Rabu, 09 Maret 2016

Yang Lebay

Dalam perjalanan dari Ubud ke bandara menggunakan travel, sebagian besar penumpang turun di Sanur untuk menyeberang dengan kapal dan melanjutkan perjalanan mereka ke Nusa Penida. Cuma tinggal saya dan seorang perempuan yang tidak turun. Lalu kami ngobrol. Dia masih muda, orang Belanda yang liburan di Bali dua minggu. Di Ubud sendiri cuma sekitar lima hari. Dia minta pada sopir untuk diturunkan nanti di jalan karena tujuannya yang sebenarnya adalah Uluwatu. Dia bisa melanjutkan dengan taksi. Saya menanyakan kesannya tentang Ubud. Dia menimbang-nimbang lalu bilang, orang-orang ekspat yang ditemuinya semuanya berasal dari satu golongan. “Maksudnya?” tanya saya. Dia menjawab semuanya perempuan dan single. Saya mengerutkan kening. Saya bilang banyak yang berkeluarga, banyak yang laki-laki, yang punya anak, bahkan berusia lanjut. Dia kelihatan ragu dengan penjelasan saya. Dia bilang orang-orang itu dikenalnya dari sebuah tempat yang populer dengan kegiatan yoganya. Ah, pantesan. Para perempuan kalau sudah membentuk klik memang lengket dan kerap bersama-sama. Saya sendiri sering bertanya-tanya apa yang sebenarnya dilakukan oleh orang-orang ini, terutama yang muda, di Ubud. Kenapa mereka membuang waktu, meninggalkan negaranya, tidak kuliah atau berkarir di negaranya sendiri?

“Mereka itu too sweet,” kata kenalan baru saya. Mukanya bimbang, mungkin membayangkan orang-orang yang baru dikenalnya. Saya tidak heran. Mereka memang manis sekali. Bicara tentang persaudaraan, cinta kasih universal, mother earth, berpelukan erat setiap ketemu siapa saja baik laki-laki atau perempuan. Makanan vegan bahkan mentah adalah topik bahasan kegemaran mereka. Anti susu, anti daging, anti pemanfaatan hewan untuk pemenuhan selera manusia. Bagaimana tidak sweet coba, semua itu? Seorang teman saya cukup lama bekerja sebagai pengasuh dua anak dari seorang perempuan Rusia yang masih muda dan cantik (perempuan Rusia memang banyak yang cantik). Dia cerita bahwa kedua anak asuhannya sudah vegetarian sejak kecil dan suka cemilan berupa wortel dan brokoli mentah. Sehat sekali. Ayah mereka datang sekali-sekali saja ke Bali. Ibu muda ini sering bertengkar dengan suaminya mengenai gaya hidup yang berbeda. Dia keluar hampir tiap malam dengan kelompoknya. Mereka berpakaian longgar berimpel-rimpel, memakai gelang, kalung, gelang kaki manik-manik, dan suka menari dan menyanyi di sekeliling api unggun kalau purnama tiba. Mereka mengadakan ritual yang dikarang sendiri, upacara menjelang melahirkan. Pesertanya mengenakan rok atau celana panjang bercorak etnik. Atasannya ketat atau minim. Ada bunga-bunga, dupa, gong kecil, tarian dan nyanyian pujaan.

“Pekerjaannya apa?” tanya saya bersemangat ingin tahu. Teman saya bilang, dia model untuk katalog yang tentu ordernya tidak didapat tiap hari. Sepertinya perempuan ini menganggap suaminya kurang spiritualis dan terlalu keduniawian. Suaminya membalas dengan mengurangi jatah bulanan, sehingga ibu dan anak harus pindah ke rumah yang tidak ada kolam renangnya lagi. Bagaimanapun perempuan Rusia ini tidak bisa seenaknya sendiri karena sudah punya anak. Akhirnya mereka pindah ke Rusia, mungkin demi kebaikan anak-anaknya juga. Kalau yang single memang suka sembarangan dan bukan-bukan. Berombongan pergi ke danau di bawah sebuah air terjun, berenang-renang di sana, menyatakan cintanya pada Bali dan tidak ingin meninggalkan pulau ini selamanya, lalu… membuang paspornya ke danau! Untung ada seorang yang waras dalam rombongan itu yang cepat-cepat terjun menyelamatkan paspor itu.

Pernah saya diajak ke sebuah warung vegan. Saya pilih nasi campur yang seharusnya asli Bali tapi rasanya tidak bali. Ada rempah yang tidak biasa ada, baik di masakan padang, jawa, sunda, atau bali. Saya menyebutnya rempah rasa yoga, meskipun mungkin lebih tepat kalau disebut rasa india. Menu bali rasa india ini dipandang cocok untuk restoran yang sering dikunjungi para vegan yang berminat pada yoga, meditasi, dan hidup penuh cinta. Apa hubungannya pikir saja sendiri. Menunggu hidangan datang di tempat ini lama sekali. Saya jadi sempat jelalatan melihati orang-orang. Ada cewek bule yang manis tapi sayangnya kurang merawat diri. Rambut panjangnya seperti sudah sebulan tidak dicuci. Dia nyeker dan mengenakan rok sifon berbunga-bunga yang sobek-sobek dan diikat dengan tali rombeng di pinggangnya karena rok ini kepanjangan, jadi harus ditarik ke atas supaya tidak keserimpet waktu jalan. Temannya yang laki-laki langsung duduk di bantal untuk bermeditasi dan sekali-sekali mengeluarkan suara keras seperti orang sedang ngedan. Rambut rastanya yang panjang digulung di atas kepala. Lalu terdengar sekilas pembicaraan mereka. “Kamu harus dengar tentang vision yang saya dapatkan tadi malam,” kata yang seorang.

Saya malas mendengar kelanjutannya lalu pindah memperhatikan perempuan lain yang duduk sendirian di atas bantal. Dia hampir menghabiskan semangkuk besar salad. Setiap gerakan menyendok sayur dan mengunyah dilakukannya secara meditatif. Pandangannya lurus ke depan. Lalu dia mengeluarkan pil-pil dari botol, ampun, banyak amat, menaruhnya dalam kepalan tangan dan sepertinya meminta semesta untuk memberkati pil-pil itu dengan mata tertutup. Kemudian ditelan dengan bantuan air. Perempuan ini jauh lebih enak dilihat dari yang pertama tadi. Dia bersih dan mengenakan pakaian yoga yang ketat dan mahal. Saya jadi berpikir untuk beli celana ketat seperti itu juga, yang punya bolong-bolong artistik di sisi luarnya. Saya juga berpikir perempuan yang terakhir ini mungkin dari golongan yang berbeda dengan yang pertama. Dia serius, rajin latihan yoga tiap hari, dan disiplin dalam melatih core-nya. Mungkin terlalu serius, melihat gerak-geriknya yang teratur dengan seulas senyum robot. Saya tidak bisa membayangkannya bersikap apa adanya, ketawa ngakak atau berkata konyol sekali-sekali. Jadi saya memutuskan untuk batal beli celana yoga. Alasannya karena melatih core itu berat dan susah. Lagi pula pakaian yoga sering bolong di mana-mana, sudah itu yang bermerek harganya mahal pula.

Sesudah lama tidak ketemu seorang teman kami janjian untuk ketemu lagi. Sebenarnya dia bukan benar-benar teman, cuma kenalan yang biasanya kebetulan ketemu dalam kelompok bersama-sama orang lain. Setahu saya dari pembicaran kami waktu itu dia cukup suka mengumpulkan uang dari beberapa usaha yang dipunyainya. Tapi sekarang, semakin lama ngobrol dengannya saya jadi semakin kehilangan arah. Dia ternyata serius beryoga dan bermeditasi. Kata-kata indah berhamburan dari mulutnya. Dia terharu sekali karena teman-teman non-vegetariannya datang memasakkan makanan di rumahnya dengan menu vegetarian. Dia mengajak saya untuk turut berpartisipasi dalam mengembalikan daya dukung bumi terhadap umat manusia yang jumlahnya semakin membengkak terus. Dia cerita baru saja menasihati anaknya untuk mengikuti kata hatinya, kerja selama dua tahun saja, kemudian berhenti karena pekerjaan itu akan sudah dikuasai dan tidak lagi memperkaya batin. Dia menganjurkan saya untuk mencari kebenaran diri saya sendiri yang letaknya jauh bersemayam dalam diri. Dia bilang bahwa uang bukan yang utama dalam hidup, bahkan bisa sangat merusak.

Tidak ada yang salah dalam semua yang dikatakannya, tapi tetap saja ada sesuatu yang tidak pas dan membuat saya gelisah. Saya cepat-cepat konsentrasi mendengarkannya lagi, karena dia sudah merasa kalau pikiran saya sedang melayang ke mana-mana. Dia bertanya sesuatu, saya menjawab, dan langsung tahu dia tidak tertarik mendengar jawaban saya. Kalimat saya dipotongnya, dia bilang mengerti maksud saya, bahkan memperjelas panjang lebar padahal bukan itu maksud saya. Sudah, ah. Saya malas sekarang. Cuma berpikir bagaimana menyudahi pembicaraan tanpa dianggap kurang sopan. Saya ubah topik pembicaraan tanpa kentara. Diceritakannya apa saja yang dilakukannya untuk mendapatkan uang tanpa susah payah. Otak bisnisnya langsung berputar dan sinar matanya berubah cerdik. Katanya uang tidak penting? Gampang memang bilang begitu, karena dia punya vila luas dan indah dengan kolam renang, anjing ras sebanyak tujuh ekor, mobil mahal, dan Harley Davidson.


“Kamu jadi ke Sumatra?” tanya saya. Dia waktu itu omong banyak, mau menjelajah Sumatra sampai pelosok dengan motornya, sendiri saja dengan semangat berpetualang. “Tidak,” jawabnya pendek. Lalu dia tahu saya yang lebih penakut, lebih manja dan lebih miskin dari dia sudah ke Pulau Derawan dan kepulauan Kei di Maluku sejak terakhir kami ketemu walaupun tanpa petulangan ala Indiana Jones. Pokoknya pergi. Dia kelihatan iri. Akhirnya saya berhasil pamitan. Kami berpisah dan dia pergi ke bar untuk minum-minum di sana, mungkin sampai bar itu tutup. 

Selasa, 23 Februari 2016

Hidup Harmonis dan Hepi Hepi

[Kenangan Pelangi atau sebuah dongeng]
Adalah suatu tempat di mana anak-anak berkumpul di pagi hari. Mereka datang dari mana-mana. Bermacam-macam rupa dan kelakuannya. Ada yang menangis waktu ditinggal pergi ibunya. Hmm, memang masih kecil sih. Ada yang sudah abege.  Ada yang galak sekali. Ada yang manis dan cantik. Ada yang berambut keriting atau lurus. Ada yang rambutnya pirang atau hitam. Ada yang pendiam, dan ada juga yang berisik. Anak-anak ini harus belajar dengan disiplin. Tapi mereka juga senang bermain dan berolah raga. Mereka makan siang bersama-sama di sebuah bangunan joglo. Ributnya mereka makan! Orang-orang dewasa yang adalah guru-guru mereka menjaga agar suasana agak tertib. Setelah makan, mereka berhamburan dan berpencar di taman.

Taman yang luas tentu saja harus ada orang-orang yang mengurusnya. Orang-orang ini punya tugas dan kedudukan yang berbeda-beda. Yang paling penting tentunya yang memiliki kedudukan paling tinggi. Dialah Pak Khar, ketua sekaligus perencana taman itu. Kalau ada orang yang datang enam bulan yang lalu, tidak pernah datang-datang lagi ke sana dan baru hari ini datang lagi, pasti akan berseru kagum, “Bagus sekali! Beda dengan keadaan enam bulan yang lalu.” Satu hal yang menarik di taman itu adalah jalan setapaknya. Begitu banyak jalan setapak di sana. Pak Khar yang memerintah orang untuk membuat semua jalan setapak itu. Jalan setapak itu ada yang datar, ada yang menurun atau sedikit menaik, dan ada yang berundak-undak membentuk tangga. Ada yang lurus, ada yang sedikit melengkung dan ada yang meliuk-liuk. Ada yang sempit dan ada yang lebar. Ada yang pendek dan ada yang panjang. Ada yang belok ke kiri, ada yang belok ke kanan, ada yang menuju ke atas dan menuju ke bawah. Bahkan ada yang tidak menuju ke mana-mana. Pak Khar suka sekali pada jalan setapak. Kalau ada anak nakal seenaknya saja menerobos semak atau menginjak rumput tanpa melalui jalan setapak, minggu berikutnya di tempatnya menerobos itu akan dibangun sebuah jalan setapak baru. Tapi Pak Khar harus berhati-hati untuk tidak terus membuat dan membuat lagi jalan setapak. Kalau tidak, taman itu akan berubah menjadi simpang siur jalan setapak yang saling memotong ruwet sekali.

Setelah Pak Khar ada lagi yang namanya Pak Gepe. Bisa dibilang dia orang paling penting kedua di taman itu. Karena Pak Khar sering sibuk mengenai hal-hal lain di tempat-tempat lain, Pak Gepe bebas bersikap seperti bos yang sesungguhnya. Pak Khar tidak keberatan karena dia percaya penuh pada Pak Gepe. Pak Gepe senang mengumpulkan semua pekerja dan memberi perintah-perintah. Dia berdiri tegak dengan tangan disatukan di belakang punggung. Matanya menyorot tajam dan kata-katanya tegas. “Kalian harus fokus,” katanya. “Kita bagian penting dari semua kebersamaan yang perlu ditanggapi dengan sepenuh hati. Keberhasilan kita menjadi alat penting dan penyangga dari keberlangsungan keindahan taman ini yang berkelanjutan secara abadi.” Di depannya empat orang pekerja bergerak-gerak dengan gelisah. Bertumpu di kaki kanan, lalu di kaki kiri, dan kembali lagi ke kaki kanan. Tidak seorangpun mengerti apa maunya Pak Gepe. “Baik. Sekarang kalian mulai bekerja dengan mengedepankan beragam kepentingan di mana setiap orang harus fokus untuk menjadikan pekerjaan ini suatu hal yang menggembirakan bagi setiap orang yang memandangnya.” Pak Gepe berbalik kanan dengan tegap seperti yang diajarkan pada anak-anak Pramuka. Pertemuan bubar. Keempat pekerja juga berbalik tapi tak menentu. Pilah bertabrakan dengan Pata. Keta berbisik-bisik pada Kudu. “Jadi kita harus mengerjakan apa sekarang?” Karena Kudu tidak bisa menjawab maka Pata yang bicara. “Kita harus fokus,” katanya. Pilah bergumam tidak acuh, “Betul. Fokus itu penting.” “Benar. Fokus,” Kudu setuju. Akhirnya Keta mengerti. “Iya, ya. Kok bisa lupa? Fokus, itu dia!”

Maka mereka semua menjadi fokus. Kudu fokus menggali tanah untuk ditanami pohon kamboja. Pilah fokus menyiram rumput. Pata fokus memperbaiki pagar yang rubuh. Keta fokus mencampur tanah dengan pupuk. Karena, meskipun mereka tidak becus baris-berbaris dan tidak bisa berdiri tegak ketika diberi wejangan, mereka tahu sekali pekerjaan apa yang harus dilakukan. Taman ini buktinya. Semakin hari semakin enak dipandang. Dengan Pak Khar yang punya berbagai ide brilyan, Pak Gepe yang menjaga agar semuanya fokus, dan empat serangkai yang sibuk bergerak ke sana ke mari walaupun sering diam-diam pergi menyelinap untuk minum kopi, apapun bisa diwujudkan di taman itu. Prestasi mereka yang cukup membanggakan adalah ketika berhasil memindahkan pohon yang sudah tumbuh besar. Karena setiap orang maklum, menanam pohon dari kecil dan menunggunya jadi besar itu sangat membosankan. Ada sebatang pohon yang bagus sekali bentuknya tapi sayang sekali tempatnya tumbuh kurang pas. Pohon ini harus dipindahkan. Mereka semua beramai-ramai mengerjakannya. Bahkan Pak Khar meninggalkan tugasnya yang lebih penting untuk ikut mengerahkan tenaga. Mereka senang ketika pohon ini tetap hidup dan tumbuh segar. Mereka jadi lebih percaya diri dan semakin sering memindahkan pohon. Jangan heran kalau mata seseorang silau ketika memandang keluar dari jendela kantor dan mengeluh, “kalau saja pohon itu berdiri dua meter lebih ke kiri, pasti mataku akan terlindungi,” tiba-tiba saja pohon itu sudah berpindah tempat ke posisi yang dia inginkan besok paginya. Daun-daunnya menahan sinar matahari untuk menerobos langsung.

Ah, siapa itu yang baru saja mengeluh matanya silau? Kita maklum, dia harus duduk di tempat yang sama dari pagi sampai sore. Jadi kalau di siang yang sangat terik matanya silau dia tidak bisa seenaknya pindah tempat. Maka pasukan perkasa yang sanggup memindahkan pohon dalam sekejap adalah pahlawan yang sebenar-benarnya pahlawan. Dia bekerja dalam kantor, berbicara di telpon, memberi keterangan macam-macam untuk orang yang memerlukan. Tak lupa memuji tempatnya bekerja supaya semakin banyak anak-anak kecil yang disekolahkan di sana. Dia juga mengerjakan pekerjaan yang melibatkan formulir-formulir dan file-file. Dia keki kalau ada petugas pemerintahan datang ke sana, karena sering mengurusi hal-hal tidak penting seperti baju yang dipakainya. Kelemahannya adalah sering melewatkan waktu makan dan dua jam setelah jam makan lewat matanya jadi berkunang-kunang. “Aku lapaaar!” serunya.

Akuntan yang duduk di pojokan kantor mengangkat muka mendengar seruan itu namun terus menunduk lagi. “Salah sendiri, ah,” gumamnya tak peduli. Dia sedang sibuk dengan angka-angka. Dijumlahkannya deretan angka-angka itu. Kadang dijumlahkan ke bawah, kadang ke samping, kadang meloncat-loncat. Dia puas ketika penjumlahan ke bawah sama hasilnya dengan penjumlahan ke samping dan menghasilkan angka yang menurutnya sangat bagus serta mengesankan. Selesai sudah satu pekerjaan. Meskipun tadi ada anak rewel yang mencari perhatian di kantor dengan mengeluh keras-keras ibunya lupa menaruh makanan kesukaannya di kotak bekal. Dia ingin ibunya ditelpon saat itu juga, tidak peduli orang sedang sibuk. Akuntan memang kurang punya kesabaran untuk hal tetek-bengek. Mungkin itu kelemahannya. Ada yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Pekerjaan yang diserahkannya kepada Administrator beberapa hari yang lalu tidak selesai-selesai atau dijawab lupa kalau ditanya yang lainnya.

 “Semua orang harus harmonis dan didengar. Semua orang harus bahagia” kata Administrator. Dia juga duduk di pojokan tapi pojok yang berbeda.Maka dia berkeliling untuk mendengarkan keinginan orang yang macam-macam dan saling bertentangan. Pekerjaannya besok-besok, yang penting harmonis. Dia senang menyelenggarakan acara-acara, misalnya acara suntik masal. Dia cerah sekali ketika para penyuntik datang jam sembilan pagi. Dibawanya mereka ke ruang khusus. Setelah itu satu orang dijemputnya di kantin, diantar ke ruang suntik dengan menyeberangi taman luas. Selesai dengan satu orang, diseberanginya lagi taman, lalu pergi menjemput orang di lantai dua. Begitu seterusnya. Ketika Akuntan heran kenapa sudah jam dua acara suntik ini belum selesai, dia datang dan melihat enam orang tukang suntik beserta asisten tidak ada kerjaan dan Administrator sedang bercanda ria. Orang yang mau disuntik belum ada. Akuntannya gemes. Hidup Akuntan terlalu keras sih, dulu dia biasa kerja yang pakai deadline tanpa tawar-tawaran. Di sini pekerjaan administrasi yang setengah hari biasa diulur jadi tiga hari bahkan lebih. Yang penting hepiiiii.

Kamis, 14 Januari 2016

Menari Lagi

Musik berhenti dan para pemain band bubar untuk istirahat selama setengah jam. Kami bertepuk tangan dan kembali ke meja kami. Ngobrol dan bercanda sambil menghabiskan minuman. Memang enak kalau habis nari gini, hati ringan dan gampang ketawa. Seorang pramusaji datang lalu meletakkan satu botol anggur merah dan gelas lima buah. Diisinya gelas satu per satu. Lho? Kami kan tidak pesan anggur?
“Dari Bapak,” katanya.
Yang dimaksudnya dengan ‘Bapak’ adalah pemilik dari restoran dan bar itu. Di sini ada live music-nya setiap malam. Biasanya kami ke sana di malam minggu. Kami melambai dari jauh untuk mengucapkan terima kasih untuk anggurnya. Setelah itu masih beberapa kali kami mendapat hadiah yang sama kalau sedang ke sana. Malah pernah dikasih dua botol tapi kami tolak. Kalau nanti ada yang mabuk padahal harus naik motor pulangnya, bagaimana? Biasanya Mawar dan Miren cuma minum satu gelas anggur, sedangkan Rima bir. Saya senangnya jus cranberry, jahe panas, atau teh. Eh? Di bar minta teh panas? Dulu-dulu saya langsung merasakan efek mabuk meskipun cuma minum seperempat gelas anggur. Sekarang mendingan, mabuknya hilang, tapi ngantuknya jadi tidak tertahan. Mending tidak minum minuman beralkohol sekalian saja. Pernah dalam acara makan malam resmi saya terus berdoa dan melirik jam dengan putus asa. Ini acara makan sudah dua jam kok nggak selesai-selesai, sih. Ngantuuuuk. Hoahmmm! Tapi tetap saja anggur putihnya saya habiskan. Untung saya ingat untuk menutup mulut dengan tangan. Padahal saya kalau nguap biasanya baru puas kalau membuka mulut lebar-lebar yang bikin orang takjub. Mana mungkin muka dan kepala sekecil itu, yang kalau pinjam helm orang talinya harus disetel sependek-pendeknya, bisa punya bukaan mulut yang mengalahkan ukuran normal?

Di mana ada live music sedang berlangsung kami bisa membuat suasananya jadi lebih meriah dengan mulai menari pertama. Jenis musiknya bisa apa saja, asal enak dipakai nari. Yang lain-lainnya baru mau setelah melihat contoh benar yang kami lakukan, dan iri melihat kegembiraan yang kami rasakan. Pengunjung senang, pemain band senang dengan banyaknya yang menari. Mereka semakin bersemangat memainkan musik. Kadang musik yang berirama latin lebih dipercepat dan ini bikin penari salsa pemula jadi kalang kabut (udah, lupakan aturan salsa, bergerak semau dan sebebasnya sajaah…). Penyanyi band datang setelah acara musik selesai untuk bersalaman sekalian ngobrol sebentar. Pemilik restoran pasti senang juga, kalau tidak mana ada kasih-kasih wine gratis? Suasana meriah bisa membuat orang ingin datang lagi, jadi yang suka nari biasanya disambut dengan baik meskipun mereka cuma minum di sana, hahaha. Sepertinya dua tempat yang biasa kami datangi karena live musicnya ini punya pengunjung yang berganti-ganti terus. Mungkin mereka turis yang tidak sempat untuk membentuk kelompoknya sendiri. Akibatnya, ya itu tadi. Saling tunggu meskipun kaki sudah gatal bergerak. Kami juga begitu di tempat yang baru.

Acara tahun baru kami kemarin juga dirancang dengan ada acara narinya. Pertama makan dulu di restoran. Setelah itu pulang untuk menyalakan kembang api. Ini terutama untuk menyenangkan Jazz, anaknya Mawar yang berumur 9 tahun. Bunyi kembang api yang keras membuat Jack nyungsep ketakutan di bawah kursi. Seluruh badannya gemetar hebat. Harap dimaklum ya Jack, ini acara satu tahun sekali. Setelah itu baru kami keluar lagi untuk mendengarkan musik tanpa Jazz karena dia harus tidur. Tempat nongkrong yang didatangi ini suasananya sedikit dingin. Harus saya akui, pendapat ini subjektif sekali. Sekarang, kalau dengar musik di restoran atau yang lainnya tanpa ada acaranya narinya, saya anggap suasananya kurang asyik. Padahal ya salah sendiri, mau nari tidak dilarang kok. Tapi entah kenapa kami waktu itu tidak ada yang berminat untuk keluar dari kursi. Akhirnya sekitar jam sebelas  kami pindah tempat, ke tempat yang sudah biasa didatangi saja. Tempatnya penuh! Tapi manajernya santai saja, dia yakin bisa menyelipkan kami di antara para pengunjung. Kami dicarikan tempat supaya bisa bergabung dengan Miren dan Brett yang sudah dari tadi ada di sana dan sedang duduk dengan dua orang lagi. Maka kami berdelapan duduk berdesakan. Letak mejanya ideal sekali, di depan, jadi tidak ada yang merasa keberatan. Lagian ini malam tahun baru, masa mau sepi?

“Aku dari tadi belum dance,” kata Miren.
Kami bertukar pandang mengirim isyarat dan langsung saling mengerti. Saya dengan Miren memang klik kalau urusan nari. Kalau yang satu malas dance, dan yang satu juga malas dance, begitu keduanya digabung hasilnya jadi  semangat dance, hahaha. Kami ngobrol sambil minum sampai si manajer memutuskan suasana harus dibuat lebih hangat. Dia memberi isyarat ke arah meja kami menyuruh kami maju untuk menari. Gak perlu di suruh dua kali, langsung deh kami ngedance. Begitu juga yang lain. Lama-lama yang tadi masih mikir sekarang tidak ragu lagi. Suasana semakin lama semakin meriah. Setelah menghitung mundur untuk sampai ke jam duabelas malam, acara musik masih diteruskan. Kan tahun baru. Biasanya di Ubud musik di kafe dan bar harus berhenti paling lambat jam duabelas atau malah jam sebelas.

Saya bersyukur punya teman-teman yang suka nari meskipun agak disayangkan mereka tidak begitu suka nari salsa. Untunglah Lina sekarang sudah mau disuruh belajar salsa. Saya sedikit berkorban dengan mengulang lagi dari dasar demi menemaninya belajar di kelas. Kursus salsa privat juga masih saya teruskan meskipun tidak rutin lagi. Ternyata cara orang ngajar itu beda-beda. Made, guru privat saya yang pertama lebih mengutamakan sebanyak mungkin menari. Sejam belajar dengan dia bisa menari sampai delapan lagu. Belajar dengan dia fun! Apalagi dia punya kombinasi gerakan macam-macam. Kalau Agung lain lagi. Semua gerakan saya dikoreksi dan kebiasaan yang salah dipaksanya untuk dihilangkan. Muternya salah. Tangannya salah. Kakinya salah. Bahu mesti begini. Kaki mesti jinjit. Ulang lagi! Sampai bisa! Sejam dengan dia keringat menetes-netes. Dia duduk merokok sambil mengawasi sementara saya harus melangkah dengan gerakan dasar banget selama lima menit untuk mendapatkan 'hitungan 1'nya. Dapat apa tidak saya tidak tahu karena dia cuma ngeliatin tanpa komentar hehehe.Jadi ajarannya sebenarnya banyak manfaatnya.

Saya sadar tidak mungkin jadi penari salsa yang sangat baik. Disuruh rajin mendengarkan musik untuk melatih kepekaan saja malas. Latihan muter sendiri  cuma bertahan dua hari. Sekarang pun, kalau sudah berdiri berhadapan mau mulai menari latin, saya masih nanya sama partner narinya, “Ini salsa apa bachata?” karena belum bisa membedakan musiknya dari awal. Untung banget jadi cewek, semua urusan koreografi gak perlu mikir. Tapi ada yang bilang jadi cewek itu susah karena tidak tahu gerakan selanjutnya bakal gimana. Saya suka iri kalau melihat orang yang jago menari salsa. Tapi banyak penari salsa yang hanya mau atau bisa menari latin. Begitu selesai menari di satu tempat kadang-kadang kami pindah ke tempat lain. Di tempat yang kedua ini ketemu lagi dengan mereka. Para penari latin ini banyak yang diam saja karena musiknya bukan latin. Satu dua menari salsa meskipun musiknya rock. Oke deh. Boleh-boleh saja kok nari salsa dengan iringan musik rock.

Satu-satunya yang tidak suka saya menari adalah Jack. Kalau saya nyetel musik lalu goyang-goyang di depannya, pertama dia menonton dengan heran, terus mengalihkan mata, malu melihat kelakuan saya. Lama-lama dia tidak tahan dan terus pergi.
“Heh, ngapain kabur?!? Sini!” perintah saya, merasa dilecehkan.

Jack tidak mau dan terus ngeloyor pergi. Saya tersinggung nih. Tapi waktu dipikir lagi, ini adalah cara praktis mengusir Jack dari dalam rumah. Dia sudah sering nakal sekarang, tidak mau menurut kalau disuruh keluar. Maka saya praktikkan lagi hari berikutnya, goyang-goyang di depannya diiringi musik. Dia keheranan lalu melengos. Berhasil, pikir saya. Terus dia berdiri dan berjalan ke…. bawah sofa! Matanya merem serapat-rapatnya dan pura-pura budeg. Ternyata Jack lebih pintar dari saya. Kalau sudah di bawah sofa semakin susah saya mendorongnya dan semakin cuek dia membantah.

Selasa, 29 Desember 2015

Rumah

Jen jengkel sekali dengan pemilik rumah kontrakannya yang sering masuk tanpa ijin dan tahu-tahu sudah nongol di depannya. Dia ngomel-ngomel.“Kamu untung saya tidak sedang telanjang!”Lah, kok ya Mbak Nurul juga lagi jengkel. Katanya,“Meskipun dia masuk ke halaman untuk memperbaiki pagar, atau membereskan kaleng-kaleng bekas, rumah itu sudah saya kontrak, jadi dia harus minta ijin untuk masuk ke rumah saya.” Suaranya berapi-api.Saya sebenarnya mau menambahi juga dengan cerita pengalaman pribadi, tapi karena tidak bisa mengimbangi kejengkelan mereka, malahan merasa senang dengan situasi yang ada, lebih baik diam saja.

Ceritanya, beberapa benda milik saya berpindah tempat. Karena Mawar baru cerita barang-barang miliknya yang tidak berharga (untuk pencuri) sudah menghilang, saya mengira ada orang yang iseng sama saya. Saya segan untuk bertanya pada induk semang yang tinggal di lantai bawah. Iya kalau benar dia, kalau tidak? Bisa tersinggung nanti. Tapi untunglah waktu ngobrol santai akhirnya dia sendiri yang bilang kalau istrinya masuk ke rumah saya, sebenarnya modelnya lebih mirip apartemen, untuk bersih-bersih. “Gak apa-apa kan?” tanyanya. Heran saya kenapa dia bisa bilang itu tidak apa-apa. Tapi saya juga menimbang-nimbang cepat, wah lumayan, ada yang ngebersihin rumah gratis. Maka saya mengambil keputusan,
“Iya, gak apa-apa, sering-sering aja!” hehehe.
Makanya saya tidak menambahi cerita Jane dan Mbak Nurul walaupun saya sebenarnya pendukung privacy nomor satu, dan membenarkan Jen dan Mbak Nurul sepenuhnya.

Hampir setahun saya menikmati rumah dibersihkan gratis, tanaman disiramkan gratis, sampah dibuangkan gratis. Baru bulan-bulan terakhir saja servis itu berhenti karena istri Mas Karmin sudah kerja. Rumah Mas Karmin yang saya sewa itu adalah tempat tinggal saya yang ketiga di Ubud. Pertama saya kos, kedua bertetangga dengan Intan (kangen sekali dengannya), ketiga di tempatnya Mas Karmin. Saya sekarang sudah pindah lagi ke nomor empat supaya lebih sepi. Di bulan-bulan terakhir tempat Mas Karmin sudah kurang nyaman. Suara orang membangun tidak berhenti dari siang sampai malam. Satu selesai, satu lagi dibangun. Di tempat nomor empat inilah rasa kepemilikan saya paling besar, hehehe. Di tempat Mas Karmin saya sudah kompromi, saya biarkan saja Andre, keponakannya Mas Karmin, naik ke tempat saya. Apalagi dia juga tahu diri, selalu memberi tahu sebelum muncul.
“Mbak, mau ambil sampah!” serunya dari jauh.
Meskipun jendela terbuka lebar dan gorden terpentang, saya tetap baring-baring di tempat tidur dan cuma berpose lebih sopan saja. Sesudah itu dia cepat turun lagi. Dia tidak pernah lupa bilang permisi, meskipun kadang-kadang saya sendiri yang minta tolong dipasangkan bola lampu atau keran dispenser. Kadang-kadang ada yang keluarga Mas Karmin lakukan tanpa bilang dulu. Sebenarnya lebih baik ngomong dulu sama saya meskipun semuanya itu untuk maksud baik. Ah, sudahlah, demi yang gratis-gratis tadi saya juga tidak banyak protes.

Tempat tinggal yang nomor empat ini saya sukai terutama karena ada sawah di depan dan di belakangnya. Tapi halamannya benar-benar dirancang dengan cara yang sangat aneh. Pintu gerbangnya ada tiga dan semuanya aneh. Pintu gerbang utamanya bisa dimasuki dari jalan kecil  --namanya juga di pinggir sawah--  tapi begitu masuk jangan harap bisa langsung melihat pintu rumah karena kamu masuknya dari belakang!  Depan jadi belakang dan belakang jadi depan.  Kalau dari pintu gerbang utama ini langsung belok kiri menyusuri gang, ujungnya adalah pintu gerbang nomor dua yang tembus ke …rumah tetangga! Maksudnya apa coba?  Kalau tadi tidak langsung belok kiri melainkan lurus tentu saja akan ketemu halaman, teras dan pintu rumah. Halaman ini sudut sebelah kirinya tidak tertutup tembok atau pagar melainkan ada jalan tembusnya. Ke mana? Lorong ini terus melewati rumah tetangga dan di ujungnya barulah kita ketemu gerbang nomor tiga yang juga tembus ke rumah lain. Rumahnya Mawar. Jadi rumah saya bisa dimasuki dari jalan, dari rumah sebelah, dan dari rumah Mawar. Ini maksudnya apa to?

Memang pemilik dari tiga rumah itu adalah keluarga yang sama, keluarga Pak Wayan. Malah sekarang ada rumah ke empat di sebelah kiri saya yang ditempati oleh Miren. Rumah saya dijadikan pusat, jadi ada bangunan sanggah (tempat sembahyang serta menaruh banten)-nya di pojok halaman. Pak Wayan mengatur supaya dia bisa masuk dari semua pintu gerbang—dia punya kuncinya. Saya tidak keberatan dia pegang kunci gerbang utama supaya bisa menaruh banten di sanggah setiap saat diperlukan. Saya sudah dua kali mengganti kunci gembok gerbang ini karena macet, dan setiap kali saya beri dia kunci serepnya. Pintu gerbang yang tembus ke rumah Mawar cuma dibukanya kalau ada upacara keagamaan yang penting saja supaya orang-orang bisa keluar masuk ke sanggah dengan bebas. Saya sudah berdamai dengan kondisi ini. Tapi pintu gerbang nomor dua? Pintu ini sering dibuka karena Pak Wayan menyimpan kayu-kayu di rumah sebelah. Dengan kata-kata sopan saya protes waktu banyak tukang keluar masuk mengambil kayu. Pak Wayan bilang dia tidak punya kunci serep pintu utama rumah sebelah. Lah? Ya minta dong. Gerbang saya saja, tiga-tiganya dia punya kuncinya. Tapi Pak Wayan tidak begitu mengerti apa yang saya minta, atau dia tidak mengerti kenapa saya minta. Karena dia orangnya ramah sekali, saya bersabar saja dan berusaha melihat kebaikan-kebaikannya. Apa ya? Kebanyakan dia janji-janji saja. Mau membuat garasi bersama, cuma janji. Mau mengganti kulkas dan kipas besar yang harusnya adalah properti rumah, cuma janji. Yang penting ramah dan sopan. Protes ditampung, buka tutup gerbang jalan terus.

Pagi ini pas selesai mandi saya dengar suara-suara orang keluar masuk dari pintu gerbang nomor dua. Cepat-cepat saya melilitkan handuk di badan, menyambar kardigan dan memakainya untuk menutupi bahu lalu keluar. Saya lihat seorang laki-laki muda sedang mengeluarkan tangga besi yang disimpan di lorong antara pagar dan tembok rumah. Saya memberinya pandangan bertanya tanpa kata-kata,
Well, Anda mau menerangkan kenapa Anda masuk tanpa ijin?”
Eh, dia membalas dengan pandangan hampa yang sama,
Well, Anda mau menerangkan kenapa buru-buru keluar dengan pakaian yang tidak pantas, lagian ini kan tangganya Pak Wayan, bukan tangga Anda.”
Brengsek.
Begitu dia pergi dengan pesan akan kembali lagi untuk mengembalikan tangga, saya membongkar kotak sepatu yang isinya macam-macam benda yang disimpan karena prinsip siapa tahu perlu. Aha! Ini yang saya butuhkan. Gembok baru! Saya pasang gembok ini di pintu gerbang nomor dua. Beres deh.

Saya puas sekali dengan yang sudah saya lakukan. Dua gembok untuk satu pintu, dengan kunci masing-masing dipegang oleh orang yang berbeda. Saya rasa kotak penyimpanan di bank yang bisa disewa orang menggunakan prinsip yang sama. Baik pihak bank maupun pihak penyewa punya kunci. Di film yang pernah saya tonton, suasana ruang penyimpanan ini dibuat misterius sekali. Ketika kunci diberikan kepada pemilik kotak penyimpanan, kamera mengambil gambar close up muka pegawai bank yang serius, muka penyewa kotak, lalu langkah-langkah kaki di lorong, dan akhirnya jari tangan yang sedang memutar kunci. Jreng! Ternyata isi kotak itu….. (surprise!).

Sama halnya dengan kejadian di bank, sekarang pintu gerbang sebelah cuma bisa dibuka kalau kedua kunci dipakai bersama-sama. Saya tidak bisa membuka gerbang dengan kunci saya saja, menyelinap diam-diam ke halaman rumah sebelah di malam yang gelap tanpa bulan (memangnya mau apa, ya? hahaha). Sebaliknya, Pak Wayan juga tidak bisa membuka pintu sendiri untuk pergi ke halaman rumah sebelah untuk mondar-mandir ambil kayu atau yang lainnya tanpa bilang dulu sama saya. Kalau nanti dia minta saya untuk membuka pintu itu, saya akan melayaninya dengan ramah sambil bertanya, kenapa tidak minta kunci serep pintu gerbang si penyewa rumah sebelah saja? Terserah dia sekarang. Kalau masih tidak mau minta, dia sendiri yang repot. Sekali-sekali akan saya isengi juga. Waktu dia mau minta kunci saya akan pura-pura tidur :D.