Selasa, 15 Mei 2012

Peristiwa Tampak Siring


Salah satu pura yang terkenal di Bali adalah Pura Tirta Empul yang berada di Tampak Siring. Saya mengunjungi tempat ini hanya sebagai turis, jadi hanya melihat-lihat saja. Yang pertama kira-kira lima tahun yang lalu. Kemudian saya kembali ke sana lagi beberapa bulan yang lalu. Sesuai dengan  namanya yang mengandung kata tirta atau air, pura ini keistimewaannya adalah sebuah kolam yang memiliki beberapa keran di mana orang bisa berjalan dari satu keran ke keran lain untuk menyucikan diri. Di tepi kolam tertumpuk berbagai sesajen dan asap mengambang dari dupa yang dibakar. Menarik sekali menonton orang ramai-ramai nyebur ke kolam dan antri dengan sabar di depan setiap keran untuk membasuh muka. Mereka mengenakan pakaian biasa. Mungkin para perempuannya merasa lebih nyaman dengan pakaian biasa daripada pakaian renang yang serba terbuka. Tapi menurut saya: Hati-hati kalau berbasah-basah dengan pakaian biasa! Air akan membuat kain baju lengket di badan dan memperlihatkan semua yang ada di baliknya. Pakaian renang justru lebih aman karena terbuat dari bahan khusus yang tebal. Nah, pendapat kamu sekarang berubah kan? Jangan lagi berenang di tempat umum dengan menggunakan kaos-T apalagi yang berwarna putih!

Pura ini menjadi favorit saya, apalagi sesudah Ken, teman saya, menceritakan pengalamannya di sana. Ken yang pada waktu itu baru sebentar tinggal di Ubud ditawari seorang supir sewaan, yang bisa bertindak sebagai pemandu wisata dan juga sudah dianggap teman, untuk berkunjung ke Pura Tirta Empul. Kata Pugig, supir tersebut, berkunjung ke pura di hari itu baik sekali untuk memperoleh peruntungan. Bisnis akan jadi lancar. Ken mengiyakan saja, toh tidak ada salahnya untuk pergi sekalian berwisata, walaupun sebenarnya dia harap-harap juga bahwa bisnisnya benar akan jadi lancar. Dibelinya sebuah paket ‘pergi ke Tampak Siring’. Paket itu terdiri dari sehelai sarung sebagai pakaian yang wajib dikenakan di pura. Disertakan pula sesajen lengkap yang terdiri dari bunga, janur, dupa, korek api. Di antara bunga-bunga juga terdapat selembar uang bernilai 10 ribu rupiah. Iya dong, untuk memancing uang umpannya uang juga, kan :).

Pugig sudah beberapa kali mengantar Ken ke mana-mana. Ken suka padanya karena, pertama, bahasa Inggrisnya bagus sekali, tidak seperti banyak supir lain yang kadang tidak jelas maunya apa kalau sudah berbicara. Selain itu Pugig juga paham konsep privacy, tidak pernah bertanya yang tidak-tidak yang bukan urusannya. Perjalanan dari Ubud ke Tampak Siring tidak makan waktu terlalu lama dan mereka asyik ngobrol sepanjang perjalanan. Sesampai di tujuan Pugig memarkir mobilnya dan hanya menunjukkan arah pura “di sebelah sana”. Ken agak kaget juga. Dikiranya Pugig akan menyertainya ke dalam pura. Tapi Pugig mengatakan bahwa dia akan menunggu di tempat parkir. Menurut pemikirannya, itu adalah sikap yang benar. Sebagai supir profesional dia merasa tidak pantas untuk ‘menguntit’ pelanggan. Dia juga selalu menolak ketika ditawari makan bersama. Apa itu sudah jadi kode etik mereka ya? Semua supir yang mengantar saya ke Denpasar juga menolak ditawari makan.

Perlu diketahui bahwa ini adalah pertama kalinya Ken pergi ke pura. Dia tidak tahu pasti apa saja yang terjadi di sana. Dengan agak ragu dia masuk ke sebuah pelataran. Ketika dilihatnya ada tiga orang laki-laki berjalan bersama, dia berpikir lebih baik mengikuti mereka saja. Pasti dengan aman akan sampai di tujuan. Tiga orang ini berbelok ke kiri dan menyusuri jalan setapak yang menurun. Di sebelah kiri terdapat jurang dalam. Alamnya agak liar dan Ken berkesimpulan bahwa Tirta Empul adalah sebuah pura tersembunyi yang tidak diketahui oleh banyak orang. Akhirnya sampailah mereka di tujuan: dua buah kolam tak beratap. Tempat perempuan dan laki-laki dipisahkan oleh tembok. Setelah membuka seluruh pakaian dan menumpuknya di lantai, dia mengikuti yang lain masuk ke dalam kolam. Orang-orang di kolam asyik menyabuni tubuh mereka. Seorang anak laki-laki kecil yang datang bersama ayahnya melotot memandangi selangkangan Ken. Matanya seperti mau meloncat keluar. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat seorang bule telanjang. Hahaha! Tapi yang lainnya semua bersikap sopan walaupun agak heran ada bule bergabung bersama mereka. Merasa tidak enak hati, Ken memandang berkeliling. Dari balik tembok terdengar suara tawa dan obrolan para perempuan. Ken bisa melihat sekilas seorang perempuan yang bertelanjang dada. Jauh di atas sana, di atas tebing terdapat sebuah warung. Hm, apakah warung itu pasang iklan bahwa ada pemandangan istimewa dari lembah yang bisa dinikmati sambil makan di sana? Dijamin warungnya pasti laku! :)

Singkatnya, perasaan rikuh karena merasa beda sendiri itu akhirnya berakhir juga. Dengan lega Ken cepat-cepat mengenakan pakaiannya dan keluar  dari tempat itu lalu menyusuri lagi jalan setapak yang tadi dilewati. Di ujung jalan dia melihat pintu yang tadi tidak dilihatnya dan dia masuk ke dalam. Ternyata itu adalah kompleks pura. Ada beberapa bale, kolam-kolam besar dan indah berisi ikan mas, gapura-gapura, orang-orang berseliweran dalam pakaian adat aneka warna dan bersarung. Tempat yang indah. Dengan agak linglung Ken berjalan melihat-lihat semuanya. Dia mengintip melalui sebuah gapura dan dilihatnya orang-orang berada di dalam kolam, antri membasuh diri di setiap keran, tertib dan tenang, dan semuanya … berpakaian lengkap! Langsung kepalanya terasa pusing dan napasnya jadi pendek-pendek. Setelah agak tenang dia memandang berkeliling. Ada sebuah kamar ganti di mana orang bisa berganti pakaian sebelum masuk ke kolam. Ken ingin menitipkan pakaian di kamar ganti dan mengulang ‘ritual’nya tadi dengan cara yang benar kali ini. Sayangnya tidak bisa, karena harus membayar dan dia sama sekali tidak bawa uang.

Cepat-cepat Ken berlalu. Sesajen yang dibawanya ditinggalkan saja di sebuah bale di pojokan. Sampai di tempat parkir Pugig heran melihatnya, “Cepat sekali selesainya!” katanya. Ken cuma mengiyakan dan mengajaknya pulang. Dalam perjalanan pulang Ken sama sekali tidak menceritakan pengalamannya. Hebatnya, Pugig juga tidak bertanya-tanya walaupun jelas terlihat bahwa dia merasa heran. Memang dia supir jempolan! Kalau kamu pergi ke Bali dan perlu nomor teleponnya, silakan minta pada saya ya, hehehe.

Ken agak sedih sesudah kejadian itu. Bukan saja dia kuatir tidak akan beruntung, dia takut semua keberuntungannya yang sudah ada juga akan hilang. Tapi syukurlah, Tuhan itu ternyata pemaaf karena sampai sekarang bisnisnya berjalan lancar.

Moral dari cerita ini adalah, mengikuti orang tanpa bertanya ke mana tujuannya akan mengantarkan kamu ke kamar mandi umum. Yang kedua, pergi ke tempat ibadah tidak berarti tidak perlu keluar uang. Gara-gara tidak punya uang untuk sewa locker, nggak jadi deh dapat berkah. Jadi, berhati-hatilah.

Kamis, 10 Mei 2012

The Artist


Bahwa Ubud pernah dan masih menjadi rumah bagi para pelukis terkenal atau yang ingin terkenal, semua orang sudah tahu. Nama-nama seperti Arie Smith, Walter Spies, Rudolf Bonnet, I Gusti Nyoman Lempad dan masih banyak lagi dikenal pernah tinggal di Ubud. The Young Artist yang didirikan berpuluh tahun yang lalu masih hidup sampai sekarang dan menjadi satu gaya tersendiri. Papan iklannya berdiri di tikungan yang mengarah ke Penestanan, dengan megah mengumumkan keberadaannya. Rasanya tidak enak juga bahwa sesudah tujuh bulan tinggal di Ubud saya hanya pernah mengunjungi Museum Puri Lukisan dan Museum Antonio Blanco, padahal masih banyak museum lain. Akan tetapi, kalaupun tidak berniat mengunjungi museum, menemukan lukisan di sini sangat mudah. Lukisan ada di mana-mana. Jalan-jalan saja di kota Ubud atau desa-desa sekitarnya, macam-macam studio lukisan memajang karyanyanya dalam berbagai macam gaya.

Saya beruntung mengenal secara pribadi seorang pelukis di Ubud. Saya sebut saja dia The Artist. Saya tahu bagaimana lukisannya disiapkan dan dikerjakan. Pertama, memotong kanvas dari gulungan sebesar karpet dan kemudian merentangkannya pada rangka kayu . Ini merupakan pekerjaan yang cukup berat karena ukuran lukisannya cukup besar. Sudut kanvas tidak boleh longgar. Cuaca yang tepat perlu diperhatikan ketika melakukan pekerjaan ini, bisa-bisa kanvas memuai dan kendor nantinya. Berbagai alat pertukangan diperlukan dalam proses ini. Catok, palu, stapler khusus kayu, dsb. Saya rasa seorang perempuan pelukis lebih suka memesan kanvas yang sudah terentang pada rangka daripada mengerjakannya sendiri. Setelah dipasang pada rangka, kanvas perlu diamplas untuk menghilangkan benang-benang halus yang mencuat yang hanya bisa dilihat oleh kaca pembesar.

Barulah kanvas siap dilukis. Diambilnya kuas besar yang dicelupkan pada cat dan minyak, kemudian disapukan dari kiri ke kanan. Warnanya merah muda, oranye dan ungu. Jadilah langit sore hari menjelang matahari terbenam, tapi masih dalam bentuk kasar. Saya paling suka menonton bagian ini, karena tiba-tiba saja kanvas yang tadinya kosong jadi menggambarkan sesuatu hanya dalam beberapa kali sapuan kuas. Kelihatannya mudah. Saya ingin mencoba, tapi dia bilang ini pekerjaan berat, tidak cocok untuk saya kalau tangan sedang sakit.

Namun kalau kuas yang digunakan kecil, untuk membuat goresan pendek-pendek untuk melukiskan riak laut di kejauhan misalnya, saya tidak bisa lagi menahan diri. Walaupun memegang kuas saja kaku, saya berhasil membujuknya agar diijinkan mengoleskan kuas pada cat dan kemudian mencelupkannya pada minyak. Lalu, sret, sret, sret, saya membuat goresan kecil-kecil di kanvas. Tidak gampang ternyata. The Artist langsung berseru, “Hebat sekali! Luar biasa!” Langsung disambarnya kuas dari tangan saya. “Cukup untuk hari ini. Sebaiknya kamu melakukan pekerjaan lain. Menulis misalnya?” Hm, nyindir ya. Ditimpanya goresan yang sudah saya buat dengan warna lain. Tapi ujungnya masih disisakan sedikit. Nanti, goresan yang saya buat ini akan menjadi bagian dari lukisannya juga, dikirim ke galeri di Singapura, dan bisa saja dibeli dan dipasang di sebuah rumah di Australia. Numpang terkenal ah.

Kehidupan seorang pelukis tentu erat hubungannya dengan warna. Mereka punya cara sendiri untuk menerangkan warna yang bisa membuat saya terbengong-bengong. Untuk mata misalnya, dia tidak akan mengatakan warna mata saya hitam. Dia bilang mata saya berwarna hitam dan kuning (maksudnya? Loreng-loreng seperti harimau?) dengan semburat ungu. Wah! Bingung dengarnya. Tapi saya maklum, artinya warna-warna inilah yang akan digunakannya kalau diminta melukis mata saya. Pernah dia mengatakan sebuah kursi plastik berwarna hijau. Buat saya, kursi itu warnanya putih. Tapi kalau ditanya lebih jelas, saya akan mengatakan bahwa warna kursi itu adalah putih kalau berada di tempat yang terang dan dilihat dari dekat. Kalau kursi berada di tempat yang agak gelap, apakah masih akan putih? Bagi saya iya, karena saya tahu warnanya putih. Tapi mata yang jujur akan mengatakan bahwa warnanya kehijauan dan abu-abu gelap kan?

Juga, ketika dia baru beli kaca mata hitam, dia bilang gagangnya berwarna hijau. Agak kaget saya. Selama ini dia tidak menunjukkan tanda-tanda perilaku eksentrik, kenapa tiba-tiba beli kaca mata warna hijau? Jangan-jangan nanti dia pakai sepatu kuning dengan kaus kaki merah muda, seperti yang pernah saya lihat dipakai oleh seseorang. Ternyata ketika kaca mata itu diperlihatkan, warna gagangnya coklat konvensional. Memang tidak coklat sekali, dan memang benar, ada sedikit campuran warna hijaunya kalau dilihat dengan lebih teliti. Bagi saya ya coklat saja, bukan hijau.

Yang paling asyik adalah melihat-lihat peralatan melukisnya. Perempuan yang paling suka dandan yang saya kenal pun kalah oleh dia menyangkut jumlah koleksi botol dan kuas. Botol milik The Artist macam-macam jenisnya, besar dan kecil. Kuasnya saja lebih dari seratus! Mulai dari yang sehalus ujung rambut sampai yang sebesar kuas tembok, bahkan lebih besar lagi. Ujung kuas ada yang rata, miring, melengkung, seperti kipas, berantakan panjang-pendek, dan lainnya. Sedangkan si centil hobi dandan itu cuma punya lima kuas dan sikat: untuk bibir, untuk pipi, untuk alis, untuk muka, untuk bulu mata.

The Scream
Kalau selama ini saya kira pelukis cuma perlu cat dan minyak selain kuas, saya salah besar. Botol milik The Artist lengkap berisi serbuk baik halus maupun kasar bahkan besar-besar seperti kerikil atau gula batu. Kemudian ada yang berbentuk jeli serta cairan baik encer maupun kental. Menurut label yang tertera, itu adalah dammar, raw sienna, mica, stand oil, linseed oil, poppy oil, umber, liquin, safe-gel, rabbit skin glue (benar, ini dibuat dari kulit kelinci!) dan sebagainya. Bahan-bahan itu ada yang dicampurkan pada cat atau sebagai lapisan yang digunakan untuk menguatkan kanvas, mengilapkan cat, membuat lukisan tahan lama, mempercepat cat kering atau justru melambatkan proses pengeringan karena cat yang terlalu cepat kering akan jadi retak-retak. Ada bubuk yang kalau dibubuhkan akan kelihatan seperti butiran pasir. Pintar juga, karena ini jauh lebih mudah daripada melukis butir pasir satu per satu.

Melihat dia melukis selalu menimbulkan penyesalan pada diri saya kenapa saya tidak punya bakat seni sedikit pun, ya. Entah itu menyanyi, menari, main musik, atau menggambar. Berita paling gres dari dunia seni rupa adalah terjualnya sebuah lukisan berjudul The Scream dengan harga hampir 120 juta dolar AS! Padahal lukisannya tidak terlalu besar, dengan menggunakan pastel di atas kertas. Melihat gambarnya yang cuma coret-coret begitu saya yang orang awam jadi berpikir jangan-jangan sebenarnya saya bisa juga membuat lukisan? Tinggal gores sana gores sini, seratus tahun kemudian anak-cucu saya bisa jadi milyarder mendadak. Hehehe.



Website The Artist: http://www.paulscottartist.com

Kamis, 19 April 2012

Dokter Belajar Mendengar


Sakit punggung, leher, dan bahu selama hampir dua bulan, menulis terpaksa dikurangi jadi seminimal mungkin. Lalu, melakukan apa saja selama itu? Terus terang, saya bisa jadi orang yang sangat sulit kalau sedang sakit. Merasa diri orang yang paling sengsara di dunia. Marah kalau tidak ada orang yang mau mendengar keluhan, tapi semakin marah kalau orang memberi saran tidak sesuai dengan yang diinginkan. Singkatnya, orang harus mendengarkan dengan perhatian, menunjukkan simpati secukupnya, dan membenarkan semua pandangan saya. Kalau mau memberi saran, sarannya harus sesuai dengan yang saya inginkan. Sama sekali tidak boleh mengecilkan penderitaan saya atau membantah. Hehehe.

Akhirnya, saya pergi juga ke dokter spesialis di Denpasar minggu yang lalu. Kata dokter sih cedera lengan bertahun-tahun yang lalu memang berpengaruh, tapi tidak usah dibahas lagi (padahal ini topik favorit saya kalau sedang ingin mendapatkan simpati!) karena sudah terlalu lama kejadiannya. Sikap tubuh ketika sedang mengetik perlu diperbaiki, meja-kursi harus ergonomis, sering melakukan peregangan, berhenti bekerja kalau sudah terasa sakit. Ah, itu sih semua saya sudah tahu. Yang baru adalah, cara bernapas saya juga harus diperbaiki karena yang saya lakukan terlalu banyak membuang CO2 dari sistem tubuh sehingga otot-otot menjadi terlalu peka. Oke deh Dok, siap laksanakan!

Mari kita melakukan kilas-balik ketika saya harus memilih dokter. Karena saya tidak tahu dokter mana yang bagus, juga tidak tahu harus tanya pada siapa, yang saya pilih adalah RS Sanglah. Rumah sakit pusat milik pemerintah adalah rumah sakit rujukan, walaupun layanannya kurang bagus, di sanalah tempat berkumpulnya para ahli. Pernah saya ke rumah sakit bertaraf internasional beberapa bulan yang lalu. Pelayanannya bagus sih, tapi… dokternya muda banget! Jangan-jangan baru lulus minggu yang lalu. Hehehe. Jadi, begitu ada kesempatan ke Bandung, segera saya konsultasi dengan dokter kepercayaan saya. Dan, benar saja kan, pertanyaan saya terjawab tuntas dan ada hal baru yang justru merupakan kunci masalah yang tidak terdeteksi oleh dokter-dokter muda. Ini menurut pengalaman saya lho….

Ternyata RS Sanglah punya bagian yang dinamakan International Wing. Wah bagus nih, pikir saya. Sudah dokter bagus, layanan juga bagus. Ketika ditelepon resepsionisnya memberi pilihan tiga orang dokter. Mau yang mana? Langsung saya jawab, saya mau dokter yang tidak terlalu sibuk, yang punya waktu cukup untuk pasiennya. Dia menjawab, akan memberi kabar sebentar lagi karena ingin memastikan dokternya punya waktu atau tidak. Dan jadilah! Waktunya ditentukan untuk besok, tepat jam setengah sebelas. Resepsionis berkali-kali mewanti-wanti supaya saya tidak datang terlambat.

Kalau saya terlalu cerewet mengenai dokter, itu adalah hasil dari berbagai pengalaman berhubungan dengan dokter yang sering membuat saya mengelus dada. Ambil contoh adik saya. Adik saya juga menderita sakit punggung dan pinggang, tapi itu karena kelainan tulang punggung. Dia pergi ke Dr X, ditanya sebentar keluhannya, diberi resep, disuruh melakukan tes ini-itu. Adik saya sakit hati, dokternya pelit senyum dan penjelasan. Padahal tarifnya mahal! Akhirnya dia pergi ke Dr Y. Ketika Dr Y tahu bahwa adik saya sudah pergi ke Dr X, dia kaget. Katanya, Dr X adalah seniornya, mestinya kalau sudah ke Dr X tidak perlu lagi datang ke dia. Adik saya menjelaskan bahwa Dr X sama sekali tidak komunikatif dan tidak memberi penjelasan apa-apa, padahal itu kan punggungnya. Kalau mau diapa-apakan, ya harus tahu dong apa yang dilakukan orang pada punggung satu-satunya itu. Karena dokternya memang bagus, akhirnya adik saya kembali ke Dr X, dan mengatakan terus-terang bahwa dia menginginkan penjelasan penuh, dan sebabnya dia pergi ke dokter lain karena penjelasan yang lalu tidak memuaskan. Barulah Dr X berubah sikap. Hehehe, kalau semua pasien seperti ini dokter-dokter pasti buru-buru menyelenggarakan kongres luar biasa!

Kembali ke masalah saya, apakah saya puas dengan dokter dan RS Sanglah? Pertama saya menunggu cukup lama. Masalahnya, dokternya baru siap jam sebelas. Kenapa saya harus datang jam setengah sebelas? Jawabnya, karena orang Indonesia suka ngaret dan belum terbiasa membuat janji terlebih dahulu kalau ingin berobat. #Keluh#. Lalu bagaimana nasibnya dengan orang yang datang tepat waktu, bahkan lebih awal, karena saya sudah sampai di sana jam sepuluh? Si Mas cuma mesem-mesem. Oke, lain kali kalau disuruh datang jam sebelas saya akan tanya itu jam sebelas benar-benar, atau dikurangi?

Waktu masuk ke ruangan dokter, saya lihat dokternya bertampang loyo dan acuh tak acuh. Mau dokter yang ramah menyapa duluan, bahkan mempersilakan sendiri pasien masuk? Jangan mimpi, ini Indonesia woy! Saya sendiri punya perasaan dokter yang menangani saya adalah dokter yang berpengalaman, tapi ya begitulah… dia malas mendengar pertanyaan saya yang cerewet dan malah mendengus menghina. Saya tetap ngenyel, terus bertanya walau diremehkan. Maklum, masalah ini sudah tahunan, sekarang paling parah. Bagaimana kalau saya tidak bisa kembali normal? Jadi saya terus saja tanya dan akhirnya dia mau juga berpanjang-lebar walaupun harus dipancing dulu. #Duh#. Jadi, kalau mau dokter-dokter Indonesia berubah, kitalah yang harus berubah duluan! Tanya terus, pakai saja muka tembok kalau memang masih penasaran. Tapi, saya mendengarkan dengan hormat kok pada saat dia memberi penjelasan. Ya, sama-samalah…

Menunggu untuk membayar tarif dokter sekaligus menebus resep cukup lama juga. Dari dua macam obat, satu tidak tersedia. Bukan masalah, karena saya bisa beli di tempat lain. Masalahnya adalah, salah satu obat itu membuat jantung saya berdebar sangat keras. Setelah ditunggu 24 jam masih juga sama, saya menelpon dokter. Instruksinya adalah supaya saya pergi ke apotek agar obat racikan itu dibuka kapsulnya, dan satu kapsul dibagi menjadi dua agar dosisnya menjadi setengahnya. Pergilah saya ke Kimia Farma karena itu adalah apotek yang terbesar dan karena apotek di RS Sanglah juga Kimia Farma. Saya terangkan pada Mbak yang sedang jaga tentang masalah saya. Jawabnya, tidak bisa, pergi saja ke apotek di mana obat itu disiapkan. Heh, apa-apaan ini. Saya harus ke Denpasar lagi? Alasannya mereka tidak meracik obat. Lho, kalau ada resep racikan, apa tidak dilayani, tanya saya. Jawabannya berubah, katanya kami meracik cuma untuk obat bayi. Astaga…. Langsung saya balik kanan. Kepada Aryo yang mengantar saya berkata keras-keras, “Dia nggak mau! Katanya, balik aja lagi ke Denpasar.” Hehehe. Terus-terang, saya emosi waktu itu.

Akhirnya pergilah saya ke apotek kecil dekat rumah. Yang jaga seorang bapak paruh baya yang tidak tahu banyak. Tapi dia bersedia menelpon apotekernya yang kemudian memberi instruksi. Jadilah kami berdua, saya dan bapak itu, membukai kapsul satu per satu, membagi serbuk jadi dua, dan membungkusinya dengan kertas kecil-kecil karena mereka tidak punya kapsul kosong.

Sekarang saya cuma bisa berdoa sambil menunggu. Ternyata, walaupun obatnya sudah dibagi dua, jantung saya masih berdebar kencang, jadi saya cuma makan obat dua kali dari seharusnya tiga kali sehari. Kalau begini terus, kapan sembuhnya ya? Itu dosis sudah jauuuh dari yang seharusnya. :(

Rabu, 21 Maret 2012

Mendadak ke Dapur


Waktu masih tinggal di Bandung dapur adalah ruangan di rumah yang paling jarang saya kunjungi. Kalau pun masuk ke sana, itu cuma untuk merebus air untuk membuat teh atau memasak indomie. Ruangan favorit saya, selain kamar tidur dan ruang kerja tentunya, adalah… ruang makan. Kalau sudah bosan santai-santai di kamar dan perut merasa lapar sedangkan waktu makan masih lama, datang saja ke meja makan, terus layani diri sendiri dengan mencomot apa saja yang ada di sana. Kalau ternyata meja makan kosong, ya coba saja buka pintu lemari makan yang tidak jauh dari sana. Dijamin selalu ada yang bisa dilihat, dipilih dan dibawa ke ruang tidur atau tempat kerja untuk dimakan diam-diam. Nyam, nyam, nyam.

Sekarang saya harus menyiapkan makanan sendiri. Turun ke dapur jadi wajib hukumnya. Yang paling malas adalah merencanakan apa yang harus dimakan. Bingung, masa makan itu-itu lagi? Padahal perbendaharaan hidangan yang bisa saya masak sedikit sekali. Tapi paling tidak, dari tiga kali jadual makan, sarapan pagi selalu memberi saya ketenangan. Berbulan-bulan tidak pernah berubah, tapi tidak pernah bosan. Toast, mentega, dan selai stroberi. Saya punya prinsip bahwa makan pagi itu harus sempurna, soalnya ini akan menentukan mood kita sepanjang hari. Saya punya roti langganan yang enak sekali. Selai stroberi harus dari merek yang sama, biar agak mahal tidak apa-apa, yang penting rasanya mantap. Mentega bisa dari merek apa saja, asalkan mentega, bukan margarin. Kadang-kadang selainya saya ganti dengan alpukat yang dilumatkan. Mm, rasanya selangit!

Untuk menyederhanakan urusan perut ini, saya akhirnya membuat rumusan sendiri. Makan siang harus banyak sayurnya dan gampang menyiapkannya. Biasanya selalu ada salad, telur, tempe-tahu. Makan malam baru agak sulit, daging, ikan, ayam, atau apalah. Dari beberapa kali trial and error saya berhasil membuat rendang a la saya sendiri. Pertama, daging direbus sampai hampir matang. Kemudian diiris tipis-tipis. Tipis di sini adalah kuncinya, supaya daging bisa empuk dalam waktu singkat. Kemudian digoreng dengan minyak minimal, dituangi bumbu kari merah yang dibeli jadi di pasar swalayan, aduk-aduk, beres deh. Rasanya tidak kalah dengan rendang di restoran padang. Adik saya yang diceritai cuma geleng-geleng kepala, katanya nenek kami bisa bangkit dari kubur kalau mendengar saya membuat rendang seperti itu. Haha!

Saya baru saja membuat hidangan yang menurut saya cukup enak. Rempela ayam direbus sampai empuk, kaldunya jangan dibuang, beri santan instan, beri bumbu kari merah. Kemudian masukkan bayam. Saya cicipi, hm enak juga. Baru saat-saat terakhir terpikir untuk mencampurkan ayam bumbu kari kuning sisa makan semalam. Sesudah dicampur warna merahnya sedikit memudar, tapi rasanya tetap enak. Hihihi, dapat resep baru! Saya punya firasat bahwa bumbu jadi kari merah dan kari kuning akan menjadi sahabat saya untuk selanjutnya. Praktis sekali, tidak perlu menggiling atau mengiris bumbu, bahkan tidak perlu bisa membedakan mana jahe mana kunyit, mana merica mana ketumbar, mana lengkuas mana kencur.

Saya bukannya tidak pernah mencoba membuat masakan dengan menggunakan bumbu segar yang diulek sendiri. Dipandu beberapa resep yang diberi adik saya, saya membeli berbagai umbi, eh kalau tidak salah sebutannya adalah rimpang, yang aneh-aneh tadi. Terpaksalah saya beli ulekan di pasar. Dan ternyata itu semua merepotkan! Saya masak cuma sedikit, menggiling pakai ulekan repot dan kebanyakan cuma mengotori batu ulekannya. Apalagi kalau pakai blender. Sudah repot mencuci blender, eh hasil yang didapatkan cuma bumbu sebanyak satu sendok teh. Akhirnya semua rimpang tadi saya biarkan saja sampai tumbuh akarnya dan akhirnya saya tanam di dekat pagar. Sekarang sudah tumbuh dengan subur. Mungkin bakat saya berkebun, bukan memasak :).

Beli bawang merah dan putih lebih gawat lagi. Karena belinya di pasar swalayan, saya harus membeli dalam jumlah banyak, mungkin setengah kilo masing-masing. Baru digunakan sekali masak, saya malas dan lebih suka pergi ke restoran padang saja daripada masak sendiri. Dan terlupakanlah bawang-bawang itu di lemari dapur selama berminggu-minggu. Tiba-tiba saja pada suatu hari saya teringat lagi. Dengan berdebar-debar saya buka kotaknya, jadi apa ya, apakah sudah ada akarnya? Jauh di lubuk hati yang terdalam, rasa kuatir saya sebenarnya melebihi itu. Dan benar saja, begitu saya buka, baunya… ya Tuhan, adakah bau yang lebih busuk dari ini? Dasar kotak sudah berair, dan pinggirnya dipenuhi makhluk keci-kecil yang tidak berani saya periksa untuk menentukan apa jenisnya. Dengan tekad kuat saya memaksakan diri membersihkan dan membuang itu semua—untung saja tidak sampai muntah. Sejak itu saya sadar bahwa lebih baik saya berteman dengan bumbu-bumbu jadi saja.

Yang saya kangeni sesudah lima bulan tinggal di Ubud adalah masakan Sunda. Saya sering mengeluh, kenapa sih orang Sunda tidak suka merantau dan buka restoran di sini? Jadinya tiap hari saya selalu membayangkan masakan yang enak-enak. Pada saat genting seperti itu teman saya Lusi yang tinggal di Australia mengirim surel yang mengabarkan dia baru makan di restoran Indonesia. Seakan-akan ingin memanas-manasi, dia cerita baru makan paha ayam bakar, nasi uduk, ati, ampla, babat goreng, kangkung, tahu-tempe goreng, sambel lalapan, sate ayam, dan es cendol. Lho, dia yang tinggal di negeri orang kok malah dia yang bisa makan-makan seperti itu? Makanya, begitu ada kesempatan pulang kampung ke Bandung beberapa minggu yang lalu cepat-cepat saya makan batagor, gurame bakar, oseng leunca, es cincau, es cendol, baso yamien, baso tahu, bubur ayam, kupat tahu, yogurt cisangkuy, mie kocok setiabudi, lotek, pempek. Sebenarnya itu belum lengkap tapi karena liburan cuma sepuluh hari itu semua saya pandang lebih dari cukup. Bandung memang surganya untuk jajanan!

Sekarang ini saya lagi pingin sekali sup sayuran plus ayam. Resepnya sudah ada, tapi ya itu tadi, bumbu yang diperlukan aneka macam.  Ada tidak ya bumbu sup siap pakai?