membalikkan badan, sekarang bergerak masih dengan tergesa dengan posisi kepala di bawah. Lalu dia berbalik lagi dengan posisi normal, dan siut…, kembali berakrobat membalikkan badan ketika merpati kedua juga menamparnya dengan kibasan sayap. Tanpa terganggu dia melanjutkan perjalanan. Tupai berubah pikiran, tidak jadi meniti kabel sampai ujung. Dia menerjunkan diri ke atas pohon pisang lalu melarikan diri ke atas atap dan menghilang.

Paul memperhatikan kejadian itu dari jendela rumahnya. Itu sedikit menghiburnya. Banyak hal di daerah ini yang membuatnya jengkel—orang membangun tidak henti-hentinya, satu rumah selesai disambung dengan rumah lain. Sawah semakin banyak menghilang. Turis-turis berdatangan mengubah suasana desa dengan sangat drastis. Dia sering merindukan negaranya, Australia. Empat tahun dia tidak pernah pulang. “Di Australia, kamu bisa mengendarai mobil di jalan yang sangat lurus tanpa satu belokan sejauh bermil-mil dan tidak berpapasan dengan mobil lain… Kamu bisa berjalan di pantai berpasir putih dan menjadi satu-satunya orang di sana…. Kamu bisa pergi ke bush, diam di sana dan mencoba mendengarkan suara—dan kamu tidak mendengar apa-apa, tidak ada yang terdengar, bahkan suara angin.” Ubud sudah menjadi terlalu ramai baginya. Hanya dalam waktu empat tahun, puluhan rumah baru bertumbuhan di tempat yang tadinya sawah. Gergaji listrik bersuara melengking sering membuatnya gila.

Akan tetapi dia tahu dia akan sangat merindukan tempat ini. Sudah empat tahun dia tinggal di sini, di rumah yang sama. Belum pernah sekali pun dia tinggal selama ini di rumah yang sama, sejak umur enam belas ketika dia meninggalkan rumah orang tuanya untuk mulai hidup mandiri. Sekarang dia harus pergi, dan tidak merasa pasti apakah akan kembali lagi. “Kamu tahu,” katanya pada saya, “kepulangan saya ke Australia ini sudah ada yang meramalkan sejak lama. Tapi saya tidak mempedulikan. Saya tidak benar-benar mendengarkan.”

Peramal yang dimaksudnya itu adalah Oracle, nama yang diberikannya pada tokek yang tinggal di rumahnya. Sudah sering dia bilang bahwa Oracle pintar meramal, dan itu selalu membuat saya menghela napas panjang dan memutar mata. Tapi dia tidak terpengaruh. “Saya tahu kamu berbahasa Inggris dengan baik, tapi itu bukan bahasa ibumu,” katanya pada saya. “Oracle beda. Dia bicara bahasa Inggris dari hati, dan saya mengerti apa yang dikatakannya.” Oh, jadi bahasa Inggris saya dikalahkan oleh seekor tokek bali. Ini hal yang baru buat saya. Memang apa sih yang dikatakan Oracle agung yang pandai meramal itu? Macam-macam. Dulu dia sering bilang “Wacko. Wacko.” Itu kata Paul. Menurut pendengaran telinga saya kata-kata tokek itu adalah, “Tokek. Tokek.” Itu sebabnya reptil ini disebut tokek, saya mencoba menjelaskan. Sebagai jawaban Paul memandang saya dengan kasihan, seakan saya seorang anak polos yang tidak mengerti rahasia alam.

Oracle ini sering sinis, bahkan jahat dan berbahasa kasar. Kata-katanya yang lain adalah “F**k off. F**k off.” Waktu Paul sedang malas dan membuat-buat alasan untuk tidak memenuhi janji bertemu dengan seorang temannya, Oracle yang kadang-kadang bisa penuh pengertian memberinya semangat dengan, “Let’s go. Let’s go.” Paul jadi merasa dia diajak keluar rumah, bukan dipaksa. Yang tadinya malas sekarang semangat lagi. Tapi ini kejadian yang sangat jarang. Oracle lebih sering dalam keadaan normalnya yang jahat dan sinis tadi.

Lama-lama Oracle jadi sangat menjengkelkan. Dia sering bersuara tanpa mempertimbangkan waktu yang cocok, memberikan ramalan yang tidak diminta. Suaranya jadi semakin keras dan serak. Paul memberi tahu saya, “Ternyata Oracle itu seekor betina!” Waduh, mana saya tahu membedakan tokek jantan atau betina, apa lagi cuma dari suaranya saja. Terserah situ, deh. Setelah sering mengganggu Paul di tengah malam, Paul memutuskan bahwa Oracle harus disingkirkan. Dengan bahasa yang halus, dibuat pergi. Caranya dengan ditembak. Kalau yang ini saya tidak punya kata-kata yang halus.

Tapi bukan Oracle namanya kalau mudah saja disingkirkan. Dia tahu kapan harus bersembunyi. Jadi dia dengan tenang masih terus memberikan ramalannya. “Just go. Just go,” perintahnya. Dan Paul luput memperhatikan ramalan terakhirnya ini. Baru ketika dia harus pergi dia bilang, “Jadi itu yang dikatakan Oracle selama ini.” Saya jengkel mendengarnya. “Dari dulu, sekarang, dan nanti, tokek cuma bilang ‘tokek’,” jawab saya. Saya kaget sekali ketika dia menjawab, “Kamu benar. Oracle sebenarnya tidak bisa bahasa Inggris. Dia cuma asal bunyi.” Nah, gitu dong. Lega rasanya soal ini sudah selesai.

Seperti Aryo, Paul juga tidak suka anjing. Tapi dia suka ikan dan berbagai burung. Waktu masih remaja dia pernah menyelamatkan dan berusaha menyembuhkan burung elang yang patah sayapnya karena tertembak. Sudah lama burung ini dirawat, masih juga belum sembuh dan tidak sanggup terbang. Paul sudah membayangkan hari-hari suram yang menantinya sampai umur tiga puluhan. Burung itu cuma bisa meloncat-loncat, meliriknya dengan pandangan aneh dan berteriak serak, “Kroaaak, kroaaak…, sayang sekali ya, kamu tidak pernah menikah.” (Paul terlalu sibuk untuk punya pacar lalu menikah karena burung itu terus membebaninya). Tapi nyatanya Paul pernah menikah, jadi bisa dipastikan burung itu akhirnya sembuh.

Burung itu sembuh secara ajaib dan meninggalkan kandangnya secara ajaib pula. Kandang itu tidak punya bekas-bekas dibuka secara paksa. Paul merasa kehilangan sekaligus lega. Tiga hari kemudian dia melihat burung itu di sebuah pohon di desa tempat tinggalnya. Burung itu masih tinggal di pohon itu beberapa lama untuk mengucapkan terima kasih. Suatu hari dia pergi dan Paul tidak pernah melihatnya lagi.

Sebagai pencinta binatang liar Paul juga mengajari saya bagaimana mengerti bahasa kodok. Tinggal di daerah persawahan seperti ini, memang bagus sih pemandangannya, tapi harus siap mendengar suara kodok yang macam-macam jenisnya di malam hari. Memahami bahasa kodok itu jadi penting, karena sangat tidak enak kalau kita bengong sendiri di tengah-tengah percakapan yang tidak kita mengerti. Tidak perlu juga paham dengan tepat sekali, dan imajinasi juga merupakan hal yang penting di sini. Menurut Paul kodok-kodok itu bersahut-sahutan seperti ini:

“Krok-krok-kung.”
“Krok-krok.”
“Keh-keh-keh.”
“Kik-kik-kik.”
“Besok hujan tidak?” seekor kodok mulai bicara dengan jelas.
“Krok!”
“Yak!”
“Tauk!”
“(Barang)kali.”
“Besok hujan tidak?” Ini kodok yang lain, bukan yang tadi.
“Ha-ha-ha” (ada yang terbahak)
“Kik-kik-kik” (ada yang terkikik)
“Keh-keh-keh” (ada yang terkekeh)
“Sekarang giliran siapa?” seekor kodok bertanya.
“Saya! Euh…, besok hujan tidak?”
Semua kodok itu serempak terbahak, terkikik dan terkekeh. Habis pertanyaan seperti itu selalu ditanyakan setiap kodok di mana saja dan kapan saja.

Kalau kamu lalu ingin ikutan dengan konser mereka, boleh dicoba dengan menirukan suara mereka dengan keras dan usahakan semirip mungkin. Pasti salah satu akan menyahut.
“Ada yang mau ikutan! Diterima tidak?”
“Krok!”
“Kung!”
“Tauk!”
“Oke!”
Oke? Kok kedengarannya bukan seperti suara kodok? Oh, ini sih Oracle yang nimbrung. Memang antara “tokek” dan “oke” mirip ya?

Kamis, 02 Januari 2014

Perabot Beroda


Beberapa hari belakangan ini tempat saya kerja sering sekali memanggil teknisi komputer untuk datang. Internet yang ngadatlah, printer yang macet atau kehabisan tinta, program yang macet, layar monitor yang bergaris-garis, pokoknya macam-macam. Teknisi itu, Pak Gus, orangnya kalem sekali. Biarpun disambut dengan teriakan panik, atau ditelpon mendadak dan disuruh datang saat itu saja, dia tidak pernah bingung atau kesal atau apa pun. Karena selalu melihatnya cuek dan dingin, untuk memancing reaksinya saya memikirkan kata-kata apa yang bisa membuatnya sedikit bereaksi. Saya bilang begini, “Pak, kami ini klien yang baik, ya? Baru seminggu saja sudah nyuruh Bapak datang tiga kali. Mestinya dikasih diskon, tuh.” Dengan sangat kalem dia menjawab telak, “Jadual saya jadi berantakan gara-gara sering disuruh datang ke sini.” Sialan. Pintar juga dia menjawab.

Sudah agak lama saya ingin posisi meja saya diputar membelakangi jendela supaya jadi lebih lega. Saya juga sudah dipesankan komputer baru. Waktu Pak Gus datang untuk memasang komputer baru, saya pakai kesempatan itu memintanya menggeser letak meja sekalian. Menurut Pak Gus posisi membelakangi jendela itu kurang bagus karena cahaya matahari akan memantul di layar monitor. Silau. Saya tes dengan menyuruh Pak Gus memegangi monitor berhadapan dengan jendela untuk melihat ada pantulannya apa tidak. “Nggak masalah, kok, Pak,” kata saya. “Tapi sekarang sedang mendung. Kalau matahari sedang terang beda lagi,” jawabnya. Tapi saya yakin dengan keputusan saya. Saya sudah tidak sabar ingin posisi meja yang baru.

Setelah geser sana geser sini mengikuti kemauan saya yang ingin mencoba berbagai macam posisi meja, akhirnya Pak Gus mengatur dua meja kerja saya dalam bentuk huruf L. Dia bukan cuma memasang kabel, printer, dan mengetes komputer, tapi juga memindahkan semua file, alat tulis, buku-buku, dan semua yang berat-berat. Yang agak repot masalah kabel. Dengan pindahnya posisi meja, stop kontak lama tidak bisa digunakan lagi karena terlalu jauh letaknya. Pak Gus sibuk naik-naik meja dan mondar-mandir memecahkan masalah. Akhirnya beres juga. Saya mengelap permukaan meja dengan tisu basah untuk menghilangkan debu lalu duduk di depan layar monitor. Hah! Ada pantulan cahayanya. “Pak Gus, saya nggak suka letak mejanya. Cahaya matahari mantul di monitor,” kata saya. Untuk pertama kalinya muka Pak Gus yang selalu kalem itu bereaksi. Mulutnya melongo, matanya melotot tidak percaya. Saya bisa membaca pikirannya. “Apa?! Jadi mau minta pindah lagi?!  Mbak ini kelihatannya baik tapi ternyata sadis!”

Begitu juga reaksi Paul waktu saya ceritakan kejadian itu. Dia kaget. “Kamu cuma bercanda, kan?” “Nggak,” jawab saya, “memang ada pantulan cahayanya, kok.” Menurut Paul masalah itu dengan gampang bisa dipecahkan. Bikin saja meja beroda. “Jadi, kamu bisa geser meja itu kapan saja kamu mau, sambil mengikuti gerakan matahari dari timur ke barat.” Haduh, saran aneh seperti itu, siapa yang mau dengar? Tapi saya tidak heran saran seperti itu keluar dari mulutnya karena hampir semua perabot di rumahnya beroda. Mulai dari kursi bar, meja komputer, sampai meja kerjanya yang dua buah, semua ada rodanya. Juga meja tamu, sofa, meja berlaci dan lemari pakaian. Cuma tempat tidur saja yang tidak beroda. Tidak masalah untuk perabotan yang aslinya tidak beroda. Dia akan memasang sendiri rodanya. Mungkin pacarnya nanti juga akan dipasangi roda di kakinya. Begitu fanatiknya dia dengan roda. Tapi dia tidak sadar bahwa saya tidak begitu berminat pada idenya. “Gimana kalau saya datang ke kantormu dan memasang roda di semua perabot yang ada di sana? Tukang bersih-bersih pasti senang sekali, lebih mudah membersihkan ruangan yang perabotannya bisa digeser-geser.” Saya pura-pura tidak dengar dan cepat mengubah pembicaraan.

“Pohon apa itu? Dulu tidak ada,” tanya saya sambil melihat ke halaman. Paul bilang itu pohon alpukat. “Alpukat yang dulu?” tanya saya untuk meyakinkan. Katanya memang iya. Pohon alpukat itu dulu diikatnya dan batangnya ditahan supaya tumbuh mendatar ke samping. Dia mengharapkan pohon itu selain tumbuh ke samping, juga akan menumbuhkan cabang-cabang yang tegak lurus ke atas. Dengan begitu cabang-cabang beserta daunnya itu bisa sekaligus menjadi pagar. Tapi pohon alpukat itu punya rencana lain. Dia tidak suka diatur-atur orang. Dengan tenaganya sendiri dia berhasil membebaskan diri dari ikatan dan tumbuh normal ke arah atas. Pohonnya sudah lumayan tinggi sekarang. Paul bilang pohon itu harus ditebang karena tumbuhnya terlalu dekat ke pagar. Akarnya nanti bisa membongkar tembok pagar kalau pohon itu sudah benar-benar besar. Sayang sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi.

Kembali ke masalah komputer dan posisi meja, saya memang tidak menyuruh Pak Gus untuk mengembalikan meja ke tempat semula. Saya juga tidak tega kok. Tapi saya sudah cukup terhibur melihat reaksinya yang kaget bercampur takut. Lucu sekali. Sedangkan masalah pantulan di layar monitor, itu juga harus diselesaikan. Saya berpikir sebentar, bagaimana menyusun kata-kata supaya Pak Gus mau memindahkan meja tidak pakai ngambek. Apa menyuruh orang lain saja? Tapi karena saya sebenarnya suka dengan ruang kerja saya yang jadi lebih lega sekarang, kami memutuskan untuk memasang gorden saja di jendela. Saya panggil Pak Putu, pekerja kantor, supaya memindahkan gorden yang ada ke jendela di belakang saya.

Waktu sedang beres-beres bos saya datang. Ini sudah keempat kalinya saya merepotkan orang. Baru beberapa hari kerja di sana saya sudah minta pindah ke pojokan di mana mesin fotokopi diletakkan. Alasannya, banyak orang yang mondar-mandir di depan meja saya untuk pergi ke mesin fotokopi itu, saya jadi tidak bisa konsentrasi. Jadi, mesin fotokopi yang berat itu harus pindah ke ujung ruangan yang satunya lagi. Akibatnya lemari arsip juga harus pindah. Beberapa hari kemudian saya juga minta kaki meja saya dipendekkan. Selain itu saya juga minta dibuatkan meja mini yang diletakkan di atas meja kerja, untuk alas komputer. Dengan begitu keyboard letaknya rendah, sedangkan layar monitor jadi tinggi. Ini perintah dokter, bukannya saya mengada-ada, demikian saya terangkan ke bos saya. Semua ini dituruti. Sekarang, melihat Pak Putu yang sedang repot memasang gorden, bos diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin dia jadi mempertanyakan lagi keputusannya sudah mempekerjakan saya, jangan-jangan kerja saya pindah-pindah posisi dan bongkar pasang barang bakalan tidak ada habisnya. Saya coba terangkan bahwa posisi meja saya yang sekarang ini ideal sekali, tapi dia tidak menjawab. Setelah menanyakan sesuatu dia langsung pergi.

Sekarang sudah ada orang yang bilang suka dengan posisi baru meja saya. Katanya ruangan jadi lebih terang. Hm, apa hubungannya, ya? Mungkin maksudnya muka saya jadi lebih bersinar -ehem- karena duduk membelakangi sumber cahaya. Lama-lama bos juga senang. Dulu, kalau sedang perlu data di komputer saya, dia duduk di samping saya yang tempatnya sempit sekali. Setiap kali saya berdiri untuk ambil file dia harus berdiri juga dan keluar dulu untuk memberi jalan. Sekarang, dia bisa duduk di ujung meja yang bentuknya seperti huruf L dengan nyaman. Dia mudah melihat layar komputer karena berada di belakang agak ke samping kanan. Lemari arsip juga pas ada di sebelah kiri saya, tidak perlu lagi keluar meja untuk ambil arsip. Bos juga dapat tempat di meja untuk meletakkan buku dan coret-coret. Sepertinya dia betah duduk bermenit-menit di sana. Nah, kan? Lebih enak begini. Makanya, percaya deh sama saya.