Kamis, 14 Januari 2016

Menari Lagi

Musik berhenti dan para pemain band bubar untuk istirahat selama setengah jam. Kami bertepuk tangan dan kembali ke meja kami. Ngobrol dan bercanda sambil menghabiskan minuman. Memang enak kalau habis nari gini, hati ringan dan gampang ketawa. Seorang pramusaji datang lalu meletakkan satu botol anggur merah dan gelas lima buah. Diisinya gelas satu per satu. Lho? Kami kan tidak pesan anggur?
“Dari Bapak,” katanya.
Yang dimaksudnya dengan ‘Bapak’ adalah pemilik dari restoran dan bar itu. Di sini ada live music-nya setiap malam. Biasanya kami ke sana di malam minggu. Kami melambai dari jauh untuk mengucapkan terima kasih untuk anggurnya. Setelah itu masih beberapa kali kami mendapat hadiah yang sama kalau sedang ke sana. Malah pernah dikasih dua botol tapi kami tolak. Kalau nanti ada yang mabuk padahal harus naik motor pulangnya, bagaimana? Biasanya Mawar dan Miren cuma minum satu gelas anggur, sedangkan Rima bir. Saya senangnya jus cranberry, jahe panas, atau teh. Eh? Di bar minta teh panas? Dulu-dulu saya langsung merasakan efek mabuk meskipun cuma minum seperempat gelas anggur. Sekarang mendingan, mabuknya hilang, tapi ngantuknya jadi tidak tertahan. Mending tidak minum minuman beralkohol sekalian saja. Pernah dalam acara makan malam resmi saya terus berdoa dan melirik jam dengan putus asa. Ini acara makan sudah dua jam kok nggak selesai-selesai, sih. Ngantuuuuk. Hoahmmm! Tapi tetap saja anggur putihnya saya habiskan. Untung saya ingat untuk menutup mulut dengan tangan. Padahal saya kalau nguap biasanya baru puas kalau membuka mulut lebar-lebar yang bikin orang takjub. Mana mungkin muka dan kepala sekecil itu, yang kalau pinjam helm orang talinya harus disetel sependek-pendeknya, bisa punya bukaan mulut yang mengalahkan ukuran normal?

Di mana ada live music sedang berlangsung kami bisa membuat suasananya jadi lebih meriah dengan mulai menari pertama. Jenis musiknya bisa apa saja, asal enak dipakai nari. Yang lain-lainnya baru mau setelah melihat contoh benar yang kami lakukan, dan iri melihat kegembiraan yang kami rasakan. Pengunjung senang, pemain band senang dengan banyaknya yang menari. Mereka semakin bersemangat memainkan musik. Kadang musik yang berirama latin lebih dipercepat dan ini bikin penari salsa pemula jadi kalang kabut (udah, lupakan aturan salsa, bergerak semau dan sebebasnya sajaah…). Penyanyi band datang setelah acara musik selesai untuk bersalaman sekalian ngobrol sebentar. Pemilik restoran pasti senang juga, kalau tidak mana ada kasih-kasih wine gratis? Suasana meriah bisa membuat orang ingin datang lagi, jadi yang suka nari biasanya disambut dengan baik meskipun mereka cuma minum di sana, hahaha. Sepertinya dua tempat yang biasa kami datangi karena live musicnya ini punya pengunjung yang berganti-ganti terus. Mungkin mereka turis yang tidak sempat untuk membentuk kelompoknya sendiri. Akibatnya, ya itu tadi. Saling tunggu meskipun kaki sudah gatal bergerak. Kami juga begitu di tempat yang baru.

Acara tahun baru kami kemarin juga dirancang dengan ada acara narinya. Pertama makan dulu di restoran. Setelah itu pulang untuk menyalakan kembang api. Ini terutama untuk menyenangkan Jazz, anaknya Mawar yang berumur 9 tahun. Bunyi kembang api yang keras membuat Jack nyungsep ketakutan di bawah kursi. Seluruh badannya gemetar hebat. Harap dimaklum ya Jack, ini acara satu tahun sekali. Setelah itu baru kami keluar lagi untuk mendengarkan musik tanpa Jazz karena dia harus tidur. Tempat nongkrong yang didatangi ini suasananya sedikit dingin. Harus saya akui, pendapat ini subjektif sekali. Sekarang, kalau dengar musik di restoran atau yang lainnya tanpa ada acaranya narinya, saya anggap suasananya kurang asyik. Padahal ya salah sendiri, mau nari tidak dilarang kok. Tapi entah kenapa kami waktu itu tidak ada yang berminat untuk keluar dari kursi. Akhirnya sekitar jam sebelas  kami pindah tempat, ke tempat yang sudah biasa didatangi saja. Tempatnya penuh! Tapi manajernya santai saja, dia yakin bisa menyelipkan kami di antara para pengunjung. Kami dicarikan tempat supaya bisa bergabung dengan Miren dan Brett yang sudah dari tadi ada di sana dan sedang duduk dengan dua orang lagi. Maka kami berdelapan duduk berdesakan. Letak mejanya ideal sekali, di depan, jadi tidak ada yang merasa keberatan. Lagian ini malam tahun baru, masa mau sepi?

“Aku dari tadi belum dance,” kata Miren.
Kami bertukar pandang mengirim isyarat dan langsung saling mengerti. Saya dengan Miren memang klik kalau urusan nari. Kalau yang satu malas dance, dan yang satu juga malas dance, begitu keduanya digabung hasilnya jadi  semangat dance, hahaha. Kami ngobrol sambil minum sampai si manajer memutuskan suasana harus dibuat lebih hangat. Dia memberi isyarat ke arah meja kami menyuruh kami maju untuk menari. Gak perlu di suruh dua kali, langsung deh kami ngedance. Begitu juga yang lain. Lama-lama yang tadi masih mikir sekarang tidak ragu lagi. Suasana semakin lama semakin meriah. Setelah menghitung mundur untuk sampai ke jam duabelas malam, acara musik masih diteruskan. Kan tahun baru. Biasanya di Ubud musik di kafe dan bar harus berhenti paling lambat jam duabelas atau malah jam sebelas.

Saya bersyukur punya teman-teman yang suka nari meskipun agak disayangkan mereka tidak begitu suka nari salsa. Untunglah Lina sekarang sudah mau disuruh belajar salsa. Saya sedikit berkorban dengan mengulang lagi dari dasar demi menemaninya belajar di kelas. Kursus salsa privat juga masih saya teruskan meskipun tidak rutin lagi. Ternyata cara orang ngajar itu beda-beda. Made, guru privat saya yang pertama lebih mengutamakan sebanyak mungkin menari. Sejam belajar dengan dia bisa menari sampai delapan lagu. Belajar dengan dia fun! Apalagi dia punya kombinasi gerakan macam-macam. Kalau Agung lain lagi. Semua gerakan saya dikoreksi dan kebiasaan yang salah dipaksanya untuk dihilangkan. Muternya salah. Tangannya salah. Kakinya salah. Bahu mesti begini. Kaki mesti jinjit. Ulang lagi! Sampai bisa! Sejam dengan dia keringat menetes-netes. Dia duduk merokok sambil mengawasi sementara saya harus melangkah dengan gerakan dasar banget selama lima menit untuk mendapatkan 'hitungan 1'nya. Dapat apa tidak saya tidak tahu karena dia cuma ngeliatin tanpa komentar hehehe.Jadi ajarannya sebenarnya banyak manfaatnya.

Saya sadar tidak mungkin jadi penari salsa yang sangat baik. Disuruh rajin mendengarkan musik untuk melatih kepekaan saja malas. Latihan muter sendiri  cuma bertahan dua hari. Sekarang pun, kalau sudah berdiri berhadapan mau mulai menari latin, saya masih nanya sama partner narinya, “Ini salsa apa bachata?” karena belum bisa membedakan musiknya dari awal. Untung banget jadi cewek, semua urusan koreografi gak perlu mikir. Tapi ada yang bilang jadi cewek itu susah karena tidak tahu gerakan selanjutnya bakal gimana. Saya suka iri kalau melihat orang yang jago menari salsa. Tapi banyak penari salsa yang hanya mau atau bisa menari latin. Begitu selesai menari di satu tempat kadang-kadang kami pindah ke tempat lain. Di tempat yang kedua ini ketemu lagi dengan mereka. Para penari latin ini banyak yang diam saja karena musiknya bukan latin. Satu dua menari salsa meskipun musiknya rock. Oke deh. Boleh-boleh saja kok nari salsa dengan iringan musik rock.

Satu-satunya yang tidak suka saya menari adalah Jack. Kalau saya nyetel musik lalu goyang-goyang di depannya, pertama dia menonton dengan heran, terus mengalihkan mata, malu melihat kelakuan saya. Lama-lama dia tidak tahan dan terus pergi.
“Heh, ngapain kabur?!? Sini!” perintah saya, merasa dilecehkan.

Jack tidak mau dan terus ngeloyor pergi. Saya tersinggung nih. Tapi waktu dipikir lagi, ini adalah cara praktis mengusir Jack dari dalam rumah. Dia sudah sering nakal sekarang, tidak mau menurut kalau disuruh keluar. Maka saya praktikkan lagi hari berikutnya, goyang-goyang di depannya diiringi musik. Dia keheranan lalu melengos. Berhasil, pikir saya. Terus dia berdiri dan berjalan ke…. bawah sofa! Matanya merem serapat-rapatnya dan pura-pura budeg. Ternyata Jack lebih pintar dari saya. Kalau sudah di bawah sofa semakin susah saya mendorongnya dan semakin cuek dia membantah.

Selasa, 29 Desember 2015

Rumah

Jen jengkel sekali dengan pemilik rumah kontrakannya yang sering masuk tanpa ijin dan tahu-tahu sudah nongol di depannya. Dia ngomel-ngomel.“Kamu untung saya tidak sedang telanjang!”Lah, kok ya Mbak Nurul juga lagi jengkel. Katanya,“Meskipun dia masuk ke halaman untuk memperbaiki pagar, atau membereskan kaleng-kaleng bekas, rumah itu sudah saya kontrak, jadi dia harus minta ijin untuk masuk ke rumah saya.” Suaranya berapi-api.Saya sebenarnya mau menambahi juga dengan cerita pengalaman pribadi, tapi karena tidak bisa mengimbangi kejengkelan mereka, malahan merasa senang dengan situasi yang ada, lebih baik diam saja.

Ceritanya, beberapa benda milik saya berpindah tempat. Karena Mawar baru cerita barang-barang miliknya yang tidak berharga (untuk pencuri) sudah menghilang, saya mengira ada orang yang iseng sama saya. Saya segan untuk bertanya pada induk semang yang tinggal di lantai bawah. Iya kalau benar dia, kalau tidak? Bisa tersinggung nanti. Tapi untunglah waktu ngobrol santai akhirnya dia sendiri yang bilang kalau istrinya masuk ke rumah saya, sebenarnya modelnya lebih mirip apartemen, untuk bersih-bersih. “Gak apa-apa kan?” tanyanya. Heran saya kenapa dia bisa bilang itu tidak apa-apa. Tapi saya juga menimbang-nimbang cepat, wah lumayan, ada yang ngebersihin rumah gratis. Maka saya mengambil keputusan,
“Iya, gak apa-apa, sering-sering aja!” hehehe.
Makanya saya tidak menambahi cerita Jane dan Mbak Nurul walaupun saya sebenarnya pendukung privacy nomor satu, dan membenarkan Jen dan Mbak Nurul sepenuhnya.

Hampir setahun saya menikmati rumah dibersihkan gratis, tanaman disiramkan gratis, sampah dibuangkan gratis. Baru bulan-bulan terakhir saja servis itu berhenti karena istri Mas Karmin sudah kerja. Rumah Mas Karmin yang saya sewa itu adalah tempat tinggal saya yang ketiga di Ubud. Pertama saya kos, kedua bertetangga dengan Intan (kangen sekali dengannya), ketiga di tempatnya Mas Karmin. Saya sekarang sudah pindah lagi ke nomor empat supaya lebih sepi. Di bulan-bulan terakhir tempat Mas Karmin sudah kurang nyaman. Suara orang membangun tidak berhenti dari siang sampai malam. Satu selesai, satu lagi dibangun. Di tempat nomor empat inilah rasa kepemilikan saya paling besar, hehehe. Di tempat Mas Karmin saya sudah kompromi, saya biarkan saja Andre, keponakannya Mas Karmin, naik ke tempat saya. Apalagi dia juga tahu diri, selalu memberi tahu sebelum muncul.
“Mbak, mau ambil sampah!” serunya dari jauh.
Meskipun jendela terbuka lebar dan gorden terpentang, saya tetap baring-baring di tempat tidur dan cuma berpose lebih sopan saja. Sesudah itu dia cepat turun lagi. Dia tidak pernah lupa bilang permisi, meskipun kadang-kadang saya sendiri yang minta tolong dipasangkan bola lampu atau keran dispenser. Kadang-kadang ada yang keluarga Mas Karmin lakukan tanpa bilang dulu. Sebenarnya lebih baik ngomong dulu sama saya meskipun semuanya itu untuk maksud baik. Ah, sudahlah, demi yang gratis-gratis tadi saya juga tidak banyak protes.

Tempat tinggal yang nomor empat ini saya sukai terutama karena ada sawah di depan dan di belakangnya. Tapi halamannya benar-benar dirancang dengan cara yang sangat aneh. Pintu gerbangnya ada tiga dan semuanya aneh. Pintu gerbang utamanya bisa dimasuki dari jalan kecil  --namanya juga di pinggir sawah--  tapi begitu masuk jangan harap bisa langsung melihat pintu rumah karena kamu masuknya dari belakang!  Depan jadi belakang dan belakang jadi depan.  Kalau dari pintu gerbang utama ini langsung belok kiri menyusuri gang, ujungnya adalah pintu gerbang nomor dua yang tembus ke …rumah tetangga! Maksudnya apa coba?  Kalau tadi tidak langsung belok kiri melainkan lurus tentu saja akan ketemu halaman, teras dan pintu rumah. Halaman ini sudut sebelah kirinya tidak tertutup tembok atau pagar melainkan ada jalan tembusnya. Ke mana? Lorong ini terus melewati rumah tetangga dan di ujungnya barulah kita ketemu gerbang nomor tiga yang juga tembus ke rumah lain. Rumahnya Mawar. Jadi rumah saya bisa dimasuki dari jalan, dari rumah sebelah, dan dari rumah Mawar. Ini maksudnya apa to?

Memang pemilik dari tiga rumah itu adalah keluarga yang sama, keluarga Pak Wayan. Malah sekarang ada rumah ke empat di sebelah kiri saya yang ditempati oleh Miren. Rumah saya dijadikan pusat, jadi ada bangunan sanggah (tempat sembahyang serta menaruh banten)-nya di pojok halaman. Pak Wayan mengatur supaya dia bisa masuk dari semua pintu gerbang—dia punya kuncinya. Saya tidak keberatan dia pegang kunci gerbang utama supaya bisa menaruh banten di sanggah setiap saat diperlukan. Saya sudah dua kali mengganti kunci gembok gerbang ini karena macet, dan setiap kali saya beri dia kunci serepnya. Pintu gerbang yang tembus ke rumah Mawar cuma dibukanya kalau ada upacara keagamaan yang penting saja supaya orang-orang bisa keluar masuk ke sanggah dengan bebas. Saya sudah berdamai dengan kondisi ini. Tapi pintu gerbang nomor dua? Pintu ini sering dibuka karena Pak Wayan menyimpan kayu-kayu di rumah sebelah. Dengan kata-kata sopan saya protes waktu banyak tukang keluar masuk mengambil kayu. Pak Wayan bilang dia tidak punya kunci serep pintu utama rumah sebelah. Lah? Ya minta dong. Gerbang saya saja, tiga-tiganya dia punya kuncinya. Tapi Pak Wayan tidak begitu mengerti apa yang saya minta, atau dia tidak mengerti kenapa saya minta. Karena dia orangnya ramah sekali, saya bersabar saja dan berusaha melihat kebaikan-kebaikannya. Apa ya? Kebanyakan dia janji-janji saja. Mau membuat garasi bersama, cuma janji. Mau mengganti kulkas dan kipas besar yang harusnya adalah properti rumah, cuma janji. Yang penting ramah dan sopan. Protes ditampung, buka tutup gerbang jalan terus.

Pagi ini pas selesai mandi saya dengar suara-suara orang keluar masuk dari pintu gerbang nomor dua. Cepat-cepat saya melilitkan handuk di badan, menyambar kardigan dan memakainya untuk menutupi bahu lalu keluar. Saya lihat seorang laki-laki muda sedang mengeluarkan tangga besi yang disimpan di lorong antara pagar dan tembok rumah. Saya memberinya pandangan bertanya tanpa kata-kata,
Well, Anda mau menerangkan kenapa Anda masuk tanpa ijin?”
Eh, dia membalas dengan pandangan hampa yang sama,
Well, Anda mau menerangkan kenapa buru-buru keluar dengan pakaian yang tidak pantas, lagian ini kan tangganya Pak Wayan, bukan tangga Anda.”
Brengsek.
Begitu dia pergi dengan pesan akan kembali lagi untuk mengembalikan tangga, saya membongkar kotak sepatu yang isinya macam-macam benda yang disimpan karena prinsip siapa tahu perlu. Aha! Ini yang saya butuhkan. Gembok baru! Saya pasang gembok ini di pintu gerbang nomor dua. Beres deh.

Saya puas sekali dengan yang sudah saya lakukan. Dua gembok untuk satu pintu, dengan kunci masing-masing dipegang oleh orang yang berbeda. Saya rasa kotak penyimpanan di bank yang bisa disewa orang menggunakan prinsip yang sama. Baik pihak bank maupun pihak penyewa punya kunci. Di film yang pernah saya tonton, suasana ruang penyimpanan ini dibuat misterius sekali. Ketika kunci diberikan kepada pemilik kotak penyimpanan, kamera mengambil gambar close up muka pegawai bank yang serius, muka penyewa kotak, lalu langkah-langkah kaki di lorong, dan akhirnya jari tangan yang sedang memutar kunci. Jreng! Ternyata isi kotak itu….. (surprise!).

Sama halnya dengan kejadian di bank, sekarang pintu gerbang sebelah cuma bisa dibuka kalau kedua kunci dipakai bersama-sama. Saya tidak bisa membuka gerbang dengan kunci saya saja, menyelinap diam-diam ke halaman rumah sebelah di malam yang gelap tanpa bulan (memangnya mau apa, ya? hahaha). Sebaliknya, Pak Wayan juga tidak bisa membuka pintu sendiri untuk pergi ke halaman rumah sebelah untuk mondar-mandir ambil kayu atau yang lainnya tanpa bilang dulu sama saya. Kalau nanti dia minta saya untuk membuka pintu itu, saya akan melayaninya dengan ramah sambil bertanya, kenapa tidak minta kunci serep pintu gerbang si penyewa rumah sebelah saja? Terserah dia sekarang. Kalau masih tidak mau minta, dia sendiri yang repot. Sekali-sekali akan saya isengi juga. Waktu dia mau minta kunci saya akan pura-pura tidur :D.

Selasa, 22 Desember 2015

Sawah

Sepertinya sawah sudah menjadi trade mark untuk Ubud sewaktu orang membicarakan kota kecil ini. Baik yang komentarnya positif maupun negatif. Seperti, “Mau jalan-jalan ke sawah ah, kalau ke Ubud nanti.” Ini komentar positif. Yang negatif, “Di Ubud sawahnya semakin berkurang ya?”  Hmm, sawah. Orang-orang ribut soal sawah. Kalau sawah berkurang, itu terjadi di mana-mana, bukan di Ubud saja, atau di Bali saja. Tapi kalau saya sedang jalan-jalan di Bali terutama ke pelosok-pelosok, sawah ditemukan di mana-mana dan sangat menyegarkan mata. Buat saya ingatan tentang sawah di Bali ini seperti potongan-potongan. Salah satu potongan ingatan itu misalnya, adalah sawah yang bisa dicapai dengan naik motor setelah keluar dari Ubud ke arah utara. Jalannya menanjak, semakin ke utara semakin tinggi. Setelah melewati Tegalalang tapi  jauh sebelum sampai ke Kintamani, kita belok ke kanan, lalu terus bermotor mengikuti jalan kecil yang berkelok-kelok. Motor bisa diparkir di pinggir sawah di bawah pohon. Meskipun bisa dilewati mobil di jalan ini motor sudah jarang yang melintas. Saya yang selalu bad mood kalau sudah merasa lapar tadi sudah maksa dulu untuk beli nasi bungkus. Teman saya melirik penuh minat melihat saya makan. Saya menawarinya setengah nasi bungkus saya. Biarlah, toh dia yang memboncengi saya, jadi saya juga tidak mengritik karena dia tadi menolak beli nasi bungkus untuk dirinya sendiri. Dia membalas dengan memberi saya apel yang sudah setengah digigitnya. Kami cuci tangan di kali yang jernih dan segar sekali. 
  
“Lihat, primitif sekali ya?” komentar saya sehubungan dengan benda yang berada di ujung bambu yang ditancapkan di pematang sawah. Selintas benda itu terlihat seperti kitiran karena ada bagian yang bisa berputar. Seperti mainan yang menarik sekali. Baru kalau diperhatikan detilnya sadarlah kita bahwa ini di Bali, bukan di tempat lain. Pulau seribu pura, pulau Dewata. Tempat sesembahan ada di mana-mana. Dan sawah adalah bagian penting dalam kehidupan manusia. Meskipun baru pertama kali melihat benda seperti itu ada bagian diri kita yang mengatakan itu bukan mainan. Tradisi ratusan tahun tertanam di sana, sebuah kepercayaan sehubungan dengan roh-roh tak kasat mata. “Itu juga, primitif sekali,” saya menunjuk benda lainnya. Saya berkata tanpa mengejek. Seperti tiba-tiba diliputi suasana magis. “Itu juga primitif,” kata saya sambil menunjuk yang lain. Teman saya tidak sedikit pun peduli. Dia sedang sibuk memotret berbagai obyek. Lalu mengarahkan kamera ke saya dan memencet tombol. “Ini baru primitif,” jawabnya. Disebut primitif saya cuma sebentar kaget. Biarin. Tidak perlu mau disebut modern terus deh, karena modern sering dekat sekali dengan mengeksploitasi, terutama alam. Orang yang disebut primitif justru punya kebijakan sendiri untuk hidup berdampingan dengan alam.

Potongan ingatan yang lain, lagi-lagi saya sedang dibonceng di sepeda motor di jalanan yang tak terlalu lebar. Angin meniup muka dan rambut terbang ke sana ke mari sampai awut-awutan. Waktu itu saya sedang tidak mau pakai helm. Di sebelah kiri dan kanan jalan sawahnya luas sekali dan padinya berwarna kuning hampir masak. Plastik berwarna hitam dan putih yang berasal dari kantong belanjaan dipotong panjang-panjang dan digantung melintang di atas sawah untuk menakut-nakuti burung. Plastik-plastik yang panjangnya beratus-ratus meter itu bergoyang ditiup angin. Seperti hiasan pesta. Jalan berkelok-kelok dan terus menurun. Letak matahari sudah rendah di sebelah barat dan cahayanya kekuningan. Di kejauhan samar-samar warna biru dari laut seperti mengundang minta didatangi. “Berhenti!” perintah saya. Motor diparkir. Di tempat yang tinggi itu, dengan hamparan padi di mana-mana, angin yang berhembus, langit yang luas serta kosong di atas, dan laut di kejauhan, saya jadi teringat sebuah buku lama.
‘Ke laut! Ke laut!’ teriak anak-anak laki-laki gaib dalam salah satu buku kanak-kanakku. Aku telah melupakan segalanya mengenai buku itu kecuali teriakan ini. ‘Ke laut!’, dan dari seberang Samudera Hindia ke tepi Laut Merah, di mana di malam-malam sunyi kau dapat mendengar bebatuan di padang pasir, hangus di siang hari, retak satu per satu, kami kembali ke laut kuno di mana semua tangisan ditenangkan. (Summer in Algiers, oleh Albert Camus).

Saya tidak yakin. Mana yang lebih mengesankan waktu itu, sawahnya atau lautnya? Tapi sawah sudah ada di situ, dekat sekali, sedangkan laut cuma samar-samar dan jauh. Saya punya perasaan bahwa kami tidak bakalan sampai ke laut itu. Benar saja, setelah tanya-tanya ke orang mengenai arah, diputuskan bahwa hari sudah terlalu sore untuk mendekati laut. Saya agak kecewa juga, tapi berusaha menghibur diri. Siapa tahu kalau sudah didatangi ternyata laut itu tidak sebagus dari jauh. Mungkin pasirnya kotor dan airnya butek. Dan saya juga cuma sekali berada di sana, di pebukitan yang bersawah itu. Dua kali mencoba kembali ke tempat yang sama, dua kali juga gagal. Saya tidak bisa menerangkan dengan jelas ke mana arah yang harus dituju yang akhirnya membuat kami nyasar ke jalan bypass yang panas dan gersang. Teman saya heran kenapa saya ingin sekali kembali ke sana. Akhirnya saya pasrah, menghibur diri sendiri dengan kata-kata“yang berkesan itu akan hilang kesannya kalau dijalani dua kali”.

Ada beberapa sawah yang sebenarnya ingin saya datangi lagi. Tapi gara-gara lebih sering pergi-pergi tanpa rencana detil dan tanpa peta, kecil kemungkinannya bisa sampai di tempat yang persis sama. La wong biasa ambil jalan-jalan kecil yang entah ke mana tujuannya, dan kalau kurang menarik balik lagi atau belok ke mana saja, apa tidak bingung kalau harus menemukan lagi satu tempat tertentu. Yang jelas, sawahnya pas dekat tikungan jalan dengan pohon-pohon besar di tepinya dengan akar-akar bergelantungan dari atas. Ada sungai kecil yang airnya dingin dan segar sekali. Enak sekali rendam-rendam kaki di situ. Anehnya, kalau sesekali ada motor melintas, pengendaranya menoleh seperti baru sekali itu lihat orang celupin kaki di kali. Ada yang terus menoleh sampai lehernya mau putus. Di dekat sawahnya ada pura kecil. Karena pintu gerbangnya dikunci teman saya melompati pagar supaya bisa masuk. Mau apa lagi dia pingin masuk, saya tidak mengerti. Di bagian sungai yang lebih dalam dan berair deras dua orang laki-laki sedang memancing entah apa dengan menggunakan botol air minum bekas dan benang. Dua atau tiga orang petani di kejauhan sedang membungkuk mengurus padi. Mereka begitu terserap pada pekerjaannya dan tidak memberi perhatian pada dunia sekitar. Tenang sekali tempat ini.

Sebuah tempat yang terkenal di Bali dengan areal persawahannya adalah Jatiluwih. Tempat ini sudah diresmikan oleh UNESCO sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Untuk sampai ke tempat ini perjalanannya jauh sekali,setidaknya dari Ubud, dan melewati daerah pegunungan. Saya agak kecewa dengan tempat ini. Semuanya ditata, mulai dari pintu gerbang masuk yang menarik uang tiket, tempat-tempat makan (lumayan mahal) yang menghadap sawah, serta tour yang diorganisir. Bahkan pematang sawahnya rapi sekali, rumputnya dipotong pendek dan tidak dibiarkan tumbuh liar. Saya duduk saja di warung sambil makan. Ada tour ke sawah dengan pemandu yang sekalian menerangkan tentang subak. Sebenarnya tour ini menarik juga tapi matahari sedang panas-panasnya, jadi saya batal ikut. Perjalanan menuju tempat ini saya rasa jauh lebih menarik daripada tujuan akhirnya. Biarpun lama dan rasanya tidak sampai-sampai pemandangan di sepanjang perjalanan bagus sekali.

Sebenarnya sawah bukan sesuatu yang terlalu tidak biasa buat saya. Waktu kecil tinggal di desa, jadi biasa saja dengan sawah. Karena sudah biasa jadi tidak begitu menghargai. Baru sesudah tinggal belasan tahun di kota besar, dan sekarang tinggal lagi di (hehehe… ya ampun, sering lupa kalau Ubud itu secara administratif sebenarnya desa juga…) sini, sawah jadi barang yang istimewa. Dan harap-harap cemas tentunya, jangan-jangan tahun depan sawah di depan dan belakang rumah sudah ditimbun untuk dibuat bangunan di atasnya. Mudah-mudahan masih lama sekali ini baru terjadi.

Kamis, 29 Oktober 2015

Jack

Sebelum pindah ke rumah yang saya tempati sekarang ini saya memikirkan satu persoalan dengan serius. Apakah akan mulai memelihara kucing? Kucing saya rasa cocok untuk dipelihara karena tidak terlalu repot mengurusnya dibandingkan dengan kalau memelihara anjing. Ada teman kerja yang mau pulang ke negara asalnya dan dia juga sedang pusing memikirkan nasib dua ekor kucingnya, karena masih belum ada orang yang bersedia mengadopsi. Repotnya, dua ekor kucing ini tidak boleh dipisahkan. “Mereka sejak kecil tumbuh bersama,” katanya menerangkan. Saya belum siap untuk memelihara dua ekor kucing jadi tawarannya tidak saya ambil. Pilihan lainnya adalah keluarga kucing yang tidak punya majikan tetap dan senang bersantai-santai di teras rumah saya. Satu induk kucing dan dua ekor anaknya yang masih kecil. Salah satu anaknya akan saya bawa. Teman saya tidak mendukung. Mending ambil dari penampungan kucing saja, yang sudah divaksin, begitu pendapatnya. Iya sih, tapi kucing-kucing ini meskipun masih liar sudah sering saya kasih makan. Gimana, ya? Saya terus berpikir. “Susah nangkapnya!” katanya mengambil keputusan terakhir. Ah, bilang aja malas. Nangkap kucing apa susahnya sih. Memang saya sudah menyebut-nyebut dialah yang bertanggungjawab akan kesejahteraan kucing itu kalau saya sedang ke luar kota, datang ke rumah tiap hari untuk mengecek. Terang saja dia malas.

Sambil pindahan saya masih menimbang-nimbang apakah harus membawa anak kucing itu. Tidak jadi. Akhirnya keputusan ini malah menguntungkan. Soalnya sekarang saya punya binatang yang sering menemani tapi tidak perlu memberinya makan dan menyediakan semua keperluannya. Enak kan? Namanya Jack. Dia peliharaan Mawar, yang tinggal selang satu rumah dari rumah saya. Dia blasteran antara anjing bali dan anjing ras. Warnanya kuning. Itu kalau dalam keadaan biasa dan kering, tidak ditutupi lumpur sawah yang hitam kecoklatan. Pernah satu kali, sekitar jam sembilan Jack mendengking-dengking di depan pintu pagar minta masuk. Saya datang untuk memeriksa. Dia mengibas-ngibaskan ekornya, senang menyambut saya. Tapi badannya penuh lumpur, seluruhnya sampai ke muka dan ekornya. Baunya gak enak.
“Tunggu, Jack. Tunggu. Tunggu, ya,” kata saya bersemangat.
Saya lari masuk ke rumah. Jack menggoyang-goyang ekor dengan senang, tahu saya pergi untuk mengambil kunci pintu pagar. Saya datang lagi mendekatinya dengan HP di tangan. Ceklik, ceklik, ceklik. Tiga jepretan.
“Sori, Jack. Kamu kotor sekali, hari ini gak boleh masuk.” Lalu pergi meninggalkannya.
Jack kaget sekali, tidak menyangka saya setega itu. Dia menggonggong protes satu kali. Lalu menunggu selama sepuluh menit dengan sabar, siapa tahu saya berubah pikiran. Saya intip dia dari balik gorden. Akhirnya dia pergi juga.


Jack yang penuh lumpur
Jack bisa sekotor itu karena habis mengejar-ngejar bebek di sawah yang baru selesai dipanen. Kalau bebek-bebek yang tadinya ribut berkwekkwekkwek lalu tidak terdengar lagi suaranya, itu artinya mereka sudah kenyang dan sedang beristirahat. Kalau mereka tiba-tiba berteriak-teriak lagi dengan panik sambil berhamburan ke mana-mana, itu artinya Jack sedang mengejar mereka untuk hiburan gratisnya pada waktu bosan. Tapi Jack bukan anjing yang tidak tahu aturan. Dia sopan, sangat sopan malah. Itu yang membuat saya jadi gak tegaan. Di awal-awal dulu saya punya aturan untuk Jack, tidak boleh masuk rumah. Paling jauh sampai di teras saja. Jack tidak membantah, cuma melirik ke atas dengan mata sangat memelas.
 “Beneran, gak boleh…?” katanya sambil matanya melirik dengan rendah hati namun penuh harap.
“Yaa… sudahlah,” saya mengalah.
Jack masuk dengan senang. Tak terasa tangan saya meremas-remas kupingnya dan lipatan di dekat lehernya. Dia senang sekali. Sama senangnya kalau dia dengar saya buka pintu pagar yang selalu berderit kalau dibuka tutup. Dia datang dari rumahnya sendiri untuk menjemput. Ekornya bergoyang-goyang. Matanya yang biasanya sendu dan sering bikin saya tidak tega tanpa tahu untuk alasan apa sekarang berseri-seri. Mulutnya menyeringai. Mau ke mana nih sekarang, sepertinya itu yang ingin dia katakan. Dia tidak pernah mengikuti saya. Dia lebih senang berjalan di depan sambil sesekali menoleh ke belakang melihat ke mana saya pergi dan yang lebih penting lagi, memastikan saya masih ada di belakang dan tidak kabur darinya. Ke rumahnya untuk bertemu Mawar? Tidak. Belok kanan menuju rumah Rima? Tidak. Bagus! Jadi kita pergi jalan-jalan ke sawah kan?

Dia paling senang kalau diajak jalan-jalan ke sawah. Begitu sudah tahu tujuan saya dia berlari kencang duluan di dinding semen saluran irigasi yang sempit sementara saya harus jalan pelan dan hati-hati supaya tidak jatuh. Setelah lama mengendus-endus semak-semak ke sana ke mari Jack lari kencang mendatangi saya lagi. Kalau saya masih mau terus dia bersedia berbalik arah. Pergi ke mana saja tidak masalah buat dia selama punya kesempatan banyak untuk mengendus-endus dan lari-lari. Sedang saya mengagumi kecepatan larinya tanpa sedikitpun terpeleset, eh… saya lihat dia salah ambil ancang-ancang. Kedua kaki belakangnya terperosok ke saluran irigasi. Dia menarik badannya ke atas sambil melirik malu ke arah saya. Hahaha, sekali ini bisa luput juga dia.

Sekali waktu saya sudah siap jalan-jalan dengan Jack, ternyata Si Putih sudah menunggu. Dia adalah anjing betina yang tinggalnya agak jauh dan sekali-sekali pergi main di dekat rumah kami. Saya sering lihat Jack dan Si Putih main bersama-sama dan kejar-kejaran di sawah tanpa padi karena habis dipanen. Kadang-kadang ada beberapa anjing lain yang ikut bergabung tapi perhatian Jack cuma tertumpah pada Si Putih. Anehnya kali ini Jack tidak peduli pada Si Putih. Dia terus mengikuti saya padahal Si Putih terus berusaha mengingatkan Jack kalau dia ada di sana. Sampai acara jalan-jalannya selesai dan kami sudah pulang menuju rumah, Jack tetap mengabaikan Si Putih. Bisa-bisa Si Putih sakit hati dan lain kali tidak akan mau repot-repot lagi berkunjung untuk main bersama. Bukan salah saya lo, karena saya tidak pernah mengekang dan selalu memberinya kesempatan bergaul dengan siapa saja.

Jack sekarang sudah jarang datang dalam keadaan berlumpur. Saya rasa ini bukan karena dia jarang mengejar-ngejar bebek, tapi karena sawahnya tidak berair lagi. Saya perhatikan di beberapa tempat saluran irigasi ditutup dan air dibelokkan ke jurusan lain ke saluran yang mengairi petak-petak sawah yang masih membutuhkan air. Jack ternyata pernah pergi juga ke petak sawah ini. Dia tertangkap basah dalam keadaan berlumpur sedang tiduran di teras saya.
“Pergi, Jack,” kata saya. Jack langsung menurut. Saya masuk ke rumah, ambil minum, dan keluar lagi ke teras. Eh, ternyata Jack sudah ada di sana lagi. Untuk sampai ke teras ada tiga anak tangga yang harus didaki, seperti layaknya rumah-rumah di Bali. Satu kaki depannya yang sebelah kanan sudah berada di anak tangga nomor dua. Dia berhenti dalam adegan slow motion ini seakan tombol pause-nya saya tekan. Matanya melirik pada saya.
 “Boleh?” tanyanya.
“Gak!” kata saya galak dan memberi isyarat mengusir.
Tanpa sakit hati dia meninggalkan rumah saya, juga meninggalkan saya dalam perasaan bersalah. Aduh, Si Jack ini….

Sekarang sudah berhari-hari saya tidak mengajak Jack jalan-jalan. Jalan-jalan ini waktunya memang harus pas, kalau bisa sebelum jam tujuh. Setelah itu matahari terasa panas. Kalau saya bangun siang atau sibuk dengan yang lain saya sering lupa. Jack datangnya juga lebih siang karena saya terlambat membuka pintu pagar. Dengan sabar dia menemani saya. Tingkahnya sopan dan kalem. Dia mendadak bersemangat kalau saya bilang, “Ayo, jalan-jalan!” biarpun matahari sebenarnya agak panas, baik pagi maupun sore. Dan selalu, dia berlari-lari kecil dengan sekali-sekali menoleh ke belakang.
“Masih di situ? Cepet dikit napa.”
Tapi itu diisyaratkannya dengan sabar. Karena Jack selalu sabar. Sesekali dia mendengking tidak jelas, lari menjauh, mendekat, menjauh lagi, mengajak saya lompat-lompat bersamanya. Sepertinya dia tidak sadar saya sudah terlalu tua untuk lompat-lompat. Tapi di sebagian besar kesempatan dia sibuk mengendus semak-semak sendirian sementara saya menikmati cahaya keemasan sinar matahari di atas daun-daun dan batang padi dan langit yang berubah warna menjelang matahari terbenam.