Beberapa
tahun yang lalu waktu rekan kerja saya yang orang India bilang bahwa pacarnya
tidak disukai orang tuanya gara-gara kastanya lebih rendah, saya mendengarkan
saja dengan terbengong-bengong. Waktu itu di tempat kerja saya ada beberapa
orang Indianya. Dalam dua tahun saya sudah punya empat rekan kerja orang India,
semuanya perempuan. Yang satu sudah saya ceritakan tadi, pacarnya tidak
disetujui. Yang tiga lainnya menikah di usia muda, semuanya dijodohkan oleh
orang tua, dan ketiga-tiganya pernah merasa kalut karenanya. Bagaimana
keadaannya sekarang? Semuanya sudah memaafkan ‘pemaksaan’ dulu itu dan sekarang
cukup bahagia dengan suami masing-masing. Tapi yang seorang mungkin belum
benar-benar lupa, sehingga berjanji untuk tidak menghalangi-halangi putrinya untuk
pacaran dan menikah dengan siapa pun yang disukainya. Sedangkan yang satu lagi
percaya bahwa perjodohan adalah sebaik-baiknya cara, meskipun dulu dia resah
harus pergi dari India pada awal umur dua puluhan untuk menikah dengan
laki-laki yang, walaupun sebangsa, tinggal nun jauh di seberang lautan.
Bayangkan, pergi dari negerinya sendiri ke negara yang tidak dikenal untuk
menikah dengan laki-laki yang tidak dikenal juga. Sepertinya mengerikan.
Buat
kebanyakan orang Indonesia, sistem kasta bukan hal biasa. Dan perjodohan adalah
salah satu cara menghindari perkawinan dengan orang yang kastanya tidak
diharapkan. Lalu apakah di Bali sistem ini masih diterapkan? Setelah agak lama
pergi ke luar kota, pulang-pulang saya mendapati seorang gadis baru yang akan
bekerja di bawah pengawasan saya, yang sudah bergabung dengan Widiya beberapa
lama. Namanya Candra. Tapi semua orang memanggilnya Dewa Ayu. “Gimana kalau
panggilannya Dayu saja?” saya mengusulkan. Dewa Ayu cuma tertawa, dan itu
artinya tidak. Hush. Lain kali hati-hati sebelum menyingkat nama orang, ya,
saya mengingatkan diri sendiri. Perasaan saya bilang, nama Dewa Ayu itu hanya
dimiliki oleh kasta tinggi. Karena itu sesudah kenal lebih dekat saya
menanyakan apa kastanya. Ternyata kastanya adalah Brahmana, kasta pendeta, dan
kakeknya adalah seorang pemangku
(pendeta). Dewa Ayu santai-santai saja bahwa dia tidak bisa bergaul dengan
sembarang cowok dan menikah nanti juga harus dengan yang sama kastanya. Susah
lho, karena persentase kasta ini kecil sekali. Perjodohan adalah jalan
keluarnya.
Suatu hari
Widiya minta ijin untuk menghadiri pesta perkawinan temannya. Karena tahu
kebiasaan di Bali, saya tanya, “Temannya sudah hamil belum?” “Sudah doong,”
jawab Widiya. Memang itu kebiasaan di sini, bulan madunya duluan, baru upacara
pernikahan menyusul. Tidak perlu malu kalau menikah dalam keadaan hamil. Buku Island of Bali karangan Covarrubias diterbitkan
pertama kali pada 1937 namun masih menjadi referensi meyakinkan tentang Bali
sampai hari ini. Digambarkan dalam buku ini, seorang pemuda Bali harus
melarikan gadis pilihan hatinya. Begitu hilangnya gadis ini diketahui, sang
ayah memukul kentongan agar orang-orang desa berkumpul. Ayah bertanya adakah
yang tahu siapa yang membawa lari putrinya? Tentu saja semua bilang tidak.
Kemudian regu pencari dibentuk untuk menemukan gadis itu. Dengan bersemangat
semua orang sibuk mencari dan tidak ketemu, karena mereka tidak mau mencari di
tempat yang benar. Orang tua gadis itu tahu, semua orang tahu dengan siapa
gadis itu sekarang, tapi memang begitu aturannya. Semua orang gembira dengan
permainan ini. Sementara itu kedua sejoli hidup dalam persembunyian. Seru, ya.
Namun itu
adalah kebiasaan dalam kasta pekerja atau kasta Sudra. Seorang gadis bangsawan
pantang berkelakuan liar seperti itu dan dia dijaga ketat sampai hari
perkawinan tiba. Widiya juga bilang bahwa sekarang tidak perlu lagi para
pasangan yang sedang kasmaran ini melarikan diri. Sang pemuda meminta ijin
untuk membawa gadisnya kabur. Duh, gimana sih, masa kawin lari pakai minta ijin
segala? Begitulah akibat dari perkembangan zaman. Adat lama jadi berkurang
serunya. Tidak ada kentongan, tidak ada ribut-ribut, tidak ada ketegangan
pura-pura. Perkembangan zaman juga yang melonggarkan pemisahan jenis pekerjaan.
Sekarang bisa saja seorang karyawan berkasta Kesatria, sedangkan bosnya dari
kasta Sudra.
Browsing saya di internet menginfokan bahwa
kasta di Bali tidak seketat di India. Kasta Bali adalah pembagian jenis
pekerjaan yang dimulai pada abad 14. Tapi saya tidak ingin tahu terlalu dalam,
nanti kalau ketemu seorang Ida Bagus, Cokorda, atau Desak, bisa-bisa saya terus bertanya-tanya harus bersikap seperti apa. Lebih baik bersikap sebagai
orang luar saja yang tidak tahu apa-apa, hehehe.
Tentang
kasta ini, saya baru baca sebuah artikel tentang daerah di Bali yang hampir
tidak mengenal perbedaan kasta. Mereka adalah suku Bali Aga, yang sudah
mendiami Tenganan sejak sebelum agama Hindu datang. Memang di Bali ini banyak
ragam adat dan budayanya yang sering berbeda dari satu daerah dengan daerah
lain. Ngaben dilaksanakan di seluruh Bali? Tidak. Ada daerah yang mengubur
orang mati atau hanya meletakkannya di atas tanah. Barong selalu berbentuk
singa? Tidak. Ada barong yang berwujud celeng, macan, dan naga. Semua keluarga
Bali tinggal di kompleks keluarga besar? Tidak. Ada daerah yang mempunyai
kebiasaan setiap keluarga inti tinggal terpisah.
Waktu pergi
ke Singaraja mobil kami tertahan karena ada pawai ondel-ondel. Yak betul, pawai
ondel-ondel. Sopir saya tidak bisa
bercerita banyak mengenai ondel-ondel ini, bahkan tidak tahu namanya dalam
bahasa Bali karena boneka yang mirip dengan milik orang Betawi itu tidak ada di
derahnya. Tapi dia tidak merasa heran seperti saya yang bolak-balik protes,
“Kok ada ondel-ondel di Bali?” Setiap daerah punya kebiasaan masing-masing,
tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, walaupun semuanya itu adalah
bagian dari upacara agama. Pelajaran penting untuk sementara orang yang suka
ribut-ribut soal perbedaan, hehehe. (Catatan: lama sekali saya baru tahu bahwa ‘ondel-ondel’
itu adalah barong juga!).
Saya selalu
menanti hal-hal baru. Setelah beberapa malam terdengar suara gamelan sayup-sayup
yang bersumber dari pura yang didirikan di lembah dekat aliran sungai, Kadek
bilang nanti malam pemangku akan menghidupkan roh orang mati. Saya sangat
tertarik untuk nonton walaupun sadar bahwa mungkin kejadiannya tidak akan
sengeri yang dibayangkan. Tapi acaranya baru berakhir sekitar jam dua pagi dan
tidak seorang pun diperkenankan meninggalkan tempat sebelum acara selesai.
Tidak ada yang mengawasi pintu keluar, tapi orang yang berusaha kabur langkah
kakinya akan terasa berat sehingga tidak bisa pergi, Kadek menerangkan. Jadi,
saya batal pergi. Sayang, padahal acara ini jarang diadakan.
Waktu sedang
beres-beres lemari saya menemukan baju terusan yang sudah lama tidak dipakai. Baju
ini baru dipakai sekali untuk foto bersama di studio. Saya suka sekali baju
ini, motifnya batik berbunga. Sejak di toko baju ini sudah kekecilan tapi saya
maksa beli karena suka model dan coraknya dan yakin bisa menurunkan berat badan
dua atau tiga kilo. Mudah ditebak, niat saya yang begitu mulia ini tidak pernah
kesampaian, sampai akhirnya keputusan berat harus diambil: berikan baju ini
kepada orang yang lebih pantas memakainya yang tidak harus berjuang
mengempiskan perut sambil loncat-loncat supaya baju ini bisa masuk. Pilihan
saya jatuh pada Dewa Ayu, karena kelangsingannya yang membuat iri itu.
Spontan saja
saya membentangkan dan mengangkat baju itu supaya terlihat oleh Dewa Ayu. Dewa
Ayu menolak, dan mukanya bereaksi seakan-akan saya sudah mengatakan sesuatu
yang tidak pantas. Aduh, jangan-jangan saya salah lagi, ya. Saya biasa memberi
dan menerima baju di antara teman-teman kalau memang suka bajunya. Mungkin
memberi baju bekas itu tidak sopan? Tapi ini bajunya bagus kok, hampir baru
lagi. Oh, ya sudah. Mungkin Dewa Ayu tidak suka modelnya, mungkin saya yang
harus lebih peka dan belajar mana yang boleh dan tidak boleh dikatakan. Sampai
sekarang baju itu masih ada di lemari, dan saya memperbarui niat untuk bisa
turun dua atau tiga kilo. Doakan, ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar