Salah satu pura yang terkenal di Bali adalah Pura Tirta
Empul yang berada di Tampak Siring. Saya mengunjungi tempat ini hanya sebagai
turis, jadi hanya melihat-lihat saja. Yang pertama kira-kira lima tahun yang
lalu. Kemudian saya kembali ke sana lagi beberapa bulan yang lalu. Sesuai
dengan namanya yang mengandung kata
tirta atau air, pura ini keistimewaannya adalah sebuah kolam yang memiliki
beberapa keran di mana orang bisa berjalan dari satu keran ke keran lain untuk
menyucikan diri. Di tepi kolam tertumpuk berbagai sesajen dan asap mengambang
dari dupa yang dibakar. Menarik sekali menonton orang ramai-ramai nyebur ke
kolam dan antri dengan sabar di depan setiap keran untuk membasuh muka. Mereka
mengenakan pakaian biasa. Mungkin para perempuannya merasa lebih nyaman dengan
pakaian biasa daripada pakaian renang yang serba terbuka. Tapi menurut saya:
Hati-hati kalau berbasah-basah dengan pakaian biasa! Air akan membuat kain baju
lengket di badan dan memperlihatkan semua yang ada di baliknya. Pakaian renang
justru lebih aman karena terbuat dari bahan khusus yang tebal. Nah, pendapat
kamu sekarang berubah kan? Jangan lagi berenang di tempat umum dengan
menggunakan kaos-T apalagi yang berwarna putih!
Pura ini menjadi favorit saya, apalagi sesudah Ken, teman
saya, menceritakan pengalamannya di sana. Ken yang pada waktu itu baru sebentar
tinggal di Ubud ditawari seorang supir sewaan, yang bisa bertindak sebagai
pemandu wisata dan juga sudah dianggap teman, untuk berkunjung ke Pura Tirta
Empul. Kata Pugig, supir tersebut, berkunjung ke pura di hari itu baik sekali
untuk memperoleh peruntungan. Bisnis akan jadi lancar. Ken mengiyakan saja, toh
tidak ada salahnya untuk pergi sekalian berwisata, walaupun sebenarnya dia
harap-harap juga bahwa bisnisnya benar akan jadi lancar. Dibelinya sebuah paket
‘pergi ke Tampak Siring’. Paket itu terdiri dari sehelai sarung sebagai pakaian
yang wajib dikenakan di pura. Disertakan pula sesajen lengkap yang terdiri dari
bunga, janur, dupa, korek api. Di antara bunga-bunga juga terdapat selembar
uang bernilai 10 ribu rupiah. Iya dong, untuk memancing uang umpannya uang
juga, kan :).
Pugig sudah beberapa kali mengantar Ken ke mana-mana. Ken
suka padanya karena, pertama, bahasa Inggrisnya bagus sekali, tidak seperti
banyak supir lain yang kadang tidak jelas maunya apa kalau sudah berbicara.
Selain itu Pugig juga paham konsep privacy,
tidak pernah bertanya yang tidak-tidak yang bukan urusannya. Perjalanan dari
Ubud ke Tampak Siring tidak makan waktu terlalu lama dan mereka asyik ngobrol
sepanjang perjalanan. Sesampai di tujuan Pugig memarkir mobilnya dan hanya
menunjukkan arah pura “di sebelah sana”. Ken agak kaget juga. Dikiranya Pugig
akan menyertainya ke dalam pura. Tapi Pugig mengatakan bahwa dia akan menunggu
di tempat parkir. Menurut pemikirannya, itu adalah sikap yang benar. Sebagai
supir profesional dia merasa tidak pantas untuk ‘menguntit’ pelanggan. Dia juga
selalu menolak ketika ditawari makan bersama. Apa itu sudah jadi kode etik
mereka ya? Semua supir yang mengantar saya ke Denpasar juga menolak ditawari
makan.
Perlu diketahui bahwa ini adalah pertama kalinya Ken pergi
ke pura. Dia tidak tahu pasti apa saja yang terjadi di sana. Dengan agak ragu dia
masuk ke sebuah pelataran. Ketika dilihatnya ada tiga orang laki-laki berjalan
bersama, dia berpikir lebih baik mengikuti mereka saja. Pasti dengan aman akan
sampai di tujuan. Tiga orang ini berbelok ke kiri dan menyusuri jalan setapak yang
menurun. Di sebelah kiri terdapat jurang dalam. Alamnya agak liar dan Ken
berkesimpulan bahwa Tirta Empul adalah sebuah pura tersembunyi yang tidak
diketahui oleh banyak orang. Akhirnya sampailah mereka di tujuan: dua buah
kolam tak beratap. Tempat perempuan dan laki-laki dipisahkan oleh tembok. Setelah
membuka seluruh pakaian dan menumpuknya di lantai, dia mengikuti yang lain
masuk ke dalam kolam. Orang-orang di kolam asyik menyabuni tubuh mereka. Seorang
anak laki-laki kecil yang datang bersama ayahnya melotot memandangi
selangkangan Ken. Matanya seperti mau meloncat keluar. Mungkin ini pertama
kalinya dia melihat seorang bule telanjang. Hahaha! Tapi yang lainnya semua
bersikap sopan walaupun agak heran ada bule bergabung bersama mereka. Merasa
tidak enak hati, Ken memandang berkeliling. Dari balik tembok terdengar suara
tawa dan obrolan para perempuan. Ken bisa melihat sekilas seorang perempuan yang
bertelanjang dada. Jauh di atas sana, di atas tebing terdapat sebuah warung.
Hm, apakah warung itu pasang iklan bahwa ada pemandangan istimewa dari lembah
yang bisa dinikmati sambil makan di sana? Dijamin warungnya pasti laku! :)
Singkatnya, perasaan rikuh karena merasa beda sendiri itu
akhirnya berakhir juga. Dengan lega Ken cepat-cepat mengenakan pakaiannya dan
keluar dari tempat itu lalu menyusuri
lagi jalan setapak yang tadi dilewati. Di ujung jalan dia melihat pintu yang
tadi tidak dilihatnya dan dia masuk ke dalam. Ternyata itu adalah kompleks
pura. Ada beberapa bale, kolam-kolam besar dan indah berisi ikan mas,
gapura-gapura, orang-orang berseliweran dalam pakaian adat aneka warna dan
bersarung. Tempat yang indah. Dengan agak linglung Ken berjalan melihat-lihat
semuanya. Dia mengintip melalui sebuah gapura dan dilihatnya orang-orang berada
di dalam kolam, antri membasuh diri di setiap keran, tertib dan tenang, dan
semuanya … berpakaian lengkap! Langsung kepalanya terasa pusing dan napasnya
jadi pendek-pendek. Setelah agak tenang dia memandang berkeliling. Ada sebuah
kamar ganti di mana orang bisa berganti pakaian sebelum masuk ke kolam. Ken
ingin menitipkan pakaian di kamar ganti dan mengulang ‘ritual’nya tadi dengan
cara yang benar kali ini. Sayangnya tidak bisa, karena harus membayar dan dia
sama sekali tidak bawa uang.
Cepat-cepat Ken berlalu. Sesajen yang dibawanya ditinggalkan
saja di sebuah bale di pojokan. Sampai di tempat parkir Pugig heran melihatnya,
“Cepat sekali selesainya!” katanya. Ken cuma mengiyakan dan mengajaknya pulang.
Dalam perjalanan pulang Ken sama sekali tidak menceritakan pengalamannya.
Hebatnya, Pugig juga tidak bertanya-tanya walaupun jelas terlihat bahwa dia
merasa heran. Memang dia supir jempolan! Kalau kamu pergi ke Bali dan perlu
nomor teleponnya, silakan minta pada saya ya, hehehe.
Ken agak sedih sesudah kejadian itu. Bukan saja dia kuatir
tidak akan beruntung, dia takut semua keberuntungannya yang sudah ada juga akan
hilang. Tapi syukurlah, Tuhan itu ternyata pemaaf karena sampai sekarang
bisnisnya berjalan lancar.
Moral dari cerita ini adalah, mengikuti orang tanpa bertanya
ke mana tujuannya akan mengantarkan kamu ke kamar mandi umum. Yang kedua, pergi
ke tempat ibadah tidak berarti tidak perlu keluar uang. Gara-gara tidak punya
uang untuk sewa locker, nggak jadi
deh dapat berkah. Jadi, berhati-hatilah.